I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 29



Ferland menatap Ajeng yang sedang menikmati keindahan malam ditepi laut bertabur bintang.


"Sudah selesai?"


Ajeng menoleh lalu tertunduk, Ferland mengangkat menggendong Ajeng, Ajeng melingkarkan tangannya di leher Ferland.


"M-mau kemana?"


"Kau bilang ingin yang romantis,"


Ajeng tak menjawab, ia menyandarkan kepalanya di dada Ferland.


Sampai dengan sebuah rumah kecil yang indah, Ferland terus menggendong Ajeng sampai ke kamar, dan meletakkan Ajeng di ranjang. Kamar yang begitu indah dan harum, ditata sedemikian rupa dengan nuansa yang sangat romantis, Ajeng beranjak membuka jendela yang berhadapan langsung dengan laut. Semilir angin malam yang sejuk dengan keindahan yang memukau, semakin membuat Ajeng terasa nyaman.


Ferland memeluk Ajeng dari belakang, Ajeng terkejut namun ia mencoba berdamai dengan keadaan. Ferland mencium pucuk kepala Ajeng, sampai ke telinga dan leher belakang Ajeng, Ajeng memejamkan matanya,menggigit bibir bawahnya menahan kegelian yang membuat bulunya meremang.


Ferland membalikkan tubuh Ajeng, kini keduanya saling berhadapan, Ajeng menatap Ferland, tatapan yang jarang ia temui dari Ferland, tatapan yang begitu lembut dan dalam.


Ferland menundukkan tubuhnya, merengkuh tubuh Ajeng menciumi kuping, kening dan mel*mat bibir Ajeng dengan mesra, Ajeng memejamkan matanya, melingkarkan pelukannya, membalas cuman Ferland saling beradu dalam cumbuan hingga nafas Ajeng tersenggal, Ferland mengalihkan ciumannya ke leher Ajeng, meninggalkan beberapa tanda cinta disana.


Ferland menggendong Ajeng, membaringkan nya diranjang, Ferland kembali mencumbu Ajeng, tangannya mulai menanggalkan gaun malam dan b*a Ajeng dan melemparkannya dilantai. Ferland mencumbu setiap inci tubuh Ajeng, Ajeng menikmati permainan Ferland.


"Aakhh... " Pekik Ajeng saat Ferland menggigit gundukan indah Ajeng.


Saat tiba Ferland merasa kesulitan menerobos benteng Ajeng, ia mel*mat bibir Ajeng sambil menghentakkan aksinya.


Ajeng mencengkram bahu Ferland, ngilu dan hangat Ferland rasakan, ia menatap Ajeng yang merasakan sakit di areanya.


"Maaf sayang."


Ajeng hanya mengangguk kecil dan tersenyum.


Desahan-desahan dimalam yang penuh dengan keringat dan gelora asmara yang membara membuat malam terasa panjang bagi kedua insan yang sedang beradu asmara.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ferland menggeliat terbangun karena pancaran sinar matahari dari jendela yang dari tadi malam terbuka, Ferland melihat Ajeng yang masih tertidur disampingnya.


Ia mengelus pipi Ajeng, niatnya untuk mandi ia urungkan melihat Ajeng yang masih tertidur tanpa sehelai benangpun, Ferland merapatkan dirinya memeluk Ajeng, membenamkan wajahnya di kedua bukit indah Ajeng.


Ajeng menggeliat, terkejut ketika Ferland tengah memeluknya, Ajeng mendorong Ferland kuat.


"Heh." Gumam Ajeng.


"Apa? Kenapa mendorongku?"


"Emmm.... A..." Ajeng mengintip dibalik selimutnya, ia masih polos tanpa busana.


Ferland mendekati Ajeng.


"Terimakasih pelunasannya." Goda Ferland.


Ajeng memukul-mukul Ferland dengan bantal. Ferland tertawa penuh kemenangan.


"Sudah, cukup, mari kita mandi." Ucap Ferland memakai baju handuknya.


Ajeng memalingkan mukanya, namun Ferland menggendong Ajeng dan meletakkannya di bathub.


Ajeng dan Ferland berendam bersama, Ajeng menggosok punggung Ferland.


*Dasar manusia salju, es batu, bisa bae carai-cari kesempatan dalam kesempitan* Gerutunya Ajeng dalam hati.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ajeng menikmati suasana indah di bibir pantai, membiarkan kakinya tersapu ombak yang menyapanya. Ferland datang membawa dia buah kelapa muda, memberikannya satu pada Ajeng.


"Fer.... "


"Hmm... "


"Boleh gue... Emm aku, aku minta sesuatu?"


"Katakan."


"Berhenti membunuh orang."


"Aku bukan pembunuh."


"Untuk kejadian kemarin?"


"Ajeng, aku sudah bilang, aku bukan pembunuh, tapi aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanitaku."


Ucap Ferland tegas sambil menatap tajam Ajeng. Ajeng tertunduk. Ferland merengkuh Ajeng, ia tau Ajeng bersedih.


"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi,"


"Fer, boleh aku tau sesuatu?"


"Ya."


"Apa kau mencintaiku?" Ucap Ajeng mendongak menatap Ferland,


"Ya,"


"Benarkah?, Seberapa besar cintamu?"


"Kau meragukanku?" Ferland melepaskan rengkuhannya.


"Jika aku berbuat salah?"


"Aku akan menghukummu."


"Hukum?" Lirih Ajeng.


"Seperti semalam." Ucap Ferland tersenyum manis, Ajeng lihat senyuman Ferland dan teringat pada Zahra.


*Apa gue kasih tau sekarang aja ya soal Zahra, tapi... Gue takut Ferland marah.. Willi.... Tolong gue...* Ucap Ajeng dalam hati.


"Emmm Fer, seberapa besar kau menyayangi anak-anakku?" Ucap Ajeng ragu.


"Sama seperti aku menyayangi ibunya."


"Meskipun itu bukan anakmu?"


"Ya, aku menerimamu dengan segala kekuranganmu, walaupun kau tak punya kelebihan."


"Ferland, aku seriussss... "


Ferland tertawa renyah, Ajeng hanya cemberut.


Ajeng menatap Ferland, ragu ia menjawab, hatinya belum bisa sepenuhnya melupakan William, namun Ajeng sudah membuka hati untuk Ferland.


"Tak usah difikirkan." Ucap Ferland menyadarkan Ajeng dari lamunan.


"Aku akan tetap disisimu."


Ajeng menatap Ferland yang menatap laut lepas.


"Asal kau berjanji tidak akan menyakiti orang lain."


"Aku tidak akan menyakitimu,"


"Orang lain, Fer..."


"Sudah, ayok pulang."


Ajeng meraih tangan Ferland.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Aku rindu Zahra dan Devian." Gumam Ajeng.


"Aku juga, apa kita suruh ibu pulang?"


"Iya, cobalah."


Ferland menghubungi ibunya, Ajeng melirik Ferland yang sedang berdebat dengan ibunya melalui ponsel. Ferland menutup ponselnya dan memeluk Ajeng dari belakang. Ajeng yang tengah menyiapkan minuman tetap cuek, mencoba bersikap tenang dan biasa.


"Anak-anak tidak ingin pulang, orangtuamu sangat memanjakan mereka."


Ajeng menghela nafas, ia tau betul bagaimana orangtuanya sangat memanjakannya terlebih pada cucu-cucu mereka.


"Ya sudah, bisa apa, bapak orang yang keras kepala." Lirih Ajeng sambil mengupas buah, masih dengan Ferland memeluknya dari belakang.


"Anak durhaka." Goda Ferland.


"Enak saja!"


"Sama sepertimu, keras kepala dan susah diatur."


"Biar saja," Sungut Ajeng.


"Tapi aku mencintaimu." Bisik Ferland.


"Sudah sana, aku tidak bisa bergerak."


"Biar saja," Singkat Ferland, Ajeng membalikkan tubuhnya menghadap Ferland.


"Kau cinta aku?"


Ferland mengangguk,


"Kalau begitu, duduk diam dan makan ini." Ajeng menyerahkan mangkok berisi buah-buahan kepada Ferland.


"Cium aku dulu."


Ucap Ferland, Ajeng menggeleng.


"Ayolah, sekali saja."


"Tidak, sudah pergilah."


"Cium dulu." Ferland memonyong kan bibirnya. *Cuppp* Ajeng mengecup singkat bibir Ferland.


"Sudah, sana pergi."


"Bukan seperti itu, tapi seperti ini."


Ferland mencium bibir Ajeng dan Mel*matnya dengan lembut.


Setelah puas, Ferland melepaskan ciumannya dan tersenyum manis kepada Ajeng.


"Terimakasih," Ucap Ferland mengecup kening Ajeng. Ferland melangkahkan kakinya menuju sofa, Ajeng terdiam menatap punggung kekar Ferland.


*********


Ajeng merebahkan dirinya di ranjang empuknya, menarik selimut sambil menonton TV, Ferland keluar dari kamar mandi, mengambil bantal di ranjang, hendak melangkah ke sofa tempat biasanya tidur.


"Tidurlah disini." Ucap Ajeng tanpa melihat Ferland dan masih fokus dengan TVnya.


"Kau serius?"


"Kalau tidak mau ya sudah."


Ferland langsung menaiki ranjang merebahkan dirinya dengan kepala di paha Ajeng.


"Kau ingin tidur denganku?" Goda Ferland.


"Aku hanya ingin terbiasa denganmu." Ajeng masih terus menonton TVnya.


"Jika bicara, tatap aku, aku tidak suka diacuhkan."


Ajeng menunduk menatap Ferland.


"Apa aku tampan?" Ucap Ferland.


"Lumayan, tapi kau bukan tipeku" Gumam Ajeng sambil mengelus rambut Ferland.


"Hey, kau tidak cantik, seharusnya kau bilang aku tampan, dan kau beruntung menjadi istriku." Protes Ferland.


"Yang mengemis cinta padaku siapa? Yang memohon-mohon untuk menikahiku siapa? Dasar kadal." Gerutunya Ajeng menarik hidung Ferland.


"Cium aku," Ketus Ferland.


"Tidak."


"Baik, akan ku hukum kau malam ini." Ucap Ferland menggelitik Ajeng.


Malam yang indah bagi Ferland saat ia mencapai puncak hasratnya dan ambruk memeluk Ajeng dengan peluh yang bercucuran di tubuhnya.


Ferland berbaring disisi Ajeng, mengelus lembut perut Ajeng.


"Aku ingin kau melahirkan anakku." Bisik Ferland,


*DEGGG* Ajeng bergeming, ia teringat Zahra, bagaiamana caranya ia memberitahu Ferland bahwa Zahra adalah putri kandungnya, bukan benih dari William mendiang suaminya.