
"Reva mengerjap ngerjap kan manik mata milik nya menyesuaikan dengan cahaya yang ada di ruangan ini, hingga dia sadar bahwa ada tangan kekar yang sedang melingkar di perut rata miliknya, dia menoleh ke arah samping dan mendapati wajah Rey yang sedang tertidur pulas, Reva masih enggan untuk melepaskan pandangan nya dari wajah tampan itu, dia menelisik wajah tampan itu dan tanpa sadar tangan nya mulai meraba wajah tampan milik Rey yang sekarang berada di hadapan nya, kemudian dia mengelus rambut Rey dia tak tau entah apa yang membuat nya melakukan hal ini.
"Apa yang kau lakukan" ucap Rey tiba tiba dengan nada khas orang bangun tidur sambil sesekali mengucek matanya.
"Tidak ada pak" balas Reva cepat hendak menarik tangan nya namun dicekal oleh Rey.
"Lakukan lagi, ini membuat ku sangat nyaman" ucap Rey kemudian membawa tangan Reva kembali mengusap kepala nya.
"Ck, maaf pak seharusnya kita tidak melakukan ini semalam" balas Reva kesal sambil menarik tangan nya lalu bangkit dari tidur nya.
Tak tahu kah Reva bahwa perkataan nya terdengar.... Ambigu.
"Memang nya kita melakukan apa semalam, heum?" tanya Rey menggoda.
"Dasar otak mesum!" balas Reva cepat hendak pergi dari ruangan itu.
"Saya tidak mengatakan apa apa, apa jangan jangan jangan kamu yang berfikir aneh aneh ya, ck ternyata Reva sekarang tidak sepolos Reva dulu." ucap Rey dengan nada prihatin seraya terkekeh.
Skakmat!
Wajah Reva sekarang sudah merah seperti tomat, dia berusaha menutupi pipi nya yang kalau di Novel dikatakan seperti kepiting rebus.
Melihatnya itu Rey semakin tergelak dan dihadiai tatapan tajam dari Reva, dia tak menyangka seorang wanita yang dulu sering menangis mengikuti alur kehidupan nya tanpa niat ingin mengubah nya sekarang sudah berubah menjadi wanita yang elegan, mandiri, serta kilatan keberanian sangat terpancar di manik coklat mata indah nya itu namun tak sadar kah Rey bahwa sebagian besar kesedihan nya itu siapa yang melakukan nya?
"Saya rasa saya harus pergi sekarang pak sebelum para karyawan bapak datang dan mengatakan tidak tidak perihal kita " ucap Reva melangkah kan kaki nya menuju pintu.
"Wah, bapak tidak seperti Rey yang saya kenal dulu awal nya saya datang saya fikir bapak masih sama seperti dulu tapi ternyata tidak ya, dan ya saya tidak akan terpancing gombalan bapak yang receh itu seperti sekretaris bapak." balas Reva sarkas.
"Oh jadi kamu cemburu?" tanya Rey sambil menaikkan sebelah alis nya berniat menggoda Reva.
"Haha maaf ya pak, saya malah kasian sama sekretaris bapak, bisa bisa nya masuk ke dalam jeratan buaya 🐊 seperti bapak, ck menyedihkan." balas Reva dengan nada tak kalah sarkas, ah! Melihat Reva yang Crewet seperti ini sangat menyenangkan bagi Rey.
Reva pun kembali pulang ke rumah nya untuk membersihkan diri ya tentu saja dengan berdalih kepada orang tuanya bahwa dia menginap di apartemen milik teman nya semalam.
Setelah membersihkan diri nya dia berjalan ke arah nakas samping tempat tidur nya mengambil ponsel yang sedang berbunyi lalu mengangkat panggilan dari orang yang tak dikenal dengan senyum meremehkan nya yang dia yakini orang yang selalu meneror dia.
"Seperti memang lo gak mau jerah juga ya jauhi Rey, ok lo nantangi gue!" ucap orang di seberang sana dengan suara penyamaran nya.
"Hah! Lo pikir gue takut sama pengecut yang hanya bisa ngancam doang?, cih gue ngak nyangka lo bakal serendah itu!" balas Reva tak kalah meremehkan.
"Lo.. ! Udah berani ya liat aja nanti, gue raja dalam permainan ini!" balas orang itu.
Reva tertawa sumbang dan ia yakini bahwa si penelpon misterius itu sudah menggeram menahan amarah nya "Dengar ya siapa pun lo gue ngak bakalan takut, You King of the game? Hah seriously? Bahkan ancaman mu itu seperti mesin rusak di telinga gue!." balas Reva dengan nada meremehkan nya.
"*D*amn!" setelah umpatan dari si penelpon, Reva pun akhirnya memutuskan sambungan nya sepihak.
Reva sekarang bukan lagi gadis kecil yang suka menangis, luka nya di masa lalu membawa dia menjadi wanita pemberani layaknya burung phoenix, dia tak takut akan ancaman yang akan datang padanya, dunia boleh tertipu dengan wajah lugu nya tapi sekarang otak cerdas nya sudah di gunakan nya baik baik untuk memanipulasi keadaan, dia sadar bahwa hanya dengan air mata tak akan mengubah segala nya, dia berjanji bahwa kejadian diri nya beberapa tahun yang lalu tak akan terjadi lagi padanya akibat kelemahan diri nya.
"Akh sial! Gue ngak yangka dia bakalan berubah!" teriak seseorang dari tempat lain sambil sesekali menendang udara yang ada di depan nya menyalurkan kekesalanya akibat sambungan telfon nya yang dimatikan sepihak.