
Ferland membuka matanya, saat tatapan yang bertemu dengan tatapan Ajeng, Ferland langsung melepaskan ciumannya, berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, Ajeng terduduk menunduk.
Ferland bersimpuh di hadapan Ajeng, ia begitu khawatir jika Ajeng akan marah atau menganggapnya tidak menepati janji untuk tidak menyentuhnya.
"A-Ajeng, aku benar-benar minta maaf, a-aku..."
Ajeng menatap tajam Ferland yang salah tingkah.
"Dasar tua, mesum.!" Umpat Ajeng mendorong Ferland sambil tertawa.
"Huh." Ferland bernafas lega, Ferland bangkit dan menuju kursinya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Mau kemana?" Ucap Ferland menatap Ajeng yang sudah berdiri memegang gagang pintu.
"Jalan-jalan, mencari yang sedap dipandang."
"Hey, menurutmu aku tak sedap untuk dipandang?"
Ajeng mengangguk polos sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak boleh, jangan keluar."
"Kenapa?"
Ferland berjalan ke arah Ajeng dan menyibak korden putihnya, memperlihatkan karyawan-karyawannya yang berlalu lalang, ada yang sedang bercanda ataupun sibuk dengan komputernya.
"Kau lihat, banyak buaya dan kadal disana."
"Lebih baik mereka, dari pada manusia salju mesum sepertimu." Ketus Ajeng, Ferland terbelalak, ingin rasanya mencium bibir Ajeng yang jika berbicara sangat pedas.
"Apa kau sedang memelototiKu?" Ketus Ajeng. "Sudahlah, kau tidak pandai melotot, matamu itu segini," Ucap Ajeng sambil memegang ujung kelingkingnya.
"Kenapa jadi banyak bicara, sudah bagus kau diam." Ucap Ferland gemas dengan ucapan pedas Ajeng.
"Kenapa sekarang kau marah-marah? Bukankah kemarin-kemarin kau memojon-mohon ingin menikah denganku?"
Ferland menelan ludah mendengar ucapan-ucapan Ajeng, hatinya gemas namun ia bahagia, sekarang Ajeng sudah mau berbicara dan tertawa, setidaknya perkembangan Ajeng sudah cepat dan Ajeng yang dulu ia kenal sudah kembali.
Sekarang ia harus mulai bisa terbiasa dengan debatan-debatan Ajeng yang keras kepala.
"Sudahlah, aku banyak kerjaan." Kolah Ferland kembali duduk di kursinya.
"Syukur jika kau sadar, kerja yang benar, karena aku kuat jajan."
Ucap Ajeng sambil berlalu keluar dari ruangan Ferland.
Ferland tersenyum melihat tingkah Ajeng yang sudah kembali.
--
Sudah siang Ajeng keluar dan belum kembali, Ferland gusar ia menghubungi Ajeng berkali-kali namun tak ada jawaban.
Sudah waktunya makan siang, Ferland yang lapar akhirnya turun ke cafe untuk mengisi perutnya.
Dilihatnya Ajeng sedang bernyanyi dibatas panggung kecil cafe itu dengan seorang laki-laki yang tengah mengiri suara merdu Ajeng dengan gitar.
Ferland tertegun, ia baru tau kalau Ajeng mempunyai suara yang merdu. Ajeng yang menyanyikan lagu band ST12/Setiaku (saat terakhir) begitu menjiwai, Ferland menatap mata Ajeng yang berembun.
"Kau begitu mencintai William, Ajeng." Gumam Ferland.
Setelah bernyanyi dan mendapat sambutan hangat Ajeng tersenyum, Ferland melambaikan tangannya, Ajeng yang melihat Ferland menatap sinis dan beranjak dari panggung menghampiri Ferland.
"Jangan terpesona," Ketus Ajeng.
"Ge-eR sekali." Gumam. Ferland.
*****
Sampai dirumah Ajeng membersihkan diri, sehabis mandi ia memakai pialanya dan bermain bersama Zahra dan Devian.
"Gimana nak hari ini?"
"Baik, bu," Singkat Ajeng sambil tersenyum.
Bu Alina begitu bahagia melihat Ajeng yang sudah bisa tersenyum.
"Mbak, aja Zahra dan Devian bobo ya." Ucap Ajeng kepada dua babysitternya.
"Bu, Ajeng minta maaf selama ini sudah ngerepotin ibu,"
"Enggak kok ndhuk, ibu seneng kamu udah bangkit dan menerima Ferland lagi."
"Terimakasih bu, udah mau ngerawat Ajeng juga anak-anak Ajeng."
Ajeng memeluk bu Alina.
"Yowes, sekarang kamu istirahat ya."
**
Ajeng membuka pintu kamar, dilihatnya Ferland tengah tertidur di ranjang dengan TV yang masih menyala.
Ajeng naik ke ranjang, menatap Ferland.
"Fer, bangun, aku mau tidur, pindah sana." Ucap Ajeng menggoyang-goyangkan tubuh kekar Ferland, Ferland tak bangun juga.
Ajeng menggulingkan Ferland sampai terjatuh dari ranjang.
"Aduhhhh" Pekik Ferland, mendengar pekikan Ferland, Ajeng lalu pura-pura tidur. Ferland bangkit melihat Ajeng yang sedang tidur dengan posisi telentang memenuhi kasur,tangan ke atas terbuka lebar, kaki yang telentang ke kanan dan ke kiri.
"Keterlaluan, wanita macam apa kau berkarate sambil tidur." Gumam Ferland
Ferland mematikan TV dan beranjak menuju sofanya.
Ajeng mengintip dengan sebelah matanya, terlihat samar Ferland sudah tertidur di sofa membelakangi nya.
"Maafkan aku manusia salju, aku belum siap satu ranjang denganmu." Gumam Ajeng kembali menutup matanya.
🌺
Ajeng membuka matanya karena mendengar suara tangisan Devian. Ia melirik jam, masih jam dua dinihari, Ajeng bangkit dan menuju kamar Devian, terlihat babysitternya tengah menggendong mencoba menenangkan Devian.
"Mbak sini biar saya aja." Pinta Ajeng.
Devian masih menangis, Ajeng juga kewalahan menenangkan Devian, semua mainan yang diberikan dilemparnya.
"Haduh, kenapa kamu nak." Gumam Ajeng.
"Ada apa?"
Ajeng menoleh, Ferland sudah diambang pintu kamar Devian.
"Maaf, pasti kau terganggu,"
"Tidak, kenapa Devian?"
"Tak tau," Singkat Ajeng.
"Devian kenapa sayang,? Ikut ayah sini, sini sama ama ya..." Ferland menggendong Devian dan mengayunnya.
Devian terlihat sedikit tenang, Devian menempelkan wajahnya di dada Ferland.
Ajeng tertegun, ia melihat Ferland begitu sangat menyayangi Devian, juga Devian yang sangat dekat dengan Ferland.
"Kau rindu papah nak, mamah pun sangat rindu papahmu" Gumam Ajeng mematung.
"Hey, kenapa menangis?" Ucap Ferland menghapus air mata Ajeng masih dengan mengayun Devian, Ajeng buru-buru menghapus air matanya. Dilihatnya Devian sudah tertidur di dekapan Ferland.
"Sudah tidur," Gumam Ajeng tersenyum.
Ajeng dan Ferland kembali ke kamar setelah berhasil menidurkan Devian.
Ferland naik ke ranjang dan merebahkan dirinya.
"Kenapa masih berdiri."
"Emmm hanya ingin mengambil bantal."
"Ayolah, aku hanya numpang tidur disini, badanku sakit tidur disofa."
"Ya, tidurlah, aku juga mau tidur."
"Jangan tidur di sofa, tidur disini, aku janji tidak akan menyentuhmu."
Ajeng bergeming menatap Ferland ragu.
Dengan ragu Ajeng menaiki ranjang, dan pura-pura tertidur. Tak lama terdengar suara dengkuran halus dari Ferland pertanda jika Ferland sudah tertidur pulas.
Dengan hati-hati Ajeng turun dari kasurnya dan menuju sofa, ia merebahkan diri dan terlelap di sofa kamar dengan nyenyak.
Pagi menjelang Ferland menoleh kesampingnya, namun kosong, tak ada Ajeng disampingnya, Ferland terduduk dan mendapati Ajeng tengah tertidur di sofa.
Ferland menghela nafas, hatinya sakit, sampai saat ini Ajeng belum bisa menerimanya.
Ferland beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Ajeng menggeliat, ia buru-buru turun dari sofa, melihat ke kasur sudah kosong. Panggilan alaminya sudah tidak bisa ditahan ia buru-buru memasuki kamar mandi.
"Aaaaaaaa....!!!!" Teriak Ajeng, Ferland cuek dan masih terus menyabun tubuhnya.
Ajeng buru-buru keluar dan menutup pintu dan turun ke bawah menuju kamar mandi bawah.
"Dasar sableng, mandi gak nutup pintu, maksutnya apa coba." Gerutu Ajeng sambil menuntaskan hajatnya.