I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 32



Ajeng menatap Ferland tajam dan tegas, Ferland bergeming, lidahnya kelu.


Ajeng berlari menubruk dan memeluk Ajeng, di peluknya erat, sangat erat.


"Maafkan aku Ajeng, i-ini semua akal busuk Melinda."


Ajeng terdiam, tubuh Ferland bergetar, Ajeng merasakan Ferland tengah menangis.


"Sudah, lepaskan aku." Ketus Ajeng.


"Aku sudah bilang, aku tidak peduli dengan wanita itu."


"Ajeng aku mohon."


"Fer, sudahlah, aku lelah."


Ajeng beranjak keluar dari kamar anak-anaknya. Namun Ferland menggenggam tangan Ajeng. Ia berlutut di kaki Ajeng.


"Aku mohon,"


"Jangan kau rendahkan dirimu didepanku, itu tidak pantas untuk pembunuh sepertimu." Ketus Ajeng. Ajeng melangkah pergi meninggalkan Ferland yang masih bergeming.


Ajeng merendamkan dirinya di bathub, ia menyegarkan pikirannya.


Ferland memasuki kamar mandi, menggunakan kunci cadangan, Ajeng tertegun tapi ia mencoba tenang, Ferland duduk di pinggir bathub. Suasana hening, Ferland tiba-tiba menanggalkan semua pakaiannya, dan ikut masuk berendam bersama Ajeng, Ajeng berdiri dan meninggalkan bathub, meraih baju handuknya, namun Ferland memeluknya dari belakang.


"Aku akan berubah, ku mohon, maafkan aku." Bisik Ferland. Ferland menciumi rambut Ajeng yang basah, mengendus leher dan kuping Ajeng. Ferland membalikkan tubuh Ajeng hingga keduanya saling berhadapan.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Ferland m****** bibir Ajeng dengan lembut.


Ferland melepaskan ciumannya.


"Dengarkan aku, aku bersumpah tidak pernah tidur dengan siapapun, jangan tinggalkan aku." Lirih Ferland memandang Ajeng, Ajeng bergeming menatap Ferland.


Ia memalingkan wajahnya, Ferland membopongnya, membawanya ke ranjang empuknya.


Ferland kembali mencumbu Ajeng dengan lembut, memainkan gundukan indah Ajeng dengan lembut, Ajeng menggigit bibir bawahnya, ingin menolak namun tubuhnya tak mampu untuk menolak perlakuan mesra Ferland. Ferland mencumbunya tak melewatkan secenti pun tubuh Ajeng, meninggalkan banyak tanda cinta di leher dan dada Ajeng.


Saat ingin menerobos benteng Ajeng Ferland tersadar, ia memandang wajah Ajeng, dilumatnya bibir Ajeng, perlahan ia memasukkan kejantanannya. Ajeng mengeratkan menahan kepala Ferland agar tidak melepaskan ciumannya agar ia tidak mendesah.


Setelah semua masuk Ferland melepaskan ciumannya.


"Apakah masih terasa sakit?" Bisik Ferland lembut. Ajeng hanya menggeleng kecil.


Ferland melakukannya dengan perlahan sesuai irama yang indah.


Sampai akhirnya hasratnya terpenuhi, Ferland memeluk Ajeng, menciumi wajah Ajeng mesra.


"Percayalah padaku." Bisik Ferland.


Ajeng terpejam dipelukan Ferland.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Ajeng terbangun, ia memandang Ferland disampingnya yang masih terpejam, ia meraba wajah Ferland. Ferland membuka matanya perlahan, menahan tangan Ajeng yang masih berada di pipinya.


Ferland mencium tangan Ajeng.


"Kau sudah bangun, apakah terasa sakit?" Lirih Ferland, Ajeng menggeleng.


"Berjanjilah, kau tidak akan menyakiti siapapun." Ucap Ajeng lembut penuh harap.


"Aku berjanji, jangan tinggalkan aku." Ferland mengecup kening Ajeng.


"Kau harus minta maaf pada Reyhan."


"Setelah kau jujur padaku."


"Jujur apa?" Gumam Ajeng.


"Jujur kalau kau cemburu aku bersama wanita lain."


Bola mata Ajeng membulat, ia terduduk dengan wajah cemberut.


"Kau merusak suasana saja."


Ferland memeluk Ajeng dari belakang.


"Ayolaahh jujur saja.."


"Awas aku ingin mandi."


"Tidak mau." Ferland mengeratkan pelukannya.


"Kau sudah berjanji untuk minta maaf pada Reyhan, kita ke rumah sakit sekarang."


"Oke, tapi mandi bersama ya."


"Tidak, nanti akan jadi lama kalau kau ikut mandi."


"Ya sudah aku tidak akan melepaskanmu."


Ajeng mendengus kesal.


"Ayo cepat."


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


"Di luar hujan, apa jadi ke rumah sakit?"


"Gara-gara kau, aku sudah bilang semua akan jadi lama." Gerutu Ajeng, Ferland mengeringkan rambut Ajeng dengan hairdryer. Ajeng memoles wajahnya.


"Sudah, jangan berdandan." Ferland meletakkan bedak Ajeng dan menutupnya.


"Jangan berdandan, kau hanya boleh berdandan untukku."


"Aku akan keluar bersamamu, kau tidak malu jalan dengan istrimu terlihat buruk."


"Biarlah mereka melihatmu buruk, bagiku kau tetap cantik."


"Tidak lucu." Sungut Ajeng mengoleskan lipmatte di bibir sexynya.


"Aku serius, aku tidak suka kau dipandang oleh lelaki b*jingan diluar sana." Ketus Ferland.


"Jangan memulai."


"Ayolah, kau mengikat rambutmu tinggi pun itu sudah membuatmu terlihat sexy, leher jenjangmu membuat pria-pria akan memandangmu."


"Aku serius, aku tidak suka kau dipandang oleh pria lain."


"Aku tidak suka kau terlalu posesif seperti ini."


"Jangan berdebat."


"Terserah kau saja." Gumam Ajeng.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Ajeng mengetuk pintu kamar VIP, Wisnu membukakan pintu dan mempersilahkan Ajeng dan Ferland masuk.


"Aku ingin bicara dengan saudaramu." Ucap Ferland.


"Silahkan, aku keluar dulu." Ucap Wisnu.


Ferland mendekati ranjang Reyhan.


"Aku Ferland, suami dari Ajeng, aku ingin meminta maaf kepadamu, aku... Aku terlewat cemburu."


"Tak apa, aku mengerti."


"Semua biaya rumah sakit akan aku tanggung, tak usah khawatir, anggap permintaan maaf dariku."


Reyhan ingin menolak namun Ajeng memberi kode agar tidak menolak dan membuat Ferland tersinggung.


"Terimakasih." Singkat Reyhan.


Setelah lama berbincang Ajeng memutuskan untuk makan di kafe favoritnya.


"Sayang, ibu telfon."


"Angkatlah, barangkali minta dijemput."


Ferland menjauh dan memilih tempat yang sepi untuk berbicara dengan ibunya.


Setelah selesai Ferland kembali menemui Ajeng yang sedang menikmati makanannya.


"Ibu minta akta dan surat-surat untuk pendaftaran Zahra disana."


"Zahra akan sekolah disana?"


"Ibu bilang begitu, Zahra tidak ingin pulang, aku sudah membujuknya."


"Ya Tuhan, anak itu, keras kepala seperti ayahnya."


"William tidak keras kepala, Zahra sepertimu keras kepala dan susah diatur."


"Bukan William... Tapi kau." Sungut Ajeng.


Ferland menatap heran Ajeng, Ajeng tersadar ucapannya.


"Aku?"


"Emmm i-iya kau, kau keras kepala."


"Iya, Zahra memang mirip denganku, wajahnya pun mirip denganku, tidak jelek sepertimu."


"Aku ibunya." Ketus Ajeng.


Ferland terkekeh melihat Ajeng cemberut. Ia sangat senang menggoda Ajeng.


🌺🌺🌺🌺🌺


Ferland merebahkan dirinya di ranjang, melihat Ajeng yang tengah sibuk menyiapkan berkas untuk pendaftaran sekolah BIMBA untuk Zahra putrinya.


Ajeng tertegun, menatap selembar kertas ditangannya. Ia melirik Ferland yang fokus dengan TVnya.


Akta kelahiran Zahra dengan nama kandung ayahnya "Ferlanda Zevian". Ajeng bingung bagaimana caranya menyampaikan pada Ferland, ia takut Ferland akan marah atau membunuhnya karena telah menyembunyikan hal ini kepadanya.


"Ada apa?" Ucap Ferland tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Ajeng yang sedang melamun.


"E.... " Ajeng gugup menyodorkan akta itu kepada Ferland, Ferland menerima dan membacanya dengan teliti.


Ferland terkejut dengan Akta kelahiran Zahra, dengan gemetar Ferland bersimpuh di depan Ajeng yang masih terduduk.


"A-apa ini?, Zahra... "


"Zahra putrimu," Ajeng terdiam, kemudian ia menceritakan semuanya yang terjadi. Sampai ia melahirkan seorang putri yang William beri nama Az-Zahra.


"Maafkan aku.... " Ajeng tertunduk menitikan air mata.


Ferland menangis, hatinya terharu bahagia, ia memeluk Ajeng sangat erat dan menangis di pelukan Ajeng.


"Terimakasih, terimakasih telah mempertahankan janinku." Ucap Ferland menangis.


"K-kau tidak marah?" Ucap Ajeng mengurai pelukannya.


"Aku tidak berhak marah, dengan kondisimu, dan William saat itu pasti sangat berat, tapi William begitu menyayangi Zahra, dan kau... Kau masih mau mempertahankan Zahra saat aku-a-aku sudah menyiksamu."


"Semua karena William." Singkat Ajeng.


Ferland memeluk Ajeng, rasa bahagia sungguh tak terbendung, ia menciumi Ajeng, tak henti-hentinya Ferland berterimakasih pada Ajeng.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Ferland terduduk mengusap nisan William. Air matanya tak mampu ia bendung, semua rasa dihatinya berkecambuk.


Sebuah do'a ia panjatkan untuk William disana.


"Terimakasih William, kau sungguh benar-benar mencintai Ajeng, kau menjaga dan mengasihi benih yang bukan milikmu, kau menemani Ajeng berjuang, kau mencegah Ajeng menggugurkan benihku, kau menemani Ajeng saat berjuang bertaruh nyawa demi putriku, kau merawat buah hatiku dengan kasih sayang layaknya seorang ayah, kau sungguh berjasa William, terimakasih, sekarang giliranku membalas semua jasamu,Wil, aku akan merawat Devian, putramu seperti putraku sendiri. Juga istrimu, yang juga istriku." Ucap Ferland sambil menabur bunga di pusaran William.


🌺TAMAT🌺


Terimakasih kepada pembaca sekalianπŸ’•


maaf jika endingnya tidak sesuai harapan, dikarenakan saat ini author sedang sakit dan butuh istirahat total🌺


nantikan karya-karya Gaje author selanjutnya ya...


🌺🌺🌺🌺


I Love You Alls... πŸ’•