I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 24



Tangisan bayi mungilnya menyadarkan Ajeng, Ajeng membuka mata perlahan, matanya begitu pegal, dadanya sesak, jiwanya terguncang,


Dilihatnya Ferland sedang menimang bayi kecil Ajeng, Ajeng kemabli menitikan air mata.


"Berikan Fer," Lirih Ajeng.


Ferland mendekat memberikan bayi kecil Ajeng untuk di susui.


"Berika asimu, sepertinya dia haus, aku akan keluar."


"Fer, William,... "


"Tenanglah, tabahkan hatimu, William sudah dimakamkan, berdo'alah." Ucap Ferland sedih, Ajeng menarik nafas, ia mulai memberikan asik pada bayi kecilnya dengan air mata yang terus mengalir.


Ajeng teringat saat terakhir William meminta hanya dan berkata tidak akan lagi memaksanya, juga saat berada di rumah Ferland, perkataan William seperti menunjukkan isyarat namun Ajeng tidak peka, ternyata itu terakhir kalinya ia bersama suaminya.


"Maafkan mamah nak," Gumam Ajeng menciumi bayi kecilnya yang sangat mirip dengan William mendiang suaminya.


***


Ferland duduk termenung, kata-kata William bagaikan pesan terakhir untuknya, bagaimanapun ia harus bisa memenuhi permintaan William untuk menjaga Ajeng juga kedua anak William.


🌸🌸🌸🌸


Bayi kecilnya diberi nama William Devian Rizal.


Hari demi hari berlalu, Ajeng masih terpukul atas kepergian mendiang suaminya, bayinya juga Zahra dirawat ibunda Ajeng juga bu Alina yang selalu membantu, Ajeng hanya menyusui bayinya setelahnya ia akan termenung menatap kosong kedepan.


Berbagai cara sudah dilakukan agar Ajeng kembali seperti semula, namun belum ada yang membuahkan hasil, termasuk perhatian-perhatian Ferland kepadanya.


Hatiku sakit Ajeng melihat kau seperti ini, ijinkan aku menggantikan, tidak, tidak menggantikan, setidaknya ijinkan aku memenuhi amanat William untuk selalu menjagamu dan anak-anakmu.


Ucap Ferland dalam hati sambil menyisir rambut Ajeng yang panjang dan lebat, Ajeng seperti mayat hidup yang tak bisa merawat dirinya, hari-harinya terpuruk.


"Nak, tolong buat putri ibuk kembali semula." Ucap Ibu Ningrum terisak tak kuasa melihat kondisi Ajeng yang terpuruk.


"Saya akan berusaha bu." Lirih Ferland.


Setahun sudah kepergian William, Ajeng masih dilanda rasa kehilangan, sedikit Ajeng mulai bisa menerima keadaan meski jiwanya masih terasa kosong.


Ferland masih setia menemani Ajeng, merawat kedua putra putri William dengan penuh kasih sayang.


Ferland mengajak Ajeng untuk mengunjungi pantai.


Ajeng memandang laut lepas, angin pantai yang membuat rambutnya berantakan membuat Ajeng semakin terlihat mempesona. Ajeng dan Ferland duduk di pasir putih yang indah, Ferland menatap Ajeng sendu.


"Jeng," Gumam Ferland, Ajeng menoleh.


Ferland menggamit jari jemari Ajeng.


"Tak tahu harus mulai dari mana, aku hanya ingin memenuhi permintaan mendiang suamimu."


Ajeng menatap Ferland, tatapannya masih sedikit kosong.


"Apa," Lirih Ajeng.


"Aku ingin menikahimu, menjaga anak-anakmu dan William, mendidik dan merawat mereka, memberikan kasih sayang dan sosok ayah untuk mereka." Ucap Ferland dengan hati-hati, Ajeng mengalihkan pandangannya kembali ke laut lepas.


"Kau tau, aku sangat mencintai William, aku sangat merindukan William,"


"Ya, aku tau itu."


"Carilah wanita yang bisa membuatmu bahagia Ferland, selain aku, dan jangan aku, aku tak cukup hati untuk melukai perasaanmu, dengan kondisiku saat ini... Aku tak mau merepotkanmu untuk menjaga Zahra dan Devian."


Ajeng tertunduk menitikan air mata. Ferland membingkai wajah Ajeng dengan kedua tangannya, menatap dalam mata Ajeng.


"Aku tak keberatan dengan semua itu, please, ini permintaan Williammu, jika kau tidak bisa menerimaku, aku akan menunggu, setidaknya aku memenuhi janjiku pada Williammu."


Ferland mencium kening Ajeng dengan lembut, Ajeng merasakan sesuatu, desiran hangat yang pernah William lakukan setiap hari kepadanya, dan saat ini bukan William tapi Ferland yang mencium keningnya.


"Izinkan aku menebus segala dosaku, Jeng." Gumam Ferland.


Ajeng memegang kedua tangan Ferland yang masih membingkai wajahnya, menatap sendu wajah Ferland yang penuh ketulusan.


"Lakukanlah, untuk William." Lirih Ajeng.


"Kau, serius Jeng?"


Ajeng mengangguk, Ferland memeluk Ajeng haru, inilah kesempatan bagi Ferland untuk memenuhi janjinya kepada William, dan menebus segala kesalahannya dimasa lalu saat ia menjadi suami Ajeng, Ferland menangis haru, dan membawa Ajeng pulang ke rumahnya.


Ferland mengumpulkan keluarganya juga keluarga Ajeng, membicarakan rencananya menikahi Ajeng dan membuat rumah baru untuk ditinggalinya.


"Tak usahlah buat rumah baru, tinggalah bersama ibu nak, Ibu akan kesepian jika kau pergi nak." Ucap Ibu Alina sedih.


"Iya ndhuk, setidaknya ada yang membantumu merawat Devian juga Zahra, ibuk harus kembali ke kampung ndhuk," Ucap bu Ningrum.


"Ajeng, terserah pada Ferland bu," Lirih Ajeng.


Hatinya masih ragu untuk menikah dengan Ferland, namun demi memenuhi permintaan mendiang suaminya ia akan lakukan, ia teringat semua nasihat-nasihat yang William berikan ketika masa hidupnya.


William begitu menjadi imam yang Ajeng idamkan, William memenuhi janjinya untuk mencintai Ajeng sampai maut yang memisahkan.


*Aku berharap kelak kita akan bertemu, Wil,* Ucap Ajeng dalam hati.


🌸🌸🌸🌸🌸


Acara digelar sederhana, sebisa mungkin Ajeng menguatkan dirinya, memasang senyum palsu kebahagiaan didepan para tamu undangan.


Kini Ferland sudah sahabat menjadi suaminya lagi, rasa bahagia begitu terpancar dalam diri Ferland, namun tidak bagi Ajeng, ia kini sungguh merindukan William mendiang suaminya.


"Istirahatlah, kau pasti lelah, aku akan tidur disofa." Ucap Ferland beranjak merebahkan diri di sofa.


Ajeng mengangguk, hatinya masih belum bisa menerima Ferland bahkan untuk tidur satu ranjang dengannya. Ferland memahami keadaan Ajeng, sebisa mungkin dia akan bersabar sampai Ajeng bisa menerimanya kembali.


-------


"Fer, bangun, mari sarapan."


Ferland menggeliat, matanya terbuka, dilihatnya Ajeng yang sudah rapi membangunkannya.


Meskipun masih dengan wajah datar tanpa senyuman, namun ini sudah sebuah kemajuan untuk Ajeng mau berbicara.


Ferland mengecup tangan Ajeng.


"Kau duluan, aku mandi dulu,"


Ajeng mengangguk pergi dari kamarnya.


Setelah siap Ferland menghampiri Ajeng yang sedang bermain bersama Devian.


"Aku berangkat dulu." Setelah mengecup Devian, Ferland hendak beranjak namun Ajeng mencekal tangannya. Ferland berbalik menatap Ajeng.


"Ya?"


"Emmm.... Ee.. Jangan ke kantor."


"Kenapa?"


"Ee... Aku..."


Melihat Ajeng gugup dan bingung, Ferland memeluk Ajeng, mencium keningnya.


"Jangan khawatir, aku tidak akan ngebut, oke."


"Boleh aku ikut?"


Ferland tersadar, Ajeng masih trauma dengan kejadian kecelakaan masa lalu.


"Bersiaplah, aku menunggu."


Ajeng tersenyum, dan memberikan Devian kepada Ferland, sementara Ajeng pergi bersiap. Ferland mematung melihat senyuman Ajeng, ia tak percaya baru saja Ajeng tersenyum sangat manis kepadanya.


Ibu Alina yang melihat kejadian itu menghampiri Ferland, dan meminta Devian.


"Biar ibu yang jaga Devian nak, Jaga Ajeng, semoga ini awal yang baik."


"Ayo," Ucap Ajeng tiba-tiba mengagetkan Ferland dan bu Alina mertuanya.


Ferland menatap Ajeng mengenakan dress selutut dengan sepatu casual nya. Terlihat Ajeng seperti gadis belia, tak nampak jika Ajeng sudah memiliki dua anak. Tubuhnya masih langsung dan ideal, dengan wajahnya yang terlihat seperti gadis remaja.


"Ayo"


🌸🌸🌸🌸


Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, karyawan Ferland membungkuk hormat kepada Ferland dan Ajeng yang berjalan bersisian, sampai di ruangan Ajeng melepas genggaman Ferland dan mendudukkan dirinya disofa, sedang Ferland menuju mejanya dan mulai sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Em, Ajeng,"


"Ya?"


"Mulai besok jika kau ingin ikut aku ke kantor lagi, gantilah pakaianmu."


Ajeng melihat dirinya dengan heran.


"Apa yang salah? Apa aku mempermalukanmu?"


"Kau tidak lihat tadi? Karyawanku memandangku aneh, lihat tampilanmu, kau membuat aku seperti om-om yang mengajak anak gadisnya ke kantor."


Ajeng terkekeh, tawanya pecah, Ferland ikut tertawa bahagia melihat Ajeng sudah bisa tertawa.


"Memang kau sudah tua," Ucap Ajeng terkekeh.


"Tidak, kau yang membuatku terlihat tua," Ucap Ferland menghampiri Ajeng yang masih tertawa.


"Lihat dirimu Ferland, kau memang sudah tua, lihat rambutmu, gaya pakaianmu."


"Ganti cara berpakaianmu, imbangi aku."


"Mana bisa, kau yang harus mengimbangiku, kau yang harus menata dirimu, hahaha, sini mendekat."


Ferland menuruti Ajeng, Ajeng naik ke atas sofa karena tubuhnya yang pendek sedada bawah Ferland, mengharuskan Ajeng menaiki sofa untuk menata rambut Ferland, Ferland diam saja memperhatikan tingkah Ajeng.


"Nah, seperti ini, emmmm longgar kan dasimu."


"Hah?"


"Longgar kan b*doh," Gumam Ajeng menarik dasi Ferland, namun Ajeng tak seimbang Ferland yang kaget karena tarikan Ajeng tiba-tiba limbung menubruk Ajeng.


Keduanya jatuh disofa, dengan Ferland diatas Ajeng.


Tatapan mereka sangat dekat hingga keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


Entah siapa yang memulai tapi kini keduanya berciuman, Ferland m****** lembut bibir sexy Ajeng.