I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
Pelukan ketenangan



Reva berlari tanpa peduli dengan sekitar nya.


Tin


Tin


"Mbak kalau mau mati, jangan di jalan noh disana di jembatan, kalau di sini bikin orang susah juga!!" teriak pengendara mobil yang nyaris menabrak tubuh Reva, jika saja tidak ada sebuah lengan yang menarik nya ke pinggir jalan.


Reva menoleh ke arah orang yang menyelamatkan nya tadi dan mendapati manik mata yang selalu bisa menghipnotisnya.


"Ikut saya!, saya akan antar kamu ke tujuan yang akan kamu datangi sekarang"ucap Rey orang yang menarik Reva tadi lalu menarik lengan Reva dengan halus sementara Reva hanya bisa pasrah, pikirannya sekarang sudah tertuju ke sang ibu.


"Rumah sakit XXXX" ucap Reva setelah berada di dalam mobil Rey dengan tatapan kosong kepada depan sementara Rey sedikit terkejut namun sesaat kemudian dia melajukan mobil nya ke rumah sakit yang dikatakan Reva tadi.


Sesampainya di rumah sakit, Reva langsung berlari keluar dan menanyai resepsionis setelah mendapatkan tempat rawat ibu nya dia segera berlari tanpa mempedulikan Rey yang sedari tadi mengejar nya.


"Ayah, gimana keadaan bunda" tanya Reva setelah sampai dihadapan sang ayah yang sedang menunggu di ruang tunggu, dengan kondisi yang menyedihkan. Rambut yang acak acakan serta mata yang dipejamkan ke atas membuat Reva semakin beramsusmi yang tidak tidak.


Mendengar suara anaknya tersebut ayah Reva membuka matanya lalu menangkap sosok anaknya beserta... Masa lalu anaknya itu. Dia menatap ke arah Rey dengan tatapan dingin bagaimana pun Rey merupakan orang yang membuat putri satu satunya merasa kan sakit hati yang sangat sakit. Setelah menatap Rey ayah Reva kembali menatap anaknya namun dengan tatapan lunak nya, Rey juga maklum dia tidak bisa dimaafkan begitu saja jadi dia berusaha memaklumi sikap ayah Reva.


"Ibu kamu,... Koma nak" ucap ayah Reva dengan raut penuh kesedihan.


Bagai ditimpa Palu berkali-kali, Reva tak sanggup untuk menopang tubuh nya sehingga dia jatuh terduduk dilantai, sementara sebelum Reva sampai di lantai Rey secara sigap menopang tubuhnya dengan memegang kedua lengan Reva.


"Udah ya jangan nangis lagi"ucap Rey berusaha menenangkan Reva, tak bisa dipungkiri dia juga merindukan pelukan ini, pelukan yang membuat nya nyaman sangat nyaman, sementara Reva merasa bahwa hanya dekapan Rey lah yang mampu menenangkan nya bahkan dia tidak peduli status yang berbeda di antara mereka, sekarang dia butuh hanya lah dukungan dari orang yang dicintai nya.


Ayah Reva yang melihat itu hanya bisa diam, dia tau bahwa dua orang yang berada di hadapan nya ini, sama sama mencintai namun ego yang mereka miliki membuat hubungan mereka semakin rumit, dia juga merasa terpukul akan kondisi istri nya, bahkan dia belum bisa masuk ke ruangan istri nya setelah istri nya melewati masa kritis nya tadi.


"Ayah, Reva pergi masuk dulu ya" ucap Reva melongarkan pelukan nya dari dekapan Rey lalu dibalas dengan anggukan oleh sang ayah.


Reva masuk ke ruangan sang ibu sementara diluar tinggal tersisa Rey dan ayah Reva, Rey pun akhirnya memilih pergi entah kemana meninggalkan ayah Reva sendiri, tak lama kemudian dia kembali membawa bungkusan makanan lalu memberikan kepada ayah Reva, sepertinya Rey baru saja pergi ke kantin membeli makanan itu.


Ayah Rey mendongkak menatap Rey yang berada di depan nya dengan bungkusan yang diberikan tepat di hadapan nya.


"Ini om anggap aja sebagai rasa simpati saya, saya yakin om belum makan, saya juga permisi mau pulang, titip salam sama Reva dan semoga tante cepat sembuh, saya permisi" ucap Rey setelah meletakkan makanan itu tepat disamping ayah Reva lalu pergi begitu saja, sementara ayah Reva memandang lekat punggung yang menajuh darinya sampai hilang dibalik tembok.


"Rey?"


"Eh, dokter bryan, senang berjumpa dengan anda" ucap Rey menyapa seorang dokter paruh baya yang tak sengaja berjumpa di koridor rumah sakit.


"Kamu kenapa tidak pernah cek up lagi, kamu tau kan itu bisa memperpendek umurmu"


"Hidup dan mati itu udah ada yang ngatur dok, dokter tenang aja saya akan baik baik saja" ucap Rey menepuk bahu sang dokter lalu pergi begitu saja.


"Saya turut prihatin nak" gumam dokter tersebut menatap kepergian Rey.