
Tak terasa sudah tiga hari Reva berada di Indonesia berarti waktu nya sekarang hanya tersisa tiga minggu empat hari berada di Indonesia.
Dan selama tiga hari itu juga Reva mendapatkan banyak teror semenjak kejadian teror pada hari pertama dia menginjak kan kaki kembali ke rumah nya. Teror nya diterima nya pun sangat beragam mulai dari kotak seperti kemarin, nomor yang tak dikenal, serta SMS misterius selalu mengganggu hari hari nya.
Tingg
Bunyi ponsel milik Reva menandakan bahwa ada notifikasi yang masuk melihat itu Reva pun segera mengambil ponsel nya yang berada di nakas samping tempat tidurnya lalu mengecek ponsel milik nya.
Nomor tak dikenal
"Well gue rasa gue sudah cukup mengucap salam kedatangan selama ini sama lo, sekarang gue langsung ke inti nya saja, jauhi Rey! Kalau lo ngak mau, siap siap aja orang orang yang lo sayangi akan dalam bahaya!"
Melihat pesan masuk dari nomor tak dikenal membuat Reva mengengam ponsel miliknya erat.
"Hah! Memang lo siapa bisa ngatur gue, kita liat aja siap yang bakalan menang"ucap Reva dengan senyum yang meremehkan dia pun segera beranjak membersihkan diri dan bersiap siap untuk kembali ke kantor Rey karena kontrak yang diajukan belum ada respon diri Rey entah apa maksudnya seperti itu.
Reva pov
Sekarang aku sudah sampai ke gedung sanjaya milik keluarga Rey ah tepatnya Semarang sudah miliknya, kalian tidak tau saja bahwa perusahaan ini adalah perusahaan yang sangat berpengaruh di Asia oleh sebab itu tak heran jika perusahaan tempat ku bekerja melakukan segala hal agar bekerja sama dengan perusahaan milik Rey,
Aku berjalan di lobi lantai paling atas gedung ini, lantai yang dikhususkan hanya untuk presdir nya saja, aku pun mendatangi meja sekretaris sebelum masuk ke ruangan Rey sebagai bentuk sopan santun ku.
Sekretaris Rey ah Mira! Namanya adalah Mira aku melihat dari kartu tanda pengenal yang terkalung di leher nya. Dia menatap ku sejenak dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu tak lama kemudian dia berdiri dari bangku tempat nya duduk tadi lalu menatap ku dengan pandangan meremehkan. Ayolah! Aku punya salah dengan dia? Aku rasa tidak! Tapi kenapa dia menatap ku seperti itu?
Dia menatap ku cukup lama lalu menghubungi Rey yang berada di dalam ruangan mengatakan sedang ada tamu setelah itu dia mempersilahkan aku masuk tapi ingat !pandangan nya masih sama pandangan meremehkan. Ingin sekali aku melempar kan nya ke pulau antartika sana namun aku masih menjaga image sehingga tak kelakuan apa yang kupikir kan tadi.
Aku masuk ke ruangan milik Rey setelah dia mengizinkanku masuk , terlihat Rey yang sedang sibuk membaca dokumen di meja kebesaran nya, dia menatap kedatangan ku sebentar lalu dia kembali sibuk dengan berkas berkas miliknya, apa? Apa dia mengharapkan sekretaris nya itu datang, lalu melakukan hal kemarin yang pernah mereka lakukan, ah! Sekarang aku tau kenapa sekretaris sialan itu menatap ku meremehkan dia merasa tersaingi dengan ku kan, hah! Maaf aku tidak serendah itu.
"Duduklah!"perintah Rey akupun menganguk kan kepala ku lalu duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Saya sudah bilang pada mu, saya banyak kerjaan jadi perkara kontrak itu kamu bisa datang lain kali ketika pekerjaan saya sedikit berkurang" ucap nya lalu ikut duduk di depan ku.
"Ck, tapi pak bapak hanya melihat nya saja lalu bapak menandatangani kontrak itu, selesai kan pak!" ucap ku sambil mendengus kesal bagaimana tidak banyak cara dilakukan Rey agar kontrak itu tidak selesai,tidak tau kah dia kalau aku selalu ditanyain perihal kontrak ini dengan persdir di perusahaan tempat ku bekerja di jepang!
"Kamu pikir saya tidak memiliki pekerjaan apa?, kamu lihat itu" ucap nya sambil menunjukan berkas berkas yang ada di meja kebesaran nya.
"Saya sibuk jadi saya tidak punya banyak waktu untuk menuruti keinginan mu" ucapnya lagi.
Aku mendengus kesal mendengar penuturan nya itu.
"Memang kamu bisa membantu saya" balas nya tidak yakin dengan mengangkat sebelah alis milik nya.
"Saya yakin pak, bagaimana?" balas ku cepat sambil megulurkan tangan ku, kulihat dia sedikit berfikir lama lalu menganguk dan menjabat uluran tangan ku" Deal" balasnya.
Doeng!
Aku mengumpat setengah mati, dia sengaja membuat ku harus terjebak di tempat ini sampai larut malam dengan alasan pekerjaan nya belum selesai, ingin sekali aku menarik penawaran ku tadi namun nasi sudah menjadi bubur mau tidak mau aku harus berada di ruang kerja nya bersama dengan dirinya sampai jam sudah larut.
Oh shit! Lampu yang ada di ruangan kami mendadak mati aku tidak tau apa yang terjadi dengan perusahaan ini mungkin perusahaan ini lupa membayar listrik!
Jujur aku takut sekali sehingga tanpa sadar aku berlari ke arah Rey lalu memeluk erat tubuh nya.
"Kalau kamu minta dipeluk bilang saja, gak usah modus juga" ucap nya melihat keberadaan ku yang berada di peluk kan nya.
"ck, siapa juga yang modus pak!" balas ku cepat lalu hendak melongarkan pelukan ku namun Rey kembali mendekap ku erat menyalurkan kehangatan kepada ku,entah kenapa mungkin alam juga tengah membiarkan kami berdua ketika dengan cepat nya hujan turun membasahi bumi.
"Kita menginap disini saja" ujar Rey lali melepaskan pelukan nya.
"Hah! Yang betul saja pak! Masa iya saya harus tidur disini, mau dimana saya tidur pak" balas ku cepat menatap wajah nya walau aku tau dia tak bisa melihat ku karena keadaan yang gelap. Dia pun menghidupkan senter dari ponsel nya lalu menarik lembut tangan ku mengiring ku kesebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat di pojok ruangan ini, dia membuka kan pintu itu dan terlihat lah sebuah king size ukuran yang cukup besar yang hanya diberi penerangan dari senter dari ponsel Rey.
"Apa kamu mau turun dari lantai 40 ini mengunakan tangga karena pasti lift sekarang sedang tidak bisa digunakan kalau saya tidak ingin membuang tenaga melakukan hal itu" ucap Rey.
Dia merebahkan tubuh nya ke tempat tidur, aku yang masih kagum akan interior kamar itu disadarkan kembali dengan suara berat miliknya.
"Tidur lah, aku tidak akan melakukan hal aneh pada mu, aku berjanji" ucap nya setengah bergumam dengan wajah yang masih terpejam aku bisa merasakan bahwa dia sangat kelelahan.
"Umm saya bisa tidur di sofa saja pak" ujar ku sambil menunjuk arah sofa di sudut ruangan itu lalu hendak berlalu namun tangan kekar Rey mencekal nya dan menarik ku tidur di samping nya lalu memeluk ku erat. Apakah dia tidak tau bahwa sekarang jantung ku sedang berdisko di dalam sana, dan walau pun aku tak bisa melihat wajah nya, hanya ada penerangan dari ponsel Rey yang dibiarkan di atas nakas namun percayalah sekarang aku sedang menahan nafas menahan kegugupan itu.
"Kali ini saja ku mohon" ucap nya bergumam lalu menengelamkan kepala nya ke ceruk leher ku.
"Jangan lupa bernafas sayang" ujarnya lagi seraya terkekeh pelan.
Oh shit untung saja dia tidak melihat wajah ku sekarang yang sudah merah padam akibat perlakuan nya itu, aku pun memukul dada bidang nya dengan sedikit keras dan dibalas dengan kekehan lagi oleh nya.
Ah sperti nya aku harus berbohong kepada orang tua ku
Pov end