
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ajeng terbangun, di liriknya jam masih menunjukkan pukul 00.24 dini hari, dengkul Ajeng memar dan sulit untuk bergerak, ia melihat disampingnya kosong, Ferland tidak ada di ranjangnya atau di sofa biasa ia tidur, dengan payah Ajeng mencari Ferland. Ia membuka pintu kamar, mendapati Ferland sedang tertidur di depan TV dengan TV dan AC yang masih menyala, namun Ferland tertidur tanpa selimut.
Ajeng menyelimuti Ferland, meski hatinya masih kesal, tapi ia tak bisa membiarkan Ferland kedinginan, Ajeng mengelus rambut Ferland.
"Kau tidak pantas sekejam itu Fer, aku tau kau lelaki baik-baik, kau kejam, bagaimana aku bisa mencintaimu, kau berbohong, kau bilang meeting, nyatanya kau menemani wanita itu, aku membencimu, I hate you Ferlanda." Lirih Ajeng sedih, dan bangkit meninggalkan Ferland, yang ternyata pura-pura tidur.
Ajeng turun menuju dapur, membuat segelas susu untuk perutnya yang merasa lapar.
Ia termenung memikirkan kondisi Reyhan, Ajeng menelpon Wisnu, ia menanyakan kondisi Reyhan, bagaimanapun Reyhan babak belur karena Ferland suaminya.
Ternyata Ferland sudah menguping di tangga, ia mengurungkan niat untuk menyusul Ajeng, dan mendengarkan percakapan Ajeng dengan orang diseberang ponselnya.
"Cih, begitu khawatirnya kau pada selingkuhanmu." Gumam Ferland.
Ferland melangkahkan kakinya kembali ke atas berpura-pura tidur.
Ajeng kembali ke kamarnya, sekilas menatap Ferland yang tertidur.
"Bagaimana aku mencintaimu Fer, kau sendiri yang membuatku sakit, kau yang menghianatiku." Gumam Ajeng menyeka sudut matanya yang berembun.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ajeng terbangun, ia melirik jam sudah pukul 08.00 WIB.
Setidaknya ia lega sudah berbicara dengan Reyhan semalam, dan meminta maaf atas perlakuan Ferland suaminya.
"Pasti tu kadal udah berangkat, gue laper, pesen gofut aja lah." Gumam Ajeng.
Sambil menunggu pesanan-nya sampai Ajeng menyegarkan diri, mengompres lukanya agar tidak terlalu kaku.
Pesanan Ajeng datang tepat waktu, Ajeng menyiapkan nasi uduk dengan lauk sederhana yang menggugah selera sambil melakukan video call dengan putri dan putranya.
Setelah selesai sarapan Ajeng membaca novel di depan teras sambil menikmati udara segar di teras rumah.
Sebuah mobil merah berhenti di depan pagar, seorang wanita dengan pakaian yang ketat turun dan masuk begitu saja.
"Maaf, saya akan mengambil berkas di ruang kerja Ferland." Ucapnya tanpa canggung, Ajeng menautkan alisnya, memandang wanita itu, wanita yang malam itu Ferland antar pulang.
"Sebentar... "
"Eee tidak... Tidak... Ferland menyuruhku yang mengambilnya, biar aku ambil ya." Ucapnya seraya masuk begitu saja.
Ajeng mendengus kesal dengan kelakuan tidak sopan pegawai Ferland.
"Gilak! Bawahan gak ada etika." Gerutu Ajeng, tak lama wanita itu keluar dengan membawa beberapa map, tanpa pamit terhadap Ajeng ia melenggang begitu saja meninggalkan Ajeng.
"Wil, gak ada yang bisa mencintai gue kaya cinta lo, Wil, gue kangen..." Gumam Ajeng menghela nafas berat.
🌺🌺🌺
Malam sudah larut, namun Ferland tak kunjung pulang. Ajeng merebahkan dirinya di ranjang sambil membaca novelnya.
Ponsel Ajeng berdering, Sofia mengabarkan bahwa Reyhan masuk rumah sakit karena dihajar seseorang dijalan saat pulang kuliah, Ajeng terkejut, gilirannya langsung menuju pada Ferland, ponsel Ajeng terjatuh, ia berlari dengan tertatih turun menuju pintu untuk melihat kondisi Reyhan atau bahkan mencari Ferland.
Ajeng terkejut saat pintu utama terbuka, terlihat Ferland sudah berada di depan pintu tersenyum sinis dan bau alkohol menyeruak, juga dengan kemejanya yang kacau penuh darah.
Ajeng melirik wanita disamping Ferland yang mencoba menopang tubuh Ferland yang mabuk, Ajeng menatap sinis pada leher wanita itu, ada beberapa tanda merah disana.
"Tolong jaga suamimu, terimakasih sudah berbagi keindahan denganku." Ucap wanita yang Ajeng ketahui bernama Melinda itu sambil mengusap dada Ferland, Ferland mencium bibir wanita itu dihadapan Ajeng, Ajeng memalingkan wajahnya.
"Menjijikan." Gerutu Ajeng.
Ajeng hendak melangkahkan kakinya menuju mobil untuk melihat keadaan Reyhan. Namun tangannya dj cengkram oleh Ferland, Ferland menodong Melinda.
"Pergi," Ketus Ferland.
Ajeng mencoba memberontak namun tenaga Ferland saat mabuk malah semakin kuat. Melinda pergi begitu saja tanpa berniat menolong Ajeng. Ferland menyeret Ajeng memasuki rumah, mengunci pintu utama dan mendorong Ajeng ke sofa dengan keras.
"Mau kemana kau? Mau menemui b*jingan itu hah?!" Bentak Ferland.
"Dia sudah mati Ajeng, dia mati!!!!" Ratau Ferland tertawa.
"Kau iblis!" Teriak Ajeng.
Ferland mencengkram rahang Ajeng, menatap Ajeng dengan sendu.
"Sudah ku bilang, tak akan ku biarkan siapapun mendekati wanitaku, sayang."
Ajeng memalingkan wajahnya saat Ferland hendak menciumnya.
"Menjijikan, tak sudi aku bekas wanita j*lang itu." Teriak Ajeng.
Ferland menyeret Ajeng ke kamarnya, mendorong Ajeng hingga tersungkur di ranjangnya.
"Kau hanya milikku Ajeng!" Ketus Ferland sambil membuka pakaiannya dan menindih Ajeng, Ajeng memberontak, namun tenaganya kalah dengan tenaga Ferland.
Ferland mengoyak pakaian Ajeng, dengan paksa Ferland mencumbu Ajeng, Ajeng hanya bisa menangis pasrah saat Ferland melakukannya, ia tak cukup tenaga untuk menghentikan kebringasan Ferland malam itu, dengan sekali hentakkan yang begitu keras dan membuat Ajeng sangat kesakitan Ferland melakukannya tanpa ampun membuat Ajeng terasa ingin pingsan.
Ajeng berendam sambil menangis, hatinya hancur, ia semakin membenci Ferland. Setelah sedikit lega, masih terasa perih Ajeng melangkah pelan masih tertatih-tatih menuju kamar anak-anak nya dan menguncinya dari dalam. Ia takut Ferland akan nekat atau membunuhnya.
Ajeng terlelap dalam kesedihan.
🌺🌺🌺
Malam berlalu begitu cepat, sinar matahari menyapa Ajeng dari sela-sela gorden putih kamar yang kini ia tempati, Ajeng terbangun.
"Aaahh.. " Pekik Ajeng, badannya begitu terasa remuk, ia teringat perlakuan Ferland malam itu. Ajeng melirik jam, sudah jam 08.00 pagi, seharusnya Ferland sudah berangkat ke kantornya.
Ajeng ragu hendak keluar untuk membersihkan dirinya.
Ferland terbangun, ponselnya tak henti-hentinya berdering, terlihat Melinda sudah menghubunginya lebih dari 20 kali, juga bawahan Ferland yang mengingatkan ada meeting pagi ini.
Ferland terduduk, ia heran mendapati dirinya tanpa busana juga bercak darah di sepreinya, ia melirik ke lantai, berserakan kemejanya yang penuh dengan darah. Ia tersenyum sinis penuh kemenangan mengingat semalam sudah menghabisi lelaki itu.
Ia mengambil pakaian Ajeng yang terkoyak-koyak, dan meraba bercak darah di sepreinya. Ferland mencoba mengingat kejadian semalam, kepalanya begitu pusing namun berhasil mengumpulkan memory semalam. Ia bergegas memakai pakaian dan mencari Ajeng ke penjuru rumah namun nihil.
Ferland menuju kamar anak-anak, ia mencoba membuka knop namun terkunci, Ferland mengetuk-ngetuk pintu kamar anak-anaknya.
"Jeng, Ajeng, buka pintunya." Ucap Ferland khawatir.
Ajeng bergeming, mendengar ketukan dan panggilan Ferland, ia sungguh takut saat ini, takut jika Ferland malah akan membunuhnya.
"Ajeng, buka, atau ku dobrak pintu ini." Gertak Ferland.
Ajeng bergeming tak menjawab, ia benar-benar bingung dan takut saat ini.
"Ajeng buka!" Ucap Ferland mencoba mendobrak pintu.
"Stop! Kau dobrak pintu, aku akan loncat dari jendela! Pergi!" Teriak Ajeng.
Ferland menghentikan dobrakannya, ia mengacak rambutnya. Ferland memutuskan untuk membersihkan diri dan berangkat ke kantor.
Ferland menghubungi jasa asisten rumah tangga pulang pergi untuk merapikan rumahnya dan memasak untuk Ajeng.
Ferland memutar CCTV yang berada dirumahnya, melihat segala kejadian tadi malam sungguh membuat Ferland marah, dan sangat menyesal, Ferland memandang CCTV memperlihatkan saat Ajeng tertatih menahan sakit di areanya menuju kamar mandi.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku... William, kau pasti mengutukku saat ini." Gumam Ferland.
Ferland memanggil Melinda ke ruangannya, ia meminta penjelasan pada Melinda, dengan takut Melinda menceritakan semuanya, ia sengaja membuat Ferland mabuk agar bisa tidur bersamanya, ia juga yang telah memasukkan obat kuat dan pembesar kejantanan pada minuman Ferland, namun harapan Melinda pupus saat bercumbu, Ferland lebih memilih pergi ke lain tempat, karena khawatir akan kondisi bosnya yang mabuk berat Melinda mengejar Ferland, mendapati Ferland sudah penuh darah menghajar seseorang yang sudah terkapar tak berdaya, buru-buru Melinda membawa Ferland pulang sebelum ada yang melihatnya tengah menghabisi seseorang, agar tak ada kasus.
Namun diluar rencana Melinda tak disangka Ferland mencium bibir Melinda di depan Ajeng. Ferland sungguh murka, dan langsung memecat Melinda.
Ferland bergegas pulang ke rumah untuk melihat keadaan Ajeng.
Pantas saja ada bercak darah dalam sepreinya malam itu, pasti begitu menyakitkan. Pikir Ferland.
🌺🌺🌺
Ferland menerobos masuk rumah dan menuju kamar dimana Ajeng berada.
"Bagaimana, apa nyonya keluar?"
"Tidak tuan, sudah di ketuk berkali-kali, nyonya tidak menjawab,"
"Pergilah, ini upahmu." Ucap Ferland memberikan beberapa lembar merah.
"Terlalu banyak tuan.".
"Ambil dan pergilah."
Si mbok pergi tak lupa ia berterimakasih pada Ferland.
Ferland mengetuk kamar Ajeng.
"Ajeng, kita harus bicara, ini tak seperti yang kau fikirkan." Ucap Ferland sambil mengetuk pintu.
Ferland mencoba mendobrak pintu kamar, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Ferland berhasil mendobrak pintu, dilihatnya Ajeng sedang duduk menatap jendela.
Ferland berlari hendak memeluk Ajeng, namun Ajeng seketika berbalik.
"Berhenti!" Ketus Ajeng. Ferland menghentikan langkahnya.
"Ajeng, kita harus bicara, aku minta maaf."
"Simpan kata maafmu, aku muak mendengarnya."
"Sayang, kita harus..."
"Berhenti Ferland. Atau aku akan loncat."
Ferland bergeming menatap Ajeng penuh penyesalan.
"Sebaiknya kita akhiri pernikahan gila ini." Ucap Ajeng menatap tajam Ferland.