
Kehamilan Ajeng sudah memasuki bulan ke-8, perutnya semakin membuncit, Wiliam semakin menaruh perhatian lebih kepada Ajeng.
Zahra yang sudah menginjak satu tahun semakin pintar, ia kini sudah bisa berjalan, kecerdasannya mengenal sesuatu sepertinya sangat menurun dari Ferland, semakin menonjol sifat-sifat Zahra yang menuruni Ferland, wajahnyapun semakin terlihat perpaduan Ajeng juga Ferland.
Ajeng sedikit lega, meski begitu bola mata Zahra sama seperti miliknya, hitam pekat dan matanya bulat, tidak sama seperti mata Ferland yang sipit dan berwarna keabuan.
Ajeng semakin hari semakin bahagia, perlakuan William dan kasih sayangnya kepada Zahra tidak pernah berkurang.
"Sayang, jika dia laki-laki mau dikasih nama siapa?" Ucap William mengelus perut buncit Ajeng.
"Aku pengen kasih dia nama Williamson,"
William mengerenyitkan dahinya, mendongak menatap Ajeng heran.
"Williamson? Kenapa?"
"Biar dia kuat kayak Samson, tapi tetap tampan dan gagah sepertimu, hahahaha"
"Kau garing sableng." Gumam William.
"Heh, sama istri itu gak boleh begitu, istri lagi hamil loh, harus di sayang-sayang, dimanja-manja, dielus-elus,"
"Oooo.... Pengen dimanja? Dielus? Disayang??"
Ajeng mengangguk, tiba-tiba William menggendong Ajeng dan membawanya kekamar.
Ajeng memukul-mukul dada William karena takut terjatuh.
"Will, lepas eh nanti jatuh,"
"Aku adalah Williamson, hahaha"
"Wil, gak lucu ah.."
William membaringkan Ajeng perlahan.
"Wil, jangan macam-macam,"
"Loh katanya tadi harus disayang-sayang, dielus-elus, sini biar aku lakukan."
"Hhmmmppttt.... Ahhh Will... "
Ajeng mendesah saat William menciumi lehernya, sambil mengusap kedua gu*dukan indahnya.
William kembali Mel*mat bibir Ajeng dengan lembut, keduanya beradu dalam kenikmatan.
William memainkan mahkota Ajeng dengan jarinya.
"Aaaakkhhh... Akhh..."
Desahan Ajeng membuat William semakin semangat, William sudah bersiap pada posisinya, namun bel apartemennya berbunyi.
"Will, ada orang,"
"Ah tanggung sayang, selesaikan aja ya."
"No, Will, sana liat siapa yang dateng."
"Ahhh tanggung sayang, lihat, kasian juniorku."
"Will." Singkat Ajeng menatap William tajam, William merebahkan diri disamping Ajeng.
"Kau saja yang lihat, aku marah." William menutup dirinya dengan selimut, sedangkan Ajeng memakai kembali pakaiannya.
"Ayolah sayang, sebentar sajaa,"
Ajeng mengacuhkan William dan bergegas melihat siapa tamu yang datang. William mengacak geram rambutnya.
"Haahhh gagal maning, gagal maning." Gumam William.
Tak lama Ajeng masuk kamar membawa sebuah bingkisan besar.
"Wil, lihat kado."
"Gak mau,"
"Yasudah," Ketus Ajeng.
Ajeng membuka bingkisan tersebut, berisi pakaian-pakaian bayi dan perlengkapan lainnya. Sedang William membenamkan wajahnya dibantai, hasratnya buang tak sampai membuat pening kepalanya.
Tak tahan dengan peningnya William bangkit menghampiri Ajeng yang masih sibuk membereskan hadiah kotak besar itu.
"Honey... "
"Hmmm.... "
"Sudahkan lihat hadiahnya?"
"Wil, pakai pakaianmu,"
"Ayolah sayaaang,,, kali ini saja, aku janji tidak akan memaksamu lagi, kasihan dia" Ucap William memelas.
"Janji?"
William mengangguk, tanpa aba-aba Ajeng menarik leher William dan menciumnya, seperti mendapat angin segar William membalasnya dengan hasrat yang sempat tertunda.
William memulai kembali permainannya, membuat Ajeng dimabuk kepayang, seperti melayang hanya d*sahan-de*ahan Ajeng yang terdengar semakin membuat William membara.
William menyalurkan has*at yang tertunda, dengan irama yang mengalun indah di iringi desahan Ajeng membuat keduanya mereguk nikmatnya surga dunia.
Setelah sampai puncaknya William merebahkan diri di samping Ajeng, mengelus perut buncit Ajeng.
"Sayang, maafkan aku memaksamu,"
Ajeng menoleh, dikecup nya hidung mancung William.
"Aku ada pertemuan klient nanti sore, do'akan semoga berhasil, untuk anak kita kelak."
"Selalu sayang, sudah sana siap-siap, aku juga akan menjemput Zahra di rumah bu Alina."
William mengangguk dan langsung masuk ke kamar mandi.
----
"Aku antar ya."
"Gak terlambat nanti kamu Wil?"
"Masih ada waktu setengah jam lagi,"
"Oke"
William fokus menyetir, sementara Ajeng memainkan ponselnya.
Tiba-tiba William memberhentikan mobilnya,
"Honey," William menggenggam tangan Ajeng, Ajeng menoleh.
"Siap tuan," Goda Ajeng.
----
Sampai di rumah Ferland, William mengantar Ajeng sampai menemui Zahra yang sedang bermain bersama Ferland.
"Hey, Will." Sapa Ferland ramah.
"Hey, Ferland, aku bisa bicara sebentar?"
"Ya,"
Ajeng melihat suaminya berbicara dengan Ferland.
"Aku harus menemui klient, dan sepertinya akan pulang malam, berjanjilah kau jaga istriku, dan mengantarnya pulang."
"Okey tak masalah Wil, kau bisa mengandalkanku."
"Terimakasih, aku titip dia bersama anakku, aku percayakan padamu." Sambung William menepuk pundak Ferland, Ferland hanya mengangguk.
William menghampiri Ajeng dan mengecup kening Ajeng, dan menciumnya bibir Ajeng, William mencium perut Ajeng, diusap nya penuh kasih sayang.
"Aku berangkat dulu, aku titip anak kita ya, jaga dia selalu, kamu hati-hati jangan terlalu lelah."
"Iya sayangku..."
"Byee... Nak, jangan rewel ya papah pergi dulu," William kembali mengecup perut Ajeng.
-------
Ajeng dan bu Alina bermain bersama Zahra, tingkah laku Zahra mampu membuat tawa orang disekitarnya, tubuhnya yang montok dan tingkahnya yang menggemaskan.
"Bu, titip sebentar, Ajeng mau ke toilet."
"Iya nak, Hati-hati."
Tak lama terdengar suara teriakan Ajeng dari arah kamar mandi, bu Alina langsung menggendong Zahra dan berlari menuju toilet bersama Ferland, terlihat Ajeng yang sudah terduduk di lantai dengan darah yang mengalir.
"Ya, Allah nak," Pekik bu Alina panik.
Ferland yang panik langsung menggendong Ajeng yang meringis menahan sakit, untuk dibawa ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, sempat macet karena ada kecelakaan lalu lintas, mobil melaju pelan melewati sebuah mobil yang ringsek akibat tabrakan itu karena jalan yang tiba-tiba macet.
Ajeng terbelalak ketika melihat mobil itu adalah mobil suaminya.
"William.....!!!!!! Aaaakkhhh!!!!" Teriak Ajeng, Ajeng ingin berlari turun dari mobil, namun ia tak sanggup karena perutnya semakin sakit dan panas, sepertinya ia akan melahirkan.
"Fer, itu William Fer, aakhh, berhenti Fer, hentikan mobilnya." Rengek Ajeng menangis.
"Aku akan urus, sekarang kau lebih penting, disana sudah ada polisi Jeng."
Ucap Ferland mencoba tenang, padahal hati dan pikirannya begitu panik. Ajeng tak henti-hentinya menangis, mengingat suaminya berada di mobil itu, ia tak salah lihat plat nomer mobil itu benar milik suaminya.
&&____
Sampainya di rumah sakit Ajeng langsung ditangani medis, Ferland menunggu di luar ruangan, ia telah mengarahkan orang-orangnya untuk mencari tau kejadian kecelakaan tadi.
"Maaf Pak, ibu Ajeng akan segera melahirkan, bapak bisa masuk untuk menemani prosesnya." Ucap dokter perempuan.
Ragu namun Ferland memilih masuk, ia teringat ucapan William tadi saat dirumahnya yang meminta menjaga Ajeng juga anaknya.
Ferland melihat Ajeng begitu sakit, ia menggenggam tangan Ajeng dan menguatkan Ajeng agar terus berjuang. Hatinya begitu sakit melihat Ajeng yang kesakitan hingga Ferland menitikan air mata.
Setelah lama berjuang, akhirnya terdengar suara yang begitu dinantikan.
Oeeeekkkkk.... Oeeeekkkkk....
"Selamat ya, bu, pak, bayinya laki-laki." Ucap dokter itu.
Reflek Ferland mengecup kening Ajeng.
"Selamat ya, Jeng."
"Fer, William... " Ucap parau Ajeng.
"Aku akan telpon orang ku dulu, siapa tau sudah dapat info."
Ajeng mengangguk lesu.
Tak lama Ferland kembali dengan mata yang merah sehabis menangis, tubuhnya lesu, jiwanya bergetar, tak tau bagaimana dia akan menyampaikan ini semua kepada Ajeng.
"Fer, gimana? William gak apa-apa kan?"
"Ajeng, William.... Kecelakaan itu,... Merenggut William." Ucap Ferland terbata.
"Gak mungkin Fer, gak mungkin! Anak William baru lahir Fer!" Ajeng menangis histeris, ia berontak ingin turun dari kasur, Ferland menahannya, memeluknya menguatkan Ajeng yang menangis histeris.
"Williaaammmm!!!!! " Teriak Ajeng, tubuhnya masih lemas, semuanya gelap, hingga Ajeng tak sadarkan diri.
----
"Will.... Will... "
"Ajeng, kau sudah sadar,"
Ajeng menatap sekitar, kali ini dia sudah berada di rumahnya dengan selang infus yang masih menempel ditanganya.
"E-Fer, a-aku mimpi William kecelakaan Fer, Will-William.."
"Ndhuk, kuatkan hatimu ya, masih ada kami."
"Bu Alina, William..."
"Nduk, ikhlaskan ya sayang, lihat bayimu laki-laki, tampan persis seperti papahnya,"
"Papah pasti senang lihat kamu nak, tunggu nanti malam papah pulang sayang." Ucap Ajeng mengelus bayi mungilnya.
Bu Alina menangis, juga Ferland ikut menangis, Ferland mengambil bayi Ajeng dan Bu Alina memeluk Ajeng dalam tangisnya, air mata Ajeng kembali mengalir, Ajeng histeris lagi.
Bu Alina mencoba menguatkan Ajeng.
Ajeng mulai bisa mengendalikan emosinya, dan tangisnya.
"Bu, Ajeng pengen lihat William untuk yang ter-terakhir bu."
"Iya sayang, mari kita ke depan."
Bh Alina merapat Ajeng ke ruang keluarga dimana jasad suaminya sudah terbujur kaku dengan ditutupi kain.
Ajeng kembali menangis, ia berlari memeluk jasad suaminya, Ajeng terisak begitu terpukul, bahkan William belum melihat anaknya sendiri.
Bu Alina memeluk Ajeng, Ajeng begitu terpukul hingga akhirnya Ajeng pingsan untuk yang ke dua kalinya.