
Rey melamun di kursi meja kerja nya. Kini diri nya menatap miris diri nya. Begitu menyedihkan kisah cinta nya. Atau kah ini hukuman Tuhan kepada nya karena sifat brengsek nya dahulu kepada Reva? Mungkin saja!
"Rey?" panggil seorang lelaki, menatap bingung Rey yang tengah duduk di meja kerja nya dengan ruangan yang tidak disinari sinar lampu sama sekali.
"Gue, udah ngak ada harapan lagi." adu Rey sembari tertawa miris. Menatap lelaki yang selama ini selalu ada di samping nya dan menguatkan diri nya untuk tetap melawan penyakit yang di derita nya.
Lelaki yang mendengar ucapan Rey barusan, menatap sendu lelaki itu. Hati nya juga ikut merasakan apa yang di rasakan Rey. Di saat lelaki itu mah berusaha melupakan Reva, wanita itu malah kembali.
Dan ketika Rey ingin berjuang, dan memperbaiki hubungan nya dengan Reva, malah hal seperti ini yang dia dapat. Seburuk itu kah mereka berdua, hingga tinta takdir pun tak sudi menuliskan kisah dua insan yang saling mencintai namun tidak pernah bersatu ini? Seolah mereka memang di takdirkan hanya untuk saling menyapa tetapi tidak saling memiliki.
"Lo harus perjuangin apa yang lo inginkan." ujar lelaki itu, menghampiri Rey yang terlihat menyedihkan dengan kondisi baju yang sudah kusut dan rambut yang sudah acak acakan seperti tidak terawat.
Lelaki itu menepuk pundak Rey, berusaha memberikan kekuatan yang dia miliki kepada lelaki yang terlihat rapuh itu. Dia menyesali perbuatan nya yang memisahkan kedua orang ini dahulu. Dan ketika dua mencoba memperbaiki ikatan yang rusak ini, semua harapan nya kandas begitu saja.
"Lo masih bisa miliki dia Rey! Jangan menyerah sama tujuan mu!" ujar lelaki itu dengan nada meyakinkan. Bukan nya membuat Rey merasa terhibur kini Rey terlihat tertawa hambar, menertawai hukuman yang di berikan tuhan kepada nya.
Mau tidak mau, lelaki itu harus menerima kenyataan pahit ini. Mutiara yang sempat dia sia sia kan dahulu, kini tidak bisa lagi dia milik. "Dia udah tunangan." ujar Rey dengan suara lirih nya. Menatap kosong lantai yang ada di depan nya.
Namun semua harapan lelaki itu kandas ketika Rey mengangguk lemah membuat lelaki itu terdiam sembari menghela nafas nya lelah.
.
"Ini hukuman gue kah? Hukuman gue karena udah nyia nyain orang yang mencintai gue dulu?" tanya Rey, menatap sendu lelaki yang ada di depan nya membuat rasa bersalah lelaki itu semakin berat.
"Ngak! Lo ngak salah Rey! Gue yang salah karena udah ngancurin hubungan lo." balas lelaki itu sembari menggeleng tidak setuju.
"Kalau dulu aja gue, ngak terlalu fokus sama masa lalu gue. Pasti sekarang gue udah hidup bahagia sama Reva." gumam Rey, membayangkan hubungan nya dengan Reva yang harus kandas karena kebodohan nya.
"Lo masih bisa perjuangan dia ok! Lo ngak boleh nyerah gitu aja!" ujar lelaki itu memberi Semangat kepada Rey.
Rey menoleh ke arah lelaki itu. "Gue ngak bisa Ardo. Biarin Reva bahagia ya. Jodoh gue bukan Reva tapi kematian. Setidaknya cuman satu doa gue. Bisa liat diri nya untuk sisa waktu ku yang singkat ini." ujar Rey dengan senyuman manis nya walaupun lelaki yang di panggil Ardo itu tau kalau senyuman itu bukan senyuman bahagia, melainkan senyuman penuh luka.
"Gue titip Reva sama lo ya. Wakili gue ketika gue udah ngak bisa hadir di pernikahan nya. Bilang kalau gue bahagia liat dia dari atas." ujar Rey membuat Ardo menggeleng lemah, tidak sanggup melihat kisah cinta yang terlalu rumit ini.