
William menyiapkan segalanya, ia bertekad mengunjungi orangtua Ajeng lagi.
Bagaimanapun juga ia mencoba memperjuangkan cintanya.
------
William menatap rumah bak istana, ia berbincang dengan bodyguard penjaga gerbang, dengan perintah, William diijinkan memasuki rumah itu untuk yang ke dua kalinya.
William menunggu orang tua Ajeng di ruang tamu.
Tak lama menunggu, orang tua Ajeng, ibu Ningrum dan bapak Subagyo Mertadiwirwa menemui William, William menyalami kedua orangtua Ajeng dengan sopan.
Tangis William pecah saat bersalaman dengan ayah Ajeng, William berlutut di hadapan bapak Ajeng.
"Nak, ada apa ini, mari, mari bangun,"
Ucap pak Subagyo mencoba membangunkan William.
Namun William masih berlutut, ia memegang kedua kaki pak Subagyo, tangisnya pecah.
"Pak, mohon ampun, mohon batalkan perjodohan Ajeng pak, sa-saya mencintai Ajeng pak, sangat mencintai Ajeng, saya berjanji akan berikan apapun untuk kebahagiaan Ajeng, saya tidak akan menyakiti putri bapak, saya mohon pak, sa-saya mencintai Ajeng pak,"
Ucap William menangis, pak Subagyo merengkuh tubuh William, ia mendudukkan William diantara istrinya dan dirinya.
"Nak, bapak tau, tapi bapak tidak bisa berbuat apa-apa nak, bapak... Hanya ingin membalas budi atas kebaikan orangtua angkat bapak nak,"
"Pak, saya...."
"Nak, dengarkan bapak, akan bapak ceritakan yang sebenarnya. Dulu, bapak bukan siapa-siapa, bapak hanya pemulung yang dibesarkan oleh para preman-preman di kolong jembatan, bapak disiksa, dihajar, bahkan bapak tidak diberi makan kalau bapak pulang tidak membawa uang, saat itu bapak sakit, tidak bisa bekerja, bapak tidak berani pulang, bapak lapar, sangat lapar, bapak mencoba menawarkan jasa bapak untuk mencuci piring dengan imbalan nasi, tapi tidak seorangpun mau karna bapak bau nak, bapak putus asa, bapak mengais tong sampah di samping rumah makan, berharap ada sisa makanan yang bisa bapak makan, namun disaat itu, sakit tubuh, perut, kepala bapak sangat sakit hingga bapak pingsan,"
Pak Subagyo menyeka sudut matanya.
"Pak, saya tidak bermaksud... "
"Tidak apa nak, setelah bapak sadar, bapak sudah ada di rumah sakit, bersama seseorang yang menolong bapak, dia adalah Tuan besar Mertadiwirya, kau tau dia nak?"
William mengangguk, siapa yang tak kenal Tuan besar Mertadiwirya, orang terkaya nomor satu se-Asia.
"Bapak diberi makan enak, hidup layak, dan bapak dijadikannya anak angkat, karena dia hanya memiliki anak perempuan usianya tiga tahun diatas bapak, namanya nona Alina, saat kami dewasa beliau (Tuan Besar Mertadiwirya) menikahkan Alina dengan suaminya keturunan Korea, dan bapak dengan istri bapak dihari yang sama. Satu tahun kemudian nona Alina melahirkan putra bernama Ferlanda Zevian, dan istri bapak melahirkan Dimas, sedangkan Ajeng terpaut hanya dua tahun dari Dimas. SampI tiba saatnya beliau Tuan Besar Mertadiwirya meninggal, beliau mewariskan 60% hartanya kepada bapak, dengan syarat harus menikahkan putri bapak dengan putra nona Alina, kami semua setuju, demi rasa balas budi dan bakti bapak untuk beliau nak, karena hanya dengan cara itu bapak bisa membalas jasa beliau nak,"
"Nak, ibu sebenarnya sedih memisahkan nak William dengan Ajeng, namun... Tidak ada pilihan lain nak, ini semua kami lakukan demi kebaikan Tuan besar nak, agar beliau disana tenang dan bahagia, serta bangga terhadap anak angkatnya."
Ucap Ibu Ningrum menimpali.
Pak Subagyo memeluk William, mencoba memberinya kekuatan agar bisa tabah dengan semua ini.
_______
Seminggu sudah ia menjauhkan diri dari Ajeng, ponselnya setiap hari berdering, pesan-pesan yang Ajeng kirim tak ada satupun yang William balas.
--
Semakin hari Ajeng semakin terpuruk, setiap hari ia mencoba menghubungi William, berharap ada kabar dari kekasihnya itu.
Ajeng tak berlera makan, hari-harinya dia habiskan menatap ponselnya.
Ingatannya tentang William membuatnya semakin merindukan William. Tak jarang dia mengigau memanggil nama William.
---
"Wil, lo ga kasian sama Ajeng, menurut gue, lo temuin Ajeng, Wil"
"Lebih baik begini Sof, Lama-lama juga Ajeng bakal terbiasa,"
"Gak semudah ith Wil, buktinya udah seminggu lebih Ajeng malah semakin kacau,"
"Gue akan terus begini Sof, menjaga Ajeng dari kejauhan, gue akan tetap mantau dia, ngelindungin dia tanpa dia tau, sampai kapanpun gue bakal tetep sayang dan cinta sama dia, Sof."
"Will..... "
"Kata pujangga, cinta itu tak harus memiliki, kata-kata yang bodoh, namun benar adanya, ini yang sekarang gue alamin."
Sofia menatap William, wajah tampan William terlihat begitu lelah, sakit dan kecewa. Sofia melihat begitu dalam cinta yang William miliki untuk Ajeng.
Pandangan William beralih pada Sofia,
"Sof, "
"Tolong selalu kabarin gue soal Ajeng."
"I-iya Wil, oiya gue ada kuliah, gue duluan ya, thanks buat traktirannya, bye!"
"Oke,"
______
William mengamati Ajeng yang sedang duduk di teras kost. Rambutnya dibiarkan tergerai tertiup angin hingga beberapa rambutnya menutupi wajah cantik Ajeng.
Betapa ingin William menghampirinya, bercanda tawa lagi bersamanya.
Mencubit hidungnya dan menggodanya.
Ia begitu rindu segala tingkah laku Ajeng.
"Aaaaarrrrggghhhhh." Jerit hati William.
"Lo dimana, Will, kenapa lo menghilang, kenapa lo hianatin janji lo." Gumam Ajeng mengusap cincinnya. Air matanya kembali menetes merindukan William.
"Maafin gue, Jeng, maafin gue." Runtuh William. Tak tahan melihat Ajeng menangis, William hendak membuka pintu mobil untuk menghampiri dan memeluk Ajeng, namun langkahnya terhenti ketika mobil Alphard putih berhenti di depan kost Ajeng, William mengamati lelaki yang turun dari mobil itu. Ternyata Dimas, kakak Ajeng.
Terlihat Dimas memeluk Ajeng dan mengajaknya masuk ke dalam kost.
William yang penasaran kedatangan Dimas pun menunggu di mobil. Tak lama Dimas keluar rumah kost sambil membawa koper besar, sedang Ajeng mengekor di belakangnya dengan wajah tertunduk.
William membuka ponselnya, pesan terbaru dari Ajeng sudah masuk ke ponselnya.
[Wil, mas Dimas jemput gue, dalam minggu ini gue akan lamaran, dan minggu depan pernikahan gue, tolong gue Will.]
William membanting ponselnya, ia geram, ia menangis, William meruntuki kebodohannya.
_________
Rumah megah bakal istana kini disulap menjadi istana sungguhan, dengan bunga-bunga cantik nanti indah serta dekorasi yang sungguh megah.
Ajeng menatap dirinya di cermin, mengenakan gaun kebayak, sanggul khas Jawa, dengan polesan make up tipis yang menghiasi wajahnya. Ajeng begitu terlihat sangat menawan dan mempesona.
Selendang kebangsaanpun hinggap di pundaknya, semakin menunjukkan tinggi kastanya dan memancarkan keanggunannya.
Acara berlangsung, pria itu, ya pria tampan dengan kulit putih, badannya yang tinggi, hidungnya yang mancung, serta mata yang khas, menunjukkan ia dari negara Korea, Ferlanda Zevian, melingkarkan cincin yang begitu indah dj jari manis Ajeng.
Semua begitu bahagia, namun tidak dengan William yang menonton dilayar ponselnya acara yang sedang berlangsung, ya, William menggunakan kata-kata untuk masuk ke rumah megah itu, sebenarnya ia bisa masuk karena William juga mendapat undangan special dari Dimas, namun William memilih tidak menghadirinya, dia takut jika menghadiri malah akan merusak suasana kebahagiaan keluarga Mertadiwirya.
"Aaaaarrrrggghhhhh..... Ajeeeengggg!!!!" Jerit William, bahkan Ajeng tidak melepas cincin pemberiannya di jari manisnya ditangan sebelah kanan Ajeng, sedangkan Ferland, memakaikan cincin pertunangannya di jari manis tangan kiri Ajeng.
---
Ajeng berdiri menatap danau, hatinya berkecambuk, matanya menggenang, menahan bendungan air kepedihan agar tidak membanjiri pipinya.
"Gue udah ngehianatin elo Will," Gumam Ajeng mengusap pedih cincin pemberian William.
Ucapannya terhenti ketika tubuh tinggi itu berdiri disebelah Ajeng.
"Aku cuma ingin mengatakan, pernikahan ini atas perjodohan, jadi jangan kau meminta apapun ataupun bertingkah lebih."
"Lo pikir lo siapa?, lo pikir gue mau perjodohan ini, sama sekali enggak Ferland!"
Bentak Ajeng.
"Baguslah, setidaknya jangan kau tangisi pecundang itu."
Ajeng menatap tajam Ferland, sedangkan Ferland menatap Ajeng dengan senyumnya yang sinis.
"Bukankah lelaki yang tidak memperjuangkan cintanya lalu pergi menghilang meninggalkan wanitanya adalah pecundang?" Sinis Ferland.
"Diam lo!"
"Tidak berguna," Sinis Ferland lalu pergi meninggalkan Ajeng.
"Dasar sableng." Gerutu Ajeng.
"Wil, kenapa lo gak bawa gue lari, kenapa lo malah pergi ninggalin gue, apa cinta lo bohong Wil," Gumam Ajeng dalam kesedihan.