
"Jadi bagaimana dengan kecelakaan itu apa sudah ada bukti?" ucap Reva kepada dua pria yang ada di depan nya itu, yang tak lain adalah Dodi.
Sekarang mereka berada di sebuah kafe tak jauh dari apartemen Dodi setelah Reva menenangkan Feni tadi dia pun memutuskan untuk bertemu Dodi, tangan nya juga sangat gatal ingin menengelamkan Medusa sialan itu ke rawa rawa, grtttt!
Tak butuh waktu lama akhirnya Dodi datang ke kafe yang dikatakan Reva tadi dan disini lah mereka sedang berbincang, tak lupa juga kehadiran Morgan karena dia juga ambil alih dalam kasus penyelidikan ini mengingat pangkat dia yang sudah tinggi di kepolisian. Rey? Entahlah Reva tak tau kemana dia semenjak pagi hingga sore ini dia tak menerima kabar apapun hati nya gelisah namun dia tak tau apa yang harus digelisahkan nya, ah! Ngapain dia harus gelisah bukan kah tadi dia melihat mantan suami nya itu sedang bersenang senang dengan sekretaris nya, tapi entah kenapa melihat itu hati Reva merasa teriris, sebegitu susah kah cinta ini hilang, bahkan ketika Reva tak mengharapkan tumbuh tetapi dia malah tumbuh setiap hari nya dan hanya meninggalkan rindu yang bergejolak namun ketika tuhan mempertemukan mereka kembali, seakan takdir kembali mempermainkan mereka, ketika rindu itu hilang dan digantikan dengan rasa cemas akan bagaimana hati nya nanti akan memilih.
"Belum ada bukti Rev, gue juga gak tau pada saat kami menyelidiki ke TKP tak ada tanda tanda yang patut dicurigai, dan supir truk itu juga hilang bagai ditelan bumi" balas Morgan menjelaskan.
"Gue mohon sama lo berdua, cari ini secepatnya, gue tau lo berdua punya potensi apa lagi lo Morgan gue percaya kalau kalian bisa mengatasi masalah ini" ucap Rey dan hanya diangguki oleh Dodi dan Morgan.
"Kalau gitu gue balik lagi, ada urusan yang harus gue lakukan" ucap Reva lalu pergi dari hadapan ke dua pria yang masih tenggelam dalam pikiran mereka masing masing.
Hari sudah sore namun Reva tidak pulang di memutuskan pergi ke pantai menikmati senja yang sebentar lagi akan tiba, dia masih setia menatap langit yang berwarna oranye itu menandakan bahwa sang surya akan pamit undur diri dan akan digantikan dengan sinar dari rembulan hingga lamunan Reva tersadar kan oleh getaran ponsel miliknya yang berada di sling bag miliknya. Dia pun mulai membuka ponsel miliknya terdapat sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal namun Reva tau siapa pemilik nomor tak dikenal itu.
0823XXXX
Send a picture
Tangan Reva mengeras melihat photo yang dikirim dari si peneror, itu adalah sebuah siluet wanita yang sedang memandang sunsite (benar kagak sih) dan dia mengenal postur badan itu, itu adalah postur badan milik dia, berarti sang peneror itu selalu menguntit dia, apa jangan jangan itu orang yang sama dengan yang di Mall kemarin?
Reva celingak celinguk mencari si peneror itu namun nihil tak ada tanda tanda orang yang mencurigakan bahkan pengunjung di sini sudah mulai berpulangan karena hari sudah gelap.
0823XXXX
Bagaimana lo terkejut ya, haha tenang aja gue ngak bakalan lukain lo langsung, gue akan buat lo tersiksa dengan melukai orang orang terdekat lo, so lo tenang saja baby❤️
Damn! Reva menggeram apalagi ketika peneror itu mengirim kan photo wajah Feni dan disilang tanda X merah
0823XXXX
Gimana, udah mau nyerah gak papa lo tinggal bilang aja kok gue ngak bakalan gangu kehidupan lo lagi. tapi kalau lo ngak mau nyerah selanjutnya yang akan gue celakai dia!
Send a picture
Reva ingin sekali mengumpat dan mencakar cakar wajah sang peneror ini melihat photo ibu nya, berarti sekarang dia harus melindungi ibu nya harus!
Reva
****!!
**Read
✴️✴️✴️✴️**
"Lo ngak pernah cek up lagi kan?, berapa kali gue bilang sama lo!!, lo niat sembuh kagak sih Rey!!" teriak pria itu kesal dan semakin jengkel ketika Rey tak merespon dan hanya duduk di bangku apartemen milik Rey dengan mata yang terpejam, dia yakin bahkan sangat yakin bahwa pria itu tidak tidur. Seperti nya mengorok leher orang sekali sekali ngak papa la ya?
"Lo dengar gue kagak sih!!" pria itu berdecak sebal.
"Hmm"
"Lo budeg tiba tiba, tapi sepertinya penyakit lo gak ada kaitan deh!!" ucap pria itu semakin kesal.
"Hmmm"
"ye, lo tau kagak nisya sabyan noh, lo mungkin adek nya ya tau nya ham hem teross kesal gue!!"
"Berisik lo!!" Rey berdecak sebal.
"Gue pengin lo sehat kembali Rey, kayak dulu lagi, sekarang lo juga punya tujuan baru kan, Reva. Tapi ehmm um" pria itu ragu menjawab.
"Gue udah capek lima tahun gini terus mungkin kalau gue pergi semua bahkan senang termasuk Reva mungkin, lo tenang aja gue akan berusaha menjauh dari nya agar nanti kalau gue pergi dia ngak merasa kehilangan"
"Tapi gue percaya sama lo Rey, lo harus sembuh harus!" balas pria itu menegaskan.
"Gue udah firasat, gue bakalan gak lama lagi di sini, gue rasa pekerjaan gue udah selesai di dunia ini, gak usah sedih lo! Gue ngak kemana kemana kok! Gue cuman akan berada di antara bintang di langit sana dan akan mengawasi kalian" balas Rey tersenyum hambar.
"Gue harap lo sembuh, gue mohon Rey!" batin pria itu sambil menatap nanar ke arah Rey yang sedang fokus memejamakan mata nya.