
Ajeng terbangun ketika mendengar keributan di lantai bawah, ia hendak memeriksanya, namun kakinya masih terasa sakit. Perlahan Ajeng turun dari ranjang dan menuruni tangga, langkahnya terhenti ketika melihat ibu Alina mertuanya sedang memarahi Stevy yang hanya menangis tertunduk, sedang Ferland sedang duduk di sofanya.
"Ibu, ada apa ini." Ucap Ajeng melangkahkan kakinya perlahan.
Ibu Alina membantu Ajeng berjalan, Stevy melirik nya dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa kakimu sayang?"
Ucap bu Alina, Ajeng melirik Ferland yang masih tertunduk.
"Jatuh di kamar mandi buk,"
"Hati-hati ndhuk, sini sarapan dulu."
Ajeng duduk di kursi meja makan, sedang bu Alina menyiapkan sarapan untuk Ajeng.
Di liriknya Stevy yang menangis disamping Ferland namun Ferland tetap diam tak membantunya ataupun merengkuh nya seperti biasa.
"Eh bu, ada yang ingin Ajeng bicarakan." Ucap Ajeng.
"Iya ndhuk, ibu juga ingin bicara, kamu makan dulu ya."
Ajeng mengangguk dan melanjutkan makannya.
Setelah makan bu Alina mengajak Ajeng ke kamarnya.
"Ajeng, maafkan ibu ya ndhuk, kamu pasti kaget soal perempuan itu."
"E.. I-iya bu."
"Begini, jadi dia kekasih Ferland, ibu ndak suka sama dia, tapi Ferland memaksa, ibu ndak tau kalo Ferland diam-diam menikahi dia ndhuk, ibu sakit hati ndhuk, ibu ndak suka dan ndak menganggapnya sebagai menantu ibu, nduk, berikan ibu cucu ndhuk, dan Ferland akan menceraikan dia."
Ajeng tersentak, bagaimana mungkin dia memberikan cucu, sedang cintanya hanya untuk William, dia tidak punya perasaan apapun kepada Ferland selain perasaan bencinya.
"Buk, bagaimana kalau Ajeng saja yang...."
"Nggak ndhuk, ibu gak mau Ajeng pergi, menantu ibu cuma Ajeng, kamu harapan ibu ndhuk."
"Ta-tapi bu..."
"Ibu tau ndhuk, lama-lama perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya ndhuk," Lembut mengelus rambut Ajeng, Ajeng hanya bisa tertunduk, perasaanya berkecambuk.
Bagaimana mungkin, hampir tiap malam Ajeng selalu menyumpal telinganya agar tidak mendengar suara desahan-desahan dan erangan si manusia salju juga tiang listrik yang sedang mengalirkan listrik dimalam hari.
Membayangkannya saja Ajeng sudah bergidik ngeri.
"Kamu jaga diri, anggap saja perempuan itu tidak ada, jika ada apa-apa hubungi ibu ndhuk, ibu pergi dulu."
Ajeng hanya bisa mengangguk.
*Brakk*
Pintu kamar Ajeng terbuka, Stevy datang dengan wajah yang merah penuh amarah.
"Jangan harap kau bisa memberikan cucu kepada ibu mertua."
Ucap Stevy penuh amarah sambil menunjuk Ajeng. Stevy hendak menyerang Ajeng, namun Ajeng sigap berdiri dan menghindar meski kakinya masih sakit.
"Tak usah khawatir, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang kau lakukan tiap malam bersama manusia suamimu itu." Ajeng masih berucap tenang, namun Stevy tak menghiraukan nya, Stevy masih terus ingin menyerangnya.
"Dasar pelakor! Tak tahu diri! Perempuan j*lang!" Hardik Stevy.
Ajeng jengah, ia menangkap tangan Stevy dan memelintir nya, menguncinya ke belakang, Stevy berontak kesetanan, ia menjerit-jeritsampai Ferland berlari menghampirinya.
"B*doh! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan istriku!" Bentak Ferland.
"Ajari istrimu tata krama sopan santun jika berbicara, jika dia masih bersikap seenaknya, berarti dia menantangku."
"Dasar j*lang! Lepaskan! Aaakkhh Ferland tolong aku..." Umpat Stevy
"Lepaskan Ajeng!" Bentak Ferland.
Ajeng mendorong tubuh Stevy hingga ambruk ke arah Ferland, dengan sigap Ferland menangkap tubuh Stevy.
"Ingat, jangan main-main denganku, atau kau menginginkan gundukan tanah bertabur bunga." Ucap sinis Ajeng, Ferland membawa Stevy pergi ke kamarnya.
Ajeng mengunci pintu kamar, ia membenamkan diri di bathtub nya. Menyegarkan pikirannya yang sangat kacau.
Setelah lama berendam, Ajeng merebahkan diri, ia menghubungi William untuk menghilangkan rasa penatnya.
Namun tak ada jawaban dari William, mungkin William sedang sibuk, pikir Ajeng.
------------
Ajeng mulai terbiasa dalam rumah itu, Stevy yang kini menjadi menjaga jarak dengannya. Juga Ferland yang semakin acuh padanya.
Membuat Ajeng sedikit lega karna tidak ada lagi yang membuatnya jengkel.
"Ambil, sudah ku bilang aku akan bersikap adil." Ucap Ferland masih fokus dengan TVnya.
"Aku tak butuh adilmu dalam kartu itu, secepatnya aku ingin terbebas dari manusia sepertimu."
"Jangan berdebat lagi." Ketus Ferland.
"Tidak lagi, jika kau menceraikanku, kau akan damai dengan hidupmu,"
Ferland menatap tajam Ajeng.
"aku tidak akan menceraikanku sebelum kau memberikan penerus untuk keluargaku!"
Ajeng terbelalak, bagaimana mungkin Ferland bisa mengucapkan itu, sedang tak mungkin ia melakukannya dengan Ferland mengingat semua perlakuan Ferland kepadanya.
"Jangan bermimpi, suruhlah istrimu memberikannya."
"Tapi kau istriku."
"Bukan aku, tapi Stevy, ingat ini hanya perjodohan, aku maupun kau tidak menyetujuinya. Jangan pernah coba-coba menyentuhku atau aku akan menghajarmu." Ketus Ajeng pergi meninggalkan Ferland.
"Ini sudah malam, jangan coba-coba pergi." Ketus Ferland namun Ajeng tetap berlalu.
Deru mobil Ajeng terdengar menjauh, Ferland hendak menyusulnya.
"Mau kemana? Biarkan dia pergi, temani aku." Bisik manja Stevy.
"Diam dan tetaplah dirumah, tidurlah lebih dahulu, jangan menungguku." Ucap Ferland berlalu.
Stevy cemberut tak biasanya Ferland mengacuhkannya.
-
Ferland mencari Ajeng, ia memeriksa ponselnya sebelumnya ia telah menyeting mobil Ajeng agar dapat di lacak dimanapun Ferland inginkan.
Ferland mendapati mobil Ajeng terparkir di club malam.
Tergopoh Ferland memasuki club malam itu mencari Ajeng, ia menemukan Ajeng di meja baru hendak meminum alkohol. Di tepatnya alkohol dari tangan Ajeng hingga gelas itu terjatuh pecah.
Ferland menarik tangan Ajeng, menyeretnya keluar dari club malam itu.
"Lepasin! Aaakkhh!!" Pekik Ajeng memegang pergelangan tangannya.
"Pulang!"
"Pergi! Pulanglah sendiri!"
Ferland mencium bau alkohol, sepertinya Ajeng sudah minum beberapa gelas, terbukti Ajeng masih sadar dan bisa menguasai dirinya, Ferland menyeret Ajeng masuk ke mobilnya dan membawanya pulang.
Sampai dirumah, Ferland membawa Ajeng masuk ke kamar mandi di kamar Ajeng dan mengguyurnya.
Stevy terbangun karena kebisingan, ia menuju arah kebisingan itu, melihat Ajeng sedang diguyur Ferland hatinya mendadak senang.
"Apa dia mabuk?" Ucap Stevy.
"Pergi ke kamarmu." Ketus Ferland.
"Ayolah sayang, aku masih ingin disini." Ucap Stevy bergelayut manja di lengan Ferland. Ferland menarik Stevy keluar kamar Ajeng.
"Pergi tidur, dan jangan ganggu aku."
Ketus William menutup pintu kamar Ajeng dihadapan Stevy lalu menguncinya.
Ajeng menutup pintu kamar mandi, ia menangisi kebodohannya.
Ajeng memutuskan untuk mandi, jiwanya lelah, setelah mandi ia ingin cepat-cepat beristirahat.
Ajeng mengenakan baju handuk dan keluar kamar mandi, betapa kagetnya melihat Ferland sedng duduk di ranjangnya.
"Sedang apa kau?! Pergi!" Bentak Ajeng.
Ferland bergeming, Ajeng menghampiri Ferland berdiri tepat di hadapan Ferland.
"Kau tuli?! Aku bilang pergi!"
Hardik Ajeng sambil menunjuk pintu kamar. Namun Ferland malah menarik tangan Ajeng, sehingga keduanya ambruk diatas ranjang, dengan posisi Ajeng di atas Ferland.
Ajeng berontak, ia memegangi baju handuknya yang mulai terbuka, memperlihatkan gundukan indah miliknya.
Ferland memegangi tangan Ajeng.
"Biarkan seperti itu, aku ingin melihatnya." Lirih Ferland.
"Jangan macam-macam! Aku akan menghajarmu!"berontak Ajeng ingin berdiri namun ditahan oleh Ferland yang memegang pinggangnya.
" Sebelum kau menghajarku, aku yang akan menghabisimu." Bisik Ferland sinis di telinga Ajeng, seketika bulu kuduk Ajeng meremang. Ia menatap Ferland yang juga tengah menatapnya dengan tatapan aneh.