I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 13



William kembali pada rutinitas kerjanya, dia masih menerima pesan-pesan dari Ajeng, sesekali hanya dia balas hanya untuk membuat Ajeng merasa bahwa dia tidak meninggalkannya


Bahkan untuk mengatakan dirinya rindupun seakan sudah tidak berhak.


-


-


Hari ini Ajeng dan Ferland akan meninggalkan rumah Ajeng, Ajeng akan ikut dengan Ferland untuk tinggal di rumahnya.


Ajeng termenung di dalam mobil, dia berfikir bagaimana dia bisa tinggal manusia angkuh seperti Ferland.


Apakah orang tua Ajeng tau sifat Ferland, ahh sepertinya tidak, Ferland begitu manis, baik dan lembut memperlakukan Ajeng di depan kedua orang tuanya.


Namun faktanya, Ferland begitu angkuh dan dingin juga tak berperikemanusiaan.


Setelah perjalanan yang melelahkan mereka sampai di rumah mewah milik Ferland, kedatangannya disambut gadis cantik bertubuh tinggi, langsung, dan ya, sangat cantik, dengan wajah khas Korea.


Ferland turun dari mobil tanpa memperdulikan Ajeng yang masih mengamati gadis cantik itu.


Ketika Ferland turun dari mobil, gadis itu langsung berhambur memeluk dan mencium bibir Ferland, dan bergelayut manja sambil memasuki rumah.


Ajeng melotot di dalam mobil.


Bertumpuk-tumpuk pertanyaan dibenaknya. Siapakah gadis itu, kekasih Ferland atau saudara Ferland.


Ajeng tidak ambil pusing, siapapun dia itu lebih baik yang artinya dia mempunyai teman dirumah itu.


Ajeng turun dan masuk rumah itu.


Gadis itu sedang bersantai di sofa panjangnya, dia melihat gadis itu tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangannya.


Gadis itu menghampiri Ajeng.


"Hai, adik madu, namaku Stevy." Ucapnya dengan senyum mengembang. Ajeng terkejut dengan ucapannya.


Ferland mendekat, menggenggam tangan Stevy.


"Kemabali ke kamarmu." Ucapnya dingin menatap Stevy, Stevy hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Ajeng yang masih shock.


"Di-dia,"


"Iya, dia istriku, tak usah kau fikiran, aku akan adil, tapi kau jangan berharap lebih, kamarmu di atas. Dan kamar seberang kamarmu itu kamar Stevy,"


Ucap Ferland membuat Ajeng semakin bingung. Ajeng pergi ke kamarnya tanpa menjawab apapun pada Ferland.


"Huh! Gilak! Kenapa coba ibu nikahin gue sama orang gila, mana udah punya istri lagi, apa ibu tau si sableng itu punya istri." Gumam Ajeng merebahkan dirinya di ranjang empuk itu.


Tok... Tokk... Tok...


"Boleh aku masuk?" Ucap Stevy.


"Ya," Singkat Ajeng.


Stevy masuk, ia mengenakan dress biru muda dengan rambut tergerai sepunggung, juga bandana lucu menjadi hiasan kepalanya. Mata, hidung bibir, ah Ajeng pun terpesona dibuatnya benar-benar seperti barbie hidup, bahkan lebih cantik dari barbie.


"Hai, adik madu." Sapanya.


"Namaku Ajeng." Balas Ajeng.


"Ya, tapi aku lebih suka memanggilmu adik madu, seperti statusmu."


"Bagaimana, acara pernikahanmu kemarin? Pasti menyenangkan."


Ajeng heran dengan sikap Stevy, bagaimana dia tidak sakit hati bahkan suaminya terang-terangan menikahi wanita lain.


"Aku sedih, Ferland tidak mengijinkanku datang,"


"Karena ada ibu Alina, ibu Alina tak suka padaku, karena aku belum bisa memberinya cucu, dia anggap ku mandul."


"I-i-ibu Alina tau tentangmu?"


"Iya, walaupun sejak awal menikah ibu Alina tidak menyukaiku, tapi Ferland tetap memaksa, dan menikahiku secara diam-diam, sampai dia tahun ini ibu mertua masih tidak menyukaiku."


"What? Dua tahun, dan Ajeng baru tau saat dia sudah sah menjadi istri, bahkan istri ke dua" Pikir Ajeng.


"La-lalu... "


*KLE KKKK* pintu kamar tebuka, melihat yang diambang pintu adalah Ferland, Stevy langsung menghampiri Ferland,


"Kau merindukanku?" Ucap manja Stevy,


Tanpa bicara Ferland merangkul Stevy dan membawanya pergi.


"Dasar manusia-manusia aneh, Oh Tuhan, kenapa jalan hidupku nelangsa sekali." Gumam Ajeng menarik selimut dan tertidur.


-


Ajeng terbangun ternyata hari sudah malam, perutnya sudah berdendang meminta jatah makan malamnya.


Ajeng bingung, apakah dia harus turun atau tidak, ia melirik jam sudah jam sepuluh malam.


"Ah sudah malam, pasti mereka sudah tidur, biar deh gue turun aja, gak lucu juga kalo mati kelaperan."


Ajeng beranjak dari kasurnya, berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara.


Ajeng membuka kulkas, Ajeng mengambil beberapa kue dan minuman juga cemilan.


*Klek* lampu menyala, Ajeng terkejut karena Ferland sudah memergokinya.


"Sial, apa kupingnya punya indra ke enam." Gumam Ajeng.


Ferland mendekat, menatap makanan di meja makannya.


"Ini milik Stevy," Ucapnya sambil memasukkan kembali ke dalam kulkas.


"Kalau kau ingin makan, masak sendiri."


Ucapnya lalu berlalu meninggalkan Ajeng, Ferland menghidupkan televisi dan menontonnya.


"Pelit sekali Ya Tuhan, apa-apaan ini, masak apa gue, sialan dasar." Gumam Ajeng, Ajeng mengambil sayuran, sosis dan nasi yang masih ada untuk dimasak nasi goreng.


"Masak apa dia, harum sekali." Gumam William.


William melirik Ajeng yang asik makan sambil memainkan ponselnya.


"Sopan sekali dia, ada aku tidak menawari makanan sialan itu." Geram Ferland.


Ferland mematikan TV dan beranjak menaiki tangga dan masuk kekamarnya, kamar Stevy dan dirinya.


Setelah puas makan dan bersantai, Ajeng melirik jam, sudah jam 00.15, matanya mulai mengantuk. Ia bergegas menuju kamarnya,


Saat sudah didepan pintu kamar, terdengar suara bising desahan desahan dan rintihan kenikmatan dari kamar Ferland dan Stevy, Ajeng bergidik, bulu kuduknya meremang.


"Menjijikan" Sungut Ajeng sambil masuk ke kamarnya.


Ia menatap ponsel, memberikan pesan pada William, namun tetap tidak ada balasan.


"Apa gue kasih tau William soal istri Ferland,"


"Emmm... Jangan dulu deh,seenggaknya gue gak perlu repot-repot ngurusin tu manusia salju,"


Ajeng menyumpal kedua telinganya dengan kapas, dan tertidur nyenyak.