I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 20



"Hancurkan perusahaan X, bobol semua pertahanannya, curi semua data-datanya." Ucap Ferland mematikan ponselnya.


Ferland gusar, ia memutuskan menenangkan pikirannya di cafe favoritnya.


Ia memesan latte dan beberapa makanan ringan.


Ferland duduk di sebuah ruangan terbuka yang langsung menghadap dengan taman.


Menyusuri pandangan sekitar, banyak anak-anak bermain disana.


Pandangan Ferland tertuju pada wanita berdree kuning yang tengah mengandung.


"Ajeng," Gumam Ferland.


Ferland mendekat ke arah Ajeng.


"Ajeng," Sapa Ferland, Ajeng terbelalak kaget melihat Ferland didepannya, Ajeng memeluk perutnya, wajahnya pias, takut jika Ferland melakukan macam-macam, ia memandang Ferland yang berpenampilan rapi namun sedikit kurus.


"Mm-ma-mau apa kau." Ucap Ajeng gugup sambil pandangannya mencari William.


Ferland bersimpuh di depan Ajeng dan menggenggam tangan Ajeng, Ajeng memundurkan posisi duduknya.


Saat ini ia benar-benar takut dan gugup.


"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf." Ucap Ferland lembut,


"A-aku sudah me-memaafkanmu, pergilah." Ucap Ajeng gugup


"Kembalilah, aku akan menebus semua kesalahanku."


"T-tidak! Pergi kau! A-aku sudah menikah dengan William." Ucap Ajeng sedikit menaikkan suaranya.


Ferland memandang perut Ajeng, Ajeng semakin memeluk perutnya membuat pertahanan, Ferland mengelus perut Ajeng, ada rasa nyeri di hatinya melihat Ajeng mengandung.


"J-jangan sentuh aku, menjauh dari bayiku." Ucap Ajeng mendorong Ferland hingga Ferland terduduk.


Ajeng bangkit dari duduknya, William yang melihat Ferland bersama Ajeng berlari menghampiri Ajeng.


"Ada apa honey,?" Ucap William khawatir.


"Ayo, pergi dari sini Wil," Ucap Ajeng memeluk tangan William.


"Tunggu aku di mobil." Ucap Ferland menenangkan Ajeng, Ajeng mengangguk dan segera pergi menuruti perintah William.


Ferland bangkit dari jatuhnya, menatap tajam ke arah William.


"Kembalikan Ajeng." Ketus Ferland.


"Sudah ku bilang, jangan ganggu istriku," Balas sengit William.


"Kau!"


William menepis tangan Ferland yang menunjuk tepat di wajahnya.


"Untuk apa kau memintanya lagi? Untuk kau habisi? Ingat! Br*ngsek sepertimu tidak pantas untuk wanita sebaik Ajeng! Jangan kau ganggu lagi istriku, dia sedang mengandung anakku!" Hardik William, sedikit nyeri hatinya mengatakan anak yang dikandung Ajeng adalah anaknya, sedangkan ia mengatakan pada ayah biologis sang bayi sebenarnya.


William pergi dengan hati yang bergemuruh, ia melangkah panjang agar segera sampai di mobil, Ajeng sedang menunggunya.


"Maafkan aku Ferland, dia anakmu, aku tidak bisa memberitahumu, kau akan mengambil semuanya." Batin William.


William sampai dimobil, ia masuk dan menenangkan Ajeng yang sedang menangis.


"Sudah ya, tenang, aku disini." William memeluk Ajeng.


"Kenapa dia ada disini Wil, apa, apa dia mau mengambil anakku."


"Gak akan, aku akan terus disisimu, sudah tenang, kita pulang ya."


Ajeng hanya mengangguk.


*****


Masa kehamilan Ajeng sudah memasuki sembilan bulan yang kapan saja bisa terjadi kontraksi persalinan.


Ajeng begitu bahagia, William menjadi suami yang sangat siaga dan penuh perhatian.


Saat sedang bersantai, Ajeng merasakan mules yang luar biasa di perutnya.


Ia menggenggam tangan William dengan erat.


"Wil,, aaakhhhhhh sa-sakit Wil,..."


William panik saat melihat air yang mengalir dari dalam dress Ajeng.


William membopong Ajeng membawanya ke rumah sakit.


-


William menemani Ajeng dimasa berjuangnya, sampai ia mendengar suara tangis malaikat kecil yang menggema.


William menciumi Ajeng penuh haru, ia ikut menangis melihat perjuangan Ajeng yang sangat besar bertaruh nyawa demi melahirkan nyawa kecilnya.


William mengadzani putri kecilnya dengan berlinang air mata. Setelahnya putri kecilnya di bawa dokter untuk diurus.


William dengan telaten mengelap tubuh Ajeng dengan air hangat.


"Wil, makasih buat semuanya." Lembut Ajeng mengelus pipi William.


"Aku yang harusnya makasih sayang, udah begitu kuat, udah mau ngejaga kandunganmu demi aku, berjuang untuk bayi kita.


Ajeng menangis sesegukan, Ajeng begitu terharu akan sikap William yang mau menyayangi anaknya seperti anaknya sendiri.


******


Ferland tersenyum sinis setelah mendapat kabar kehancuran Alexander dan Stevy.


Dendamnya terbalaskan.


Ferland menjadi sangat berambisi dengan segalanya, ia kini mengincar Ajeng, dan menghabisi William.


Ferland mendapatkan kabar persalinan Ajeng beserta foto bayi mungil merah.


Hatinya tersentuh, tiba-tiba rasa benci Ferland musnah begitu saja ketika melihat foto bayi mungil itu, hatinya berdenyut ingin menggendong bayi mungil itu.


Bergegas Ferland pergi ke rumah sakit dimana tempat Ajeng bersalin.


***


William yang menemani Ajeng terkejut dengan kedatangan Ferland juga ibu Alina.


Ferland membawa buket bunga yang begitu indah, sedang bu Alina membawa hadiah yang besar.


Ajeng gugup, ia memegang baju William dengan erat, sangat takut jika kedatangan Ferland dan bu Alina akan membawa bayinya atau melakukan tes DNA.


William bersikap setenang mungkin menghadapi Ferland.


" Ajeng, ndhuk, selamat ya sayang, maafin ibu ya sayang," Ucap bu Alina mengecup kedua pipi Ajeng.


"Iya bu," Lirih Ajeng.


"Boleh ibu gendong cucu ibu ndhuk?"


Ajeng menelan saling menatap takut pada William, William hanya mengangguk, ibu Alina membuka kelambu box bayi dan menggendong bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang.


Cucu? Apakah ibu Alina tau kalau itu anak Ferland?


Ucap Ajeng dalam hati.


Sedangkan Ajeng menatap Ferland yang berdiri disamping ibunya, Ferland menatap hangat bayi mungil Ajeng, jujur itu membuat luluh hati Ajeng, baru pernah ia melihat tatapan penuh kasih dari tatapan Ferland kepada bayi mungil Ajeng.


Begitu takut Ajeng jika mereka tau yang sebenarnya, bagaimana? Ajeng takut mereka akan mengambil bayi mungilnya dan membawanya pergi, memisahkan bayi mungil itu dari dekapan Ajeng.


"Cantiknyaaa, hidungnya mirip kamu Fer, lihat." Ucap Ibu Alina membuat degup jantung Ajeng semakin kencang, keringat dingin bercucuran, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika Ferland Latu itu adalah anaknya. Sedang kini bayi mungil itu digendong oleh Ferland.


Ajeng menoleh ke arah William yang juga memandang penuh khawatir.


William mengelus tangan Ajeng agar Ajeng tidak perlu khawatir.


"Ndhuk, le, kamu kasih nama siapa ndhuk, dia cantik sekali,"


"Eeee...." Ajeng menoleh pada William.


"Namanya Aszahra buk." Ucap William.


"Nama yang cantik." Sahut Ferland.


Ibu Alina mendekati Ajeng, mengelus pucuk kepalanya.


"Ndhuk, ibu harap kamu memaafkan atas segala sikap Ferland kepadamu."


Ucap lembut ibu Alina.


"Iya bu, Ajeng sudah melupakan semuanya, sekarang Ajeng sudah ada William yang selalu menjaga Ajeng, kita tetap keluarga bu." Sahut Ajeng sembari menggenggam tangan ibu Alina.


Ferland meletakkan dengan hati-hati bayi mungil itu di boxnya bayi itu begitu menggemaskan walau saat dia tertidur.


Ferland menghampiri Ajeng, rasa bersalah dan penyesalan begitu terasa, tiba-tiba rasa dendamnya yang meluap-luap kini musnah melihat Ajeng dan William yang terlihat letih.


"Boleh aku sering mengunjungi putri mungilmu?" Ucap Ferland, Ajeng memandang William.


"Sebagai paman," Lanjut Ferland.


"Tentu saja, kau boleh kapan saja mengunjungi keponakanmu." Sahut William.


"Baik terimakasih, istirahatlah sepertinya kau belum tidur."


"Terimakasih," Ucap William menjabat tangan Ferland.


Setelah lama bercengkrama Ferland dan ibu Alina pamit pulang, sedang Ajeng sudah terlelap.


William merebahkan dirinya di sofa, melelahkan matanya yang lelah.