I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 17



Ajeng terbangun, ia bergegas ke kamar mandi menyegarkan dirinya.


"Hufftt hari ini enaknya kemana ya," Gumam Ajeng sambil menyisir rambutnya.


Ajeng meraih ponselnya, ia menerima begitu banyak foto Stevy dan Alexander dari William.


"Gilak! Ini sih parah banget, ampe foto diranjang segala!"


[Simpan itu sebagai bukti,]


[Siap pak bos] balas Ajeng.


Ajeng keluar dari kamarnya, ia mendapati Stevy tengah menangis dikamarnya.


"Hei kakak madu, kenapa menangis," Cibir Ajeng.


"Ajeng, tolong aku. Hiks hiks hiks"


Ajeng melihat darah berceceran dilantai, Ajeng segera menghampiri Stevy panik.


"Kenapa ini, kau kenapa, kenapa bisa seperti ini?" Ucap Ajeng panik, Stevy menyeringai, tiba-tiba Stevy berteriak kesetanan.


"Aaaaakhhhhhhh Ajeng, hentikan!! Ampuni aku Ajeng," Racau Stevy kesetanan, Ajeng bingung dengan tingkah Stevy, Ferland yang mendengar teriakan Stevy belari menuju sumber suara, terkejut panik Ferland melihat banyak darah ia menghampiri Stevy dan mendorong Ajeng hingga terjatuh.


"Ada apa ini?! Ini kriminal Ajeng! Kau gila!" Ucap Ferland panik,


"Tunggu dirumah!" Titah Ferland membopong Stevy ke lantai bawah, deru mobil Ferland menghilang dengan cepat, Ajeng shock, ia mencoba menenangkan dirinya, Ajeng mencari tisu dan sarung tangan lalu mengambil pisau yang sudah tergeletak di lantai dan memasukkannya ke dalam plastik.


"Dasar bodoh!" Gumam Ajeng tersenyum sinis.


Ajeng menunggu Ferland dikamarnya sambil membaca novel, tak lama Ferland kembali.


*BRAKKK* pintu kamar Ajeng di dobrak.


Ferland menarik Ajeng berdiri, mendorongnya hingga terpojok ke tembok.


*Plak* Ferland menampar Ajeng, Ajeng terkejut, selama ini Ferland hanya acuh dan dingin, tapi tidak pernah main tangan, tapi kali ini Ferland telah menamparnya.


"Apa yang kau lakukan! Kau ingin membunuh istriku hah!" Bentak Ferland penuh amarah.


Ajeng geram karena ditampar Ferland.


*BUKKK* *BUKKK* Ajeng memberikan bogem mentah hingga Ferland mundur. Ferland murka dan bangkit lalu mencekik Ajeng, menempelkan Ajeng di tembok.


"Akan ku pastikan kau membusuk di penjara Ajeng!" Bisik Ferland, dengan sekuat tenaga Ajeng mendorong Ferland, mata Ajeng merah menahan rasa kecewanya. Ajeng mengatur nafasnya yang hampir habis.


"Dasar Bodoh!" Seru Ajeng menahan tangis.


"Belum puas kau memfitnah Stevy, sekarang kau juga ingin membunuhnya!" Teriak Ferland penuh amarah, ia kembali ingin menampar Ajeng namun tangannya berhenti di udara saat melihat Ajeng meringis sambil meremas perutnya.


"Kenapa? Tampar aku hah! Ini akan memudahkanku menceraikanmu!" Teriak Ajeng menahan sakit di perutnya.


"A-ajeng, ka-k-kau kenapa?" Ucap William memegang bahu Ajeng.


William melihat darah di sudut bibir Ajeng akibat tamparannya.


"Jangan sentuh aku! Entah kau bedebah!" Ajeng mendorong Ferland, ia mengambil ponsel dan kunci mobilnya lalu lari kebawah dan pergi melakukan mobilnya.


Ajeng menangis, ia mengemudikan mobilnya dengan cepat, dan...


*BRAAAAKKKKKKKK*


mobil Ajeng menabrak pohon dipinggir jalan, masih setengah sadar Ajeng, berusaha keluar dengan tertatih, ia menelepon William untuk menjemputnya.


Tak menunggu lama William langsung menjemputnya karena sangat panik dan khawatir terhadap cintanya.


William membawa Ajeng ke rumah sakit terdekat.


Wajah William merah padam melihat kondisi Ajeng dengan darah yang mengering disudut bibirnya. Ia mengomores luka Ajeng, sampai Ajeng tersadar dan membuka matanya.


"Willi.... " Rintih Ajeng.


"Kenapa lo bisa kaya gini Jeng, kenapa?" Ucap William panik sambil terus menciumi tangan Ajeng yang lemah.


"To-tolong urus perceraian gue Will,"


"Apa lo ini perbuatan Ferland," Ucap lembut William mengelus sudut bibir Ajeng yang memar, Ajeng mengangguk pelan.


Wajah William semakin merah, amarahnya memuncak, ia mengepalkan tangannya.


Tok.. Tok... Dokter membuka pintu,


"Tuan William, bisa saya bicara."


Ajeng mengangguk, memandang punggung William yang berjalan pergi.


-


"Mari silahkan duduk tuan,"


William duduk berhadapan dengan dokter Mira.


"Begini, tolong jaga kondisi nona Ajeng dengan hati-hati, kehamilannya yang masih mu... "


"Apa? Ajeng hamil?" Ucap William memotong kalimat dokter Mira, dokter Mira nampak heran dengan tingkah William yang sepertinya shock mendengar kabar itu.


"Iya tuan, nona Ajeng hamil, usia kehamilannya baru empat minggu, maka dari itu tolong jaga nona Ajeng baik-baik, jangan sampai membuat stres, karena hamil muda sangat rentan dengan hal-hal sensitif, saya beri obat dan vitamin, anda bisa menebusnya."


Setelah menerima resep, William membuat obat dan langsung ke kamar Ajeng, hatinya begitu hancur, Ajeng hamil yang berarti itu adalah anak Ferland, itu artinya Ajeng sudah melakukannya. Hati William semakin panas, jiwanya hancur, amarahnya memuncak.


"Sus,"


"Iya Pak,"


"Tolong berikan ini ke kamar VVIP, atas nama nona Ajeng, kalau dia tanya bilang saya ada urusan sebentar."


"Baik, pak."


"Terimakasih,"


William melakukan mobilnya menuju rumah Ferland, William masuk rumah Ferland dengan leluasa, mencari-cari ke penjuru rumah.


"Ferland! B*jingan kau keluar!"


Seru William, Ferland yang tengah menemani Stevy yang baru dari rumah sakit segera menghampiri William dibawah.


"Apakah kau tidak diajarkan sopan santun untuk bertamu."


Sinis Ferland, William tak menggubris ucapan Ferland, William langsung menghajar Ferland tanpa ampun, Ferland mencoba membalas, namun William yang sudah dikuasai amarah dengan mudah mengalahkan Ferland.


Ferland terkapar penuh darah.


"Br*ngsek! Bisa-bisanya kau main tangan pada Ajeng! Dia istrimu bodoh! Dia sedang meng..... " Ucapan William menggantung, tak seharusnya ia memberitahukan kabar bahagia yang meremukkan hatinya itu pada Ferland, baginya Ferland tidak pantas untuk mendapatkan Ajeng.


"Akan ku pastikan gugatan itu sampai kepadamu secepatnya!" Sinis William pergi meninggalkan Ferland yang masih sadar penuh darah.


William kembali ke rumah sakit untuk menemani Ajeng.


Ajeng terkejut William kembali dengan beberapa tanda biru di wajahnya dan bercak darah dibajunya.


"Will, lo kenapa,"


"Gak apa-apa Ajeng, sayang lo serius mau bercerai?"


Ajeng mengangguk yakin.


"Tapi Jeng,.."


"Kenapa Wil?"


"Lo, lo, hamil."


Ajeng terbelalak.


"Gak... Gak mungkin Wil, gue gak mungkin hamil!" Ucap Ajeng menangis memukul-mukul perutnya.


"Ajeng, sayang, jangan, please, anak ini gak salah, udah ya."


William memeluk Ajeng, hatinya sangat hancur melihat Ajeng seperti ini.


"Jangan lo sakitin diri lo sendiri oke, demi gue Jeng."


"Tapi gue gak pengen anak ini Wil,"


Ucap Ajeng terisak dalam pelukan William.


"Oke, Oke, lo gak ingin anak ini, biar gue yang rawat, Oke, lo jaga dia buat gue."


Ajeng melepaskan pelukan William, ia menatap lekat-lekat William mencari kebenaran dari ucapan William, William mengangguk mengelus kepala Ajeng.


"Ta-tapi Wil, ini bukan benih lo."


"Jaga dia, buat gue, please," Ucap William mengelus perut Ajeng, Ajeng terharu, ia kembali terisak karena telah menghianati William, namun William masih mau menerimanya, juga anak yang sedang dikandungnya.


Betapa bahagianya Ajeng jika saja William lah ayah dari anak yang sedang ia kandung saat ini, begitu lembut tulus perhatian William, membuat cinta Ajeng semakin besar.