I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
Calon suami



Reva memutuskan kembali ke kantor Rey agar masalah nya dan perusahaan itu cepat selesai. Bagiamana pun dia sudah muak berjumpa dengan Rey. Dia pikir setelah perpisahan mereka selama tujuh dia pergi ke Jepang dapat merubah jati diri Rey, tapi nyata nya bukan nya semakin baik malah semakin buruk sifat nya.


"Permisi saya ingin berjumpa dengan tuan Rey." ujar Reva menatap dingin sekretaris Rey yang kini juga tengah menatap nya sinis.


"Sebentar saya akan meminta ijin dulu." ujar nya kemudian mengambil telepon kantor dan mulai menghubungi Rey yang berada di luar ruangan.


"Silahakan anda masuk, tuan Rey di dalam, jangan memakai kesempatan itu untuk melakukan hal yang aneh aneh." sindir nya sinis namun tak digubris oleh Reva.


Reva memilih melangkah kan kaki nya ke ruangan Rey dan membuka pintu ruangan itu sehingga tertampang jelas lah Rey yang tengah sibuk dengan berkas berkas nya yang berada di meja kantor nya. "Permisi tuan, saya ingin berbicara perihal persetujuan anda."ujar Reva dingin setelah berdiri tepat di depan Rey yang terhalang sebuah meja.


Rey menoleh ke arah Reva kemudian mengulas senyum nya. "Saya belum bisa memutuskan nya sekarang bagiamana kalau minggu depan?" tawar Rey.


Reva menatap tajam ke arah Rey. "Jangan menunda waktu lagi tuan, saya masih memiliki hal lain yang harus di selesaikan selain perkara ini."


Rey yang melihat Reva yang berbeda hari ini mengerutkan kening nya heran. "Kamu kenapa? Apa saya ada salah?" tanya Rey heran.


"Iya bapak punya salah, karena sudah membuang sia sia waktu saya!" sinis Reva.


"Saya akan kembali lagi besok dan saya harap bapak tidak menunda lagi, saya permisi." setelah mengatakan itu Reva melengang pergi dari ruangan itu meninggalkan Rey yang heran akan sikap Reva barusan.


Rey yang awal nya hendak makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari kantor nya memberhentikan langkah nya kala mata nya tak sengaja melihat Reva yang tengah makan bersama dengan seorang pria yang Rey tidak bisa melihat wajah nya karena posisi pria itu yang memunggungi nya. Entah ide darimana Rey melangkah kan kaki nya menuju tempat Reva dan pria itu.


"Hai Reva, ternyata kamu di sini juga ya." sapa Rey ramah kemudian tanpa diminta mendudukan diri nya di kursi yang berada di samping Reva membuat Reva menatap jengah Rey.


"Anda siapa nya Reva?" tanya Rey menatap heran lelaki yang tengah menatap nya juga dengan tatapan heran.


"Perkenalkan dia calon suami saya tuan Rey." balas Reva menjawab pertanyaan yang dilontarkan Rey.


"Ca-ca-calon suami." tanya Rey syok.


"Iya, kami sudah tunangan kemungkinan bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan." balas Reva santai sambil menyeruput jus yang baru saja di pesan nya.


Rey yang mendengar kabar menyakitkan itu hanya bisa mengulas senyum nya. "Selamat ya, nanti kalau kalian nikah jangan lupa undang saya." ucap Rey membuat lelaki yang berada di depan nya masih bingung akan siapa sebenarnya Rey.


"Tentu saja tuan, kamu akan mendapatkan undangan khusus dari kami." balas Reva santai membuat Rey menganguk angguk paham.


"Kalau waktu gue masih ada untuk liat lo bahagia nanti nya itu lebih dari cukup Reva. Karena memiliki kamu merupakan kemustahilan untuk ku." batin Rey tersenyum menatap Reva sendu.