
Ajeng gugup, ia terkunci tidak bisa melarikan diri, Ferland mendorong tubuh Ajeng hingga kini tubuhnya berada dibawah tubuh Ferland.
Tangan Ferland memegang kedua tangan Ajeng.
Ajeng berontak hingga baju handuknya terbuka, hingga menampakkan dia gundukan indah miliknya.
"Teruslah, agar aku dapat melihatnya." Bisik Ferland.
"Minggir," Bentak Ajeng.
"Jangan macam-macam kau Ferla....Hhmmmpppfftttt"
Ferland mencium bibir Ajeng, mengeksplor mulut Ajeng dengan buas, Ajeng tersenggal seperti akan kehabisan nafas, namun Ferland tidak melepaskan ciumannya, tapi kini Ferland memainkannya dengan lembut, tangan Ferland mulai menyusuri lekuk tubuh Ajeng, tubuh Ajeng kaku, ingin berontak namun Ferland begitu kuat menguncinya hingga habis tenaga Ajeng tidak kuat untuk kembali berontak, ia pasrah dengan Ferland yang kini leluasa menggerangiyanginya.
"Beriklan hakku." Bisik Ferland sambil menciumi Ajeng, air mata Ajeng tumpah, ia mengingat William, malam ini ia menghianati cinta William.
Ferland terus menggerayangi tubuh Ajeng, memainkan dengan sesuka hatinya, Ajeng masih terus memberontak, namun tenaganya kalah dengan kekuatan Ferland.
Sampai akhirnya Ferland membobol mahkota Ajeng, Ajeng meringis menahan sakit, Ferland yang melihat Ajeng menahan sakit dan menangis lalu menciumi Ajeng, mencium bibir Ajeng sambik melakukan hakknya.
Ajeng pasrah, Ferland menghentakkan lebih dalam dan kuat aktifitasnya.
"Aakkhhhhhh" Pekik Ajeng menahan sakit sentuhan terakhir Ferland dan seketika ambruk diatas tubuh Ajeng dengan peluh yang menetes sambil menciumi lembut Ajeng.
Lama Ajeng mengumpulkan tenaga, mendorong Ferland dari tubuhnya.
Ia mencoba berdiri, begitu sakit ia rasakan di daerah sensitifnya.
Ferland tersenyum penuh kemenangan, ia bangkit duduk di tepi ranjang, menatap Ajeng dengan tatapan aneh.
Ferland mencoba meraih tangan Ajeng, namun *BUUKKKK* *BUUKKKK* *BUUUUKKKKK*
Ajeng menghajar Ferland, menonjok nya di wajah Ferland hingga keluar sedikit darah dari sudut bibir Ferland, dan ia sendiri merasakan sakit di tangannya.
"Brengs*ek! Pergi kau!" Hardik Ajeng dengan sudut matanya yang basah, Ferland hanya tersenyum, tidak dia duga Ajeng benar-benar menepati ucapanya untuk menghajarnya.
Melihat Ferland masih duduk, Ajeng menyeretnya keluar dari kamarnya.
Ajeng mengguyur dirinya, ia berkali-kali membenamkan dirinya di bathtub, menggosok tubuhnya yang telah terjamah oleh Ferland. Ia menangis, betapa hancur hatinya telah menghianati William.
Setelah lama berendam dan menggosok tubuhnya, Ajeng terlelap dalam tangisnya.
__________
Semakin hari Ajeng semakin menjauhi Ferland dan Stevy, Stevy kini sangat membencinya setelah ia mengetahui bahwa Ferland sudah menyentuh Ajeng.
Sementara Ferland merasa bersalah telah melakukannya, memaksa Ajeng untuk memberikan hakknya.
Jangankan menjawab pertanyaan Ferland, bahkan sepertinya Ajeng tidak menganggap Ferland dan Stevy ada di rumah itu.
Pulang pergi Ajeng asik dengan dunianya sendiri, menghabiskan waktunya sendiri tanpa peduli ocehan Ferland yang mengaturnya.
Ferland semakin merasa bersalah dengan Ajeng.
--
Ajeng mengajak William menonton bioskop, saat hendak masuk, Ajeng melihat Stevy sedang bersama pria bule.
"Eh Will,,," Menarik tangan William.
"Liat deh, bukannya itu Stevy?"
William melihat ke arah telunjuk Ajeng.
"Alexander." Gumam William.
"Eh iya itu mantan bos gue, Alexander, kok mesra, apa Stevy itu..."
"Stevany?" Gumam William menatap Ajeng.
"Nama Stevy siapa?"
"Stevany Hwa-Young" Ucap Ajeng.
Ajeng terkejut, ia mengambil beberapa foto Alex dengan Stevy.
"Bagus, ini bisa buat bales dendam sama manusia salju itu." Gumam Ajeng.
"Sudah lupakan, ayo jadi nonton gak?"
Ajeng mengangguk, merangkul pinggang William mesra.
_______
Ajeng pulang, ia melihat Stevy sudah bersantai di depan TV dengan piamanya.
Sedang Ferland sudah menunggunya dengan tatapan tajam.
Ajeng menghembuskan nafas kasar, ia yakin Ferland akan mengoceh lagi
"Jam berapa ini! Sudah ku bilang jangan pulang malam! Kau pergi lagi dengan pecundang itu hah!" Hardik Ferland.
"Seharusnya kau menasehati istri tercintamu! Agar tidak menjadi gelas untuk teh celup, HIV belum ada obatnya!" Ketus Ajeng melirik Stevy. Stevy menatap Ajeng tidak suka dan gugup atas tatapan Ferland kepadanya.
"Jaga bicaraimu ******!"
"Siapa yang ******? Lebih baik kau ngaca, menjijikan, dan kau Ferland, selamatkan aset-asetmu dari orang serakah." Sinis Ajeng berlalu ke kamarnya.
Entah mengapa ia menjadi kasihan kepada Ferland, meski ia masih membencinya, mengingat Stevy bermesraan dengan mantan bosnya ia kasihan pada Ferland, sungguh pasti Ferland akan sangat terluka dan hancur, ia tah bagaimana Ferland begitu mencintai Stevy.
Ferland mengetuk pintu kamar Ajeng.
"Boleh aku masuk?"
"Bukankah ini rumahmu, bertindaklah sesuka hatimu." Ucap ketus Ajeng.
Ferland masuk dan langsung duduk di sofa, menatap Ajeng yang masih asyik dengan ponselnya.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu kepada Stevy?"
"Tanyakan sendiri kepada istrimu,"
"Aku sedang bertanya kepada istriku." Balas Ferland.
Ajeng menghentikan permainannya, menatap sengit ke arah Ferland.
"Stevany Hwa-Young," Sinis Ajeng.
"Aku tahu kau membenciku, tapi setidaknya katakan padaku apa maksutmu."
"Cari taulah sendiri, siapa Alexander, sudahlah pergi sana aku ingin tidur."
"Ajeng!" Suara Ferland meninggi.
"Pergi! Dan ingat HIV belum ada obatnya." Sindir Ajeng dengan senyuman sinisnya, Ferland pun keluar dari kamar Ajeng, menghiraukan Stevy yang tengah memanggilnya di dalam kamar.
Ferland duduk sofa, pikirannya mencerna kata-kata Ajeng, semakin ia penasaran dengan Alexander nama yang diucapkan Ajeng.
Iapun mulai menghubungi orang-orangnya untuk mencari tau siapa Alexander dan untuk memata-matai Stevy.
"Kayaknya gak ada suara setan lagi, akhirnya gue bisa tidur dengan tenang tanpa gangguan dan sumpel telinga." Ucap Ajeng dan terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Michelle Ziudith sebagai Ajeng
Adipati Dolken sebagai William
Lee Min Ho sebagai Ferland