I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 8



Dalam perjalanan William terus menggenggam tangan Ajeng, mengelus nya dan menciumnya. Begitu bahagia William saat ini.


"Perjalanan ini panjang Wil, mungkin kita sampe di desa nanti malam."


"Gak papa Ajeng, gue seneng kok."


William menarik kepala Ajeng dan membenamkan di dadanya, Ajeng terlelap dalam dekapan William.


_______


Mata Ajeng berbinar melihat gerbang rumahnya, sekian lama ia tak mengunjungi orangtuanya, kali ini ia kembali, bersama orang yang dicintainya, sedangkan William terkejut sangat terkejut melihat rumah Ajeng yang seperti istana.


Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan, namun rumah itu memang istana.


Ajeng turun dari mobil, menghampiri bebrapa orang yang bertubuh besar dan sangat itu.


Semua menunduk hormat pada Ajeng.


Mereka membuka gerbang yang sangat tinggi itu.


Mobil melaju masuk. Benar-benar seperti istana, halaman sangat luas dengan tanaman bunga-bunga dan air mancur yang sangat indah.


William jadi merasa kecil, melihat suasana rumah Ajeng yang banyak bodyguard dan pelayan-pelayan berseragam.


"Ayo masuk Wil."


Ajeng menarik tangan William,


"Ajeng putrikuu, kamu pulang ndhuk,"


(Ndhuk\=sebutan untuk anak perempuan Jawa)


Ucap wanita paruh baya dengan sanggul, baju dan selendang kebangsaan Jawa di tubuhnya. Penampilannya sungguh sangat menunjukkan kehormatan yang tinggi kastanya. Meskipun sudah berumur namun tetap terlihat anggun dan menawan ia ibu Ajeng, Ningrum namanya.


"Nggeh, buk, Ajeng pulang. Oh, iya ini William buk,"


Ibu Ningrum beralih menatap William, senyum ramahnya terpancar, hangat, senyum hangat khas seorang ibu yang menyayangi anaknya. William menyalami ibu Ningrum dengan santun.


"Cah bagus, istirahat dulu le, monggo,"


(Cah bagus,\=anak tampan, Le\=sebutan untuk anak laki-laki)


"Iya tante, terimakasih."


Ibu Ningrum terkekeh, "panggil ibu aja, gak pantes sebutan tante buat ibu le, sudah sana istirahat kalian pasti cape."


"Mbak, tolong anterin temen saya ke kamar tamu ya," Pinta Ajeng.


"Baik non,"


__________


William gugup, bagaimana bisa ia akan melamar gadis bangsawan, lihat kamar tamunya saja sudah seperti kamar hotel bintang lima dengan fasilitas mewah.


William menatap kotak merah berisikan cincin berlian yang akan ia berikan kepada Ajeng, terasa kecil, sangat kecil jika melihat siapa diri Ajeng sebenarnya. Terasa tak pantas jika ia harus memberikan cincin murahan seperti itu untuk seseorang yang sangat berharga dan memiliki kasta tinggi seperti Ajeng.


__


Pikiran Ajeng kalut, bagaimana ia memulai berbicara pada orangtuanya, bagaimana nanti tanggapan orangtuanya.


Ajeng menghempaskan diri di ranjang super mewahnya, terasa sangat empuk dan nyaman, Ajeng pun terlelap.


________


Seseorang mengetuk pintu kamar William, William yang sedari tadi bingung harus melakukan apa akhirnya bangkit dan membukakan pintu.


"Maaf, tuan, sudah ditunggu sarapan di bawah, mohon permisi,"


William berjalan, terasa sangat lama untuk sampai ke ruang makan.


Terpampang meja makan yang sangat besar, matanya tertuju pada Ajeng, terpesona William dibuatnya, penampilan Ajeng yang sungguh berbeda dari biasanya.


Ajeng memakai kebaya kutu baru, dengan rambutnya yang dikepang membentuk sanggul kecil, Ajeng terlihat begitu anggun mempesona.


Mereka makan dalam diam, nyaris tidak terdengar denting sendok beradu dengan piring, begitu kagum William melihat semua tata krama di rumah ini.


Selesai makan Ajeng meminta ibunya untuk bercengkrama atas niatan William kemari.


Ibunya mengajak Ajeng dan William ke ruang keluarga.


"Mbak, tolong panggilkan bapak." Ucap ibu Ningrum.


"Nggeh, ndoro."


Setelah semua berkumpul, ibu, bapak dan kaka Ajeng "Dimas" suasana menjadi tegang dan hening.


"Ekhemm, pak, bu, begini, saya William, niatan saya kemari ingin silaturahim dengan keluarga Ajeng, dan.... E.... Saya.. . Sa.. . " Tiba-tiba William menjadi sangat gugup, tangannya menjadi dingin, ia menatap Ajeng di sebelah kakaknya yang sedang menahan tawa.


"Ayo nak, lanjutkan,"


"E... Begini pak, saya.... Saya mau.... Mau melamar putri bapak," Ucap William terbata.


Hatinya lega telah mengatakan apa yang ingin William katakan.


"Ooo begitu, begini nak William, sebelumnya, bapak minta maaf, karna putri bapak, Ajeng, sudah terikat perjodohan dengan sabahat bapak dari Ajeng masih sekolah."


Ajeng terkejut, menatap bapaknya begitu dalam, mencari celah kebohongan dari mata bapaknya, namun tidak ada, bapaknya penuh dengan keyakinan mengatakan itu,


"Pak, bapak gak pernah ngomong sebelumnya sama Ajeng pak, bapak jangan bohong."


"Rencananya setelah kamu wisuda ndhuk, bapak akan menikahkan kamu sama anak dari sahabat bapak."


"Pak, sahabat boleh sahabat, tapi ndak gini caranya pak, Ajeng punya hati, Ajeng ndak mau dijodohkan!"


"Ndhuk, jaga bicaramu sama bapak." Ucap ibu menenangkan Ajeng, sementara William tertunduk lesu, tak terasa air matanya menetes.


"Mas,, mas Dimas tolongin Ajeng, Ajeng ndak mau dijodohkan!" Ucap Ajeng menangis, kakaknya hanya memeluknya menenangkannya.


"Pak, Ajeng ndak mau! Ajeng cinta sama William, bapak ndak berhak atur hidup Ajeng!" Ucap Ajeng meraung.


"Ini keputusan sudah lama ndhuk, mau tidak mau bapak tidak akan merubah semuanya, nah nak William, bapak harap nak William tidak tersinggung, tidak marah dan tetap menjaga silaturahim sama keluarga bapak."


William mengangguk, menatap Ajeng yang terus menangis, ingin rasanya memeluk Ajeng disaat seperti ini.


"Bapak permisi."


"Paaakkk!! Bapakkkk!! Ajeng ndak mau pakkk!!!" Jerit Ajeng histeris.


"Maaassss Ajeng ndak mau mas, mas Dimas tolongin Ajeng..." Hikshikshiks...


"Jeng, ndhuk, kamu tau bapak gimana, mas ndak bisa berbuat apa-apa, mas pun sama dijodohkan sama bapak," Ucap Dimas memeluk adiknya erat.


Ajeng begitu tersakiti, Ajeng berhambur memeluk William dalam tangis, William pun sama begitu hancur dan berat menerima kenyataan, tak tega melihat adiknya, Dimas pergi meninggalkan Ajeng dan William yang masih kalut dengan tangis dan pikirannya masing-masing.


"Will, kita pergi dari rumah ini Wil," Ucap Ajeng masih dengan tangisnya.


"Jeng, kamu mau pergi kemanapun bapakmu tetap akan mencarimu,"


"Lo gak akan perjuangin gue Wil? Lo bohong, katanya lo cinta sama gue! Mana Wil, perjuangin gue Wil!!" Jerit Ajeng.


William memeluk erat Ajeng, airmatanya juga tak bisa dibendungnya, tak tau harus berbuat apa, tak mungkin ia melarikan Ajeng, sampai ke ujung duniapun pasti bapak Ajeng akan menemukannya.


Bahkan Ajeng bisa menjadi lebih tersiksa jika ia melarikannya.


Pikiran William kalut, hatinya begitu hancur menerima kenyataan sepahit ini.


Mau tak mau ia tetap harus melepaskan Ajeng, ia sadar siapa dirinya.


"Ajeng," Lirih William, Ajeng mendongak menatap William.


William memakaikan cincin berlian yang dibawanya ke jari manis Ajeng.


"Lo tetap milik gue, gue akan setia sama lo, gue akan tetap jagain lo, gue tetap menanti lo Jeng, kita gak bisa lari kemanapun," Lirih William menenangkan Ajeng.


"Tapi Wil,... "


"Percaya sama Tuhan, kalau emang kita jodoh, kita akan bersatu nantinya,"


Ajeng semakin terisak, ia mengeratkan pelukannya pada William, William menghembuskan nafas berat, mengusap lembut kepala Ajeng, ia berusaha tegar, meski hatinya kini sangat sangat kacau.


__________________


Pagi buta Ajeng berkemas, Ajeng menemui ibu bapaknya untuk pamit ke ibu kota.


"Sampai bapak tidak membatalkan perjodohan Ajeng, Ajeng ndak akan pulang."


Ucap Ajeng menggandeng William, namun William tertahan, ingin rasanya ia bersujud di kaki bapak Ajeng agar bisa merubah keputusannya.


Namun lagi-lagi ia sadar siapa dirinya bisa memaksakan menikahi Ajeng.


William melepaskan tangan Ajeng, dan berjalan ke arah orangtua Ajeng.


"Bu, pak, William mohon pamit, terimakasih sudah sudi menerima kehadiran William." Ucap William sopan menyalami kedua orangtua Ajeng.


Bapak Ajeng membisikkan sesuatu saat William sungkem kepadanya, William hanya mengangguk dan pergi dari rumah bak istana itu.


Bapak Ajeng membiarkan putrinya pergi, ia tahu jelas bagaimana watak Ajeng yang menuruni wataknya, jadi tak akan bisa ditahan meskipun ingin sekali tidak mengijinkan Ajeng untuk pergi lagi dari rumah.


Didalam mobil Ajeng kembali menitikan air mata, meski kini tangisnya tak bersuara, tapi terlihat dari raut wajahnya Ajeng sangat terluka.


William menggenggam tangan Ajeng, cincinnya masih berada disana, dijari manis Ajeng. Ia mencium tangan Ajeng hingga ia pun ikut meneteskan air mata.