
Reva kembali ke rumah nya setelah mendapat pesan teror itu dia bergegas pergi kembali ke rumah nya memastikan sang ibu agar tidak ikut terjerumus ke dalam masalah pribadi nya.
Photo yang dikirim oleh si medusa itu tak lain adalah ibu Reva, Reva tak habis pikir dari mana medusa itu mendapatkan photo sang ibu padahal ibu nya jarang sekali keluar rumah, dia keluar rumah hanya sesekali saja misalnya untuk membeli kebutuhan lalu dari mana dia mendapatkan photo sang ibu, apakah dia peguntit profesional, Reva tak habis pikir dibuat nya.
"Ibu, Reva pulang!" ucap Reva setelah masuk ke dalam rumah, ia celingak celinguk mencari keberadaan ibu nya dia pun kemudian berlalu ke dapur, dia melihat punggung seorang wanita yang sedang sibuk memasak dan Reva yakin sekali bahwa itu adalah ibu nya.
"Ibu, dimana ayah?" tanya Reva menghampiri ibu nya yang sedang sibuk memasak lalu mencium pipi sang ibu.
"Ah, kamu sudah pulang ternyata!" tanya ibu nya sedikit kaget melihat keberadaan putri nya serta perlakuan putri nya itu.
"Ibu saja yang terlalu sibuk dengan masakan nya hingga lupa anak sendiri" balas Reva dengan nada kesal.
Ibu Reva hanya terkekeh geli melihat anak nya yang tengah kesal tersebut. "Iya maaf ibu tadi ngak denger kamu datang"
"Kamu bersihkan tubuh kamu dulu ya, setelah itu kamu turun ke bawah makan malam ya, dan Oh iya! Ayah mu sedang bekerja tapi sebentar lagi dia pasti pulang kok, jadi kamu cepat bersih bersih nya!" ucap ibu Reva seraya tersenyum.
"Kalau begitu Reva naik dulu bu" balas Reva lalu segera beranjak naik ke kamar nya yang berada di lantai dua.
Sesampainya di kamar miliknya yang didominasi dengan perpaduan warna Pink dan hitam dia segera merebahkan diri nya sebelum akhirnya dia beranjak ke kamar mandi membersihkan badan nya yang sudah mulai lengket dan sekaligus mendiginkan pikiran nya.
Reva turun ke bawah mengunakan baju kaos berwarna biru dengan celana pendek yang ditutupi oleh baju kebesaran yang digunakan nya itu.
Di sana dia sudah melihat ayah nya yang sudah mengunakan pakaian santai dan ibu nya yang sedang menyiapkan makan malam mereka.
"Malam ayah" sapa Reva sambil tersenyum tulus ke pada sang ayah.
"Malam sayang, ayo gabung makan biar badan kamu jangan macam ranting pohon gitu" ucap ayah Reva sambil terkekeh geli senang sekali dia membuat putri semata wayang nya itu sebal.
Reva berdecak sebal "iiii ayah ini tu bentuk badan ideal, yang bentuk badan begini nih yang dicari oleh wanita di luar sana" balas Reva lalu duduk kursi kosong itu sambil memasang wajah sebal.
"Bentuk ideal seperti kamu, yang iya nya nanti kalau ada angin kencang terbang semua itu para cewek" balas ibu nya yang ikut memanasi Reva serta ikut duduk di depan sebrang Reva sambil terkekeh geli.
"Tau, ah!" kesal Reva lalu mulai memakan makanan yang sudah diambil nya tadi dengan kesal. Melihat tingkah putri mereka ayah dan ibu Reva tertawa puas karena berhasil mengerjai putri nya itu.
Mereka pun makan dengan tenang dan hanya terdengar suara dentingan sendok saja.
✴️✴️✴️✴️✴️✴️
"Ibu, Reva mau ngomong boleh ngak?" tanya Reva yang sedang menhampiri sang ibu di kamar nya sedangkan ayah berada di ruang tamu sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Reva pun masuk ke kamar sang bunda lalu duduk di samping bunda nya itu.
"Kamu mau nanyak apa, hmm? Tumben datang ke kamar ibu?" tanya ibu nya Reva.
"Begini, Reva cuman mau bilang, beberapa hari ini bisa ngak bunda jangan keluar dulu? Kalau bunda mau belanja kebutuhan biar Reva aja yang beli." tanya Reva sambil memandang ibu nya yang berada di samping nya.
"Memang kenapa, kamu ada masalah cerita ke ibu ya" balas ibu Reva sambil mengerutkan kening nya di wajah miliknya yang masih cantik walaupun sudah dimakan usia.
"Ngak papa kok bu, cu-cu-man Reva mau..." Reva tampak berfikir mencari alasan yang tepat untuk membohongi ibu nya itu tak mungkin kan dia mengatakan bahwa dia sedang di teror, bisa bisa ibu nya bakalan syok dan Reva tak ingin itu terjadi.
"Ah iya Reva mau ibu ngak terlalu capek lagi, mumpung Reva lagi di sini kan" alibi Reva setelah mendapatkan alasan yang cukup logis.
Ibu Reva memandangi Reva dengan lekat, dia tau anaknya itu sedang berbohong kepada nya.
"Kamu bohong kan nak?" tanya ibu Reva dengan tatapan mengintimdasi.
Seperti pencuri yang ketauan mencuri Reva gelagapan sendiri.
"Bukan ibu, Reva hanya ngak mau ibu kecapean, kan mumpung Reva lagi di sini" Sergah Reva dengan cepat dia tau, tak akan mudah untuk mengelabuhi sang ibu.
Ibu nya Reva merasa ganjil akan permintaan anak nya itu namun dia pun mengiyakan permintaan anaknya itu dengan mengangukan kepala nya. Merasa permintaan di respon baik Reva pun akhirnya tersenyum lega.
"Kalau gitu Reva pergi dulu ya ibu, jangan begadang ya, bilang juga sama ayah jangan kecapean ingat istirahat juga" ucap Reva lalu mengecup pipi ibu nya lalu beranjak dari kamar orangtuanya namun belum sampai tangan nya menyentuh gagang pintu ibu nya kembali memanggil nya dan ia pun spontan menoleh.
"Reva, ibu juga boleh minta tolong sama kamu" tanya ibu Reva menatap sendu ke arah Reva yang berbalik menghadap ke arah nya.
Reva pun tak bergeming dari berdiri nya dia masih menunggu ibu nya melanjutkan ucapan nya barusan.
Ibu Reva pun beranjak dari duduk nya dan menghampiri Reva lalu membalikkan badan anaknya itu agar menghadap ke arah nya dengan sempurna lalu memegang pundak sang anak.
"Ibu hanya kasih nasihat sama kamu nak, ibu tau hati mu sedang dilema antara tunangan mu dengan Rey, dan ibu yakin sekali sebagian besar hati mu masih digengam oleh Rey kan" ucap ibu Reva dengan tatapan sendu nya Reva yang mendengar itu pun menatap ibu ibu nya ikut berfikir dengan kisah asmara nya.
"Ibu hanya mau bilang nak, jangan pernah egois mengambil keputusan kamu, jangan hanya demi menjaga hati seseorang kamu menghancurkan tiga hati sekaligus, hati mu, hati orang yang kamu cintai tapi kamu sia siakan serta hati orang yang kamu terima dengan alasan rasa bersalah, kamu pikir dia akan senang setelah dia mengetahui segala nya tentang hati mu?tidak nak dia malah akan semakin bersalah. Jika kamu memilih orang yang kamu cintai memang dia akan merasa sangat sakit mengingat dia sangat mencintai kamu ibu tau itu, namun perlahan dia akan melupakan itu semua dan menjadikan semua itu pelajaran untuk nya. Sekuat apapun kamu berlari dari takdir kamu, kamu tak akan pernah bisa lari, jika Rey memang jodoh kamu, maka dia yang akan menjadi pendamping kamu nak, ibu ngak akan maksa kamu memilih tapi ibu harap kami akan bijak dalam memilih keputusan yang kamu buat, memang Rey sempat mengecewakan kita semua namun kau tau sendiri bahwa manusia itu bisa berdosa kan nak! Jadi ibu harap kamu bisa mengerti ini" ucap ibu Reva panjang lebar,, Reva yang mendengar kan itu pun kembali berfikir dia sudah lelah memikirkan itu semua namun tak ada hasil yang didapatkan nya.
"Baiklah Reva akan pikirkan baik baik bu, Reva pergi dulu ya" balas Reva seraya tersenyum lalu memeluk ibu nya dan pergi dari kamar orangtuanya.
Jika Reva boleh mengibaratkan hati nya sekarang bagai kapal yang terombang ambing di tengah lautan, ingin berlayar ke utara takut nya akan mengecewakan, dan ingin berlayar ke selatan takut akan merasakan kekecewaan untuk kedua kali nya dia tak tau harus berbuat apa sekarang, mengapa kisah cinta nya serumit ini tak bisa kah dia memiliki kisah cinta yang normal seperti orang kebanyakan, ah! Dia lelah sangat lelah hari ini.