I Hate You But I Love You

I Hate You But I Love You
episode 18



Stevy membantu Ferland mengompres lukanya.


"Lihatlah sayang, begitu kriminalnya adik madu, sampai menyuruh kekasihnya melukaimu, sedangkan dia baru saja melukaiku." Ucap Stevy manja.


"Kau sudah baikan? Bagaimana lukamu?"


Stevy membuka sedikit bajunya, memperlihatkan perban yang menempel di pinggangnya.


"Masih sakit, tapi aku tidak tega padamu, kau sampai seperti ini, laporkan saja dia, tuntun dia, dan ceraikan dia."


"Aku akan menceraikannya, kau tenang saja, tapi untuk meng kasuskan ini, perempuan itu lebih mempunyai kekuasaan dibanding aku."


Stevy terkejut, jika Ajeng lebih kaya dari Ferland, lalu kenapa Ajeng mau dijodohkan oleh Ferland jika bukan karena ingin menguasai harta Ferland.


*Ah masa bodo, yang jelas Ferland akan cepat menceraikannya, dan semua harta Ferland akan menjadi milikku, tunggu aku Alexander* ucap Stevy dalam hati.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Eh, emm aku- aku bahagia, karena kau akan menceraikan adik madu, dan kau seutuhnya menjadi milikku." Ucap Stevy mencium pipi Ferland.


*Jika bukan karena Alexander yang menyuruhku, aku tidak sudi bersamamu* Batin Stevy.


------


"Baik, selesaikan dengan segera dan kirim ke rumahnya." Ucap William lewat ponselnya.


William menatap Ajeng yang masih tertidur.


"Apa kep*rat itu memaksamu melakukannya Ajeng, sampai lo gak mau bayi itu ada di rahim lo." Gumam William.


William terus menjaga Ajeng hingga kesehatannya pulih, bukti-bukti untuk memperkuat gugatan Ajeng juga sudah di proses.


Ajeng kini tinggal di apartemen William.


Gak mungkin jika Ajeng kembali ke rumahnya, rumah Ferland ataupun rumah ibu Alina.


William menjaga Ajeng dengan sangat baik dan lembut, penuh perhatian kepada Ajeng juga kandungan Ajeng.


"Hai sayang, makan dulu buahnya."


"No, Wil, gue gak pengen buah, bosen."


William memposisikan duduknya berjongkok di hadapan Ajeng. Ia lalu mengelus perusahaan Ajeng yang masih rata,


"Terus mau makan apa? Anak baik, kamu mau apa?"


"Gue mau es krim aja sama coklat,"


"Siap nona, sebentar ya gue ambilin dulu."


Tak lama William kembali membawa nampan berisi es krim dan coklat, jus dan susu serta makanan ringan lainnya.


"Nih dimakan."


"Thanks, honney,"


"Em, Jeng, surat gugatan lo udah jadi, apa lo yakin?"


Ajeng memegang perutnya, ia mengingat kerjadian-kejadian yang Ferland lakukan kepadanya.


Ajeng meyakinkan hatinya, jika Ajeng lah yang lebih berhak atas anak dalam rahimnya.


"Iya, hari ini juga suruh orang lo buat anter ke rumah dia."


William hanya mengangguk dan sibuk dengan ponselnya.


"Wil,," (Memegang tangan William.)


William menaruh ponselnya dan menggenggam tangan Ajeng.


"Apa apa?"


"Jangan kasih tau siapapun soal kehamilan ini, gue mohon, gue gak mau kembali sama Ferland."


"Ssssttttt jangan dipikirin, gue janji, gue akan jaga elo sama anak lo, walaupun lo gak mau dia Jeng, please jaga baik-baik buat gue."


-------------


Ferland menatap geram surat kiriman gugatan perceraiannya dengan Ajeng.


Ajeng benar-benar tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Ada penyesalan dalam benak Ferland telah memperlakukan Ajeng dengan kasar.


Sejatinya ia hanya ingin Ajeng seperti Stevy yang penurut.


"Ayolah sayang, jangan ragu, tanda tangani saja surat itu." Ucap Stevy.


Ferland menggenggam erat penanya, dengan dada bergetar Ferland menandatangi gugatan Ajeng.


Stevy tersenyum penuh kemenangan, berikutnya dia akan melanjutkan rencananya untuk menghancurkan Ferland.


-


"Gue dapet kabar, gugatan lo udah di tanda tangani dia."


Dada Ajeng bergetar, sedikit kecewa karena Ferland benar-benar menandatanganinya, bagaimana jika Ferland tau bahwa Ajeng tengah mengandung anaknya, apakah dia akan berusaha menggagalkan perceraiannya, atau akan tetap pada Stevy. Disisi lain Ajeng bernafas lega setidaknya Ferland tidak akan menyakitinya juga bayi yang ada dalam kandungannya.


"Huffftttt."


William melingkarkan tanganya di leher Ajeng dari belakang.


"Gak lah, cuma gue lega akhirnya gue bisa bebas."


"Sekarang tugas lo jaga anak gue,"


"Hah? Ini anak gue Will,"


"Loh katanya lo gak mau anak itu, dan lo setuju buat ngejaga anak itu buat gue."


"Wil..... " Ucap Ajeng mencubit pinggang William.


"Aaaaaaaa aaa awww wawwww... Ampuuunnn ampuunn ibu negara.... "


Ajeng terkekeh, William selalu saja bisa membuatnya tertawa bahagia.


Cuppp.... William mengecup pipi Ajeng, dan menggendong Ajeng.


"Heh, turunin ah Will, ntar jatoh..."


"Hey, ngeraguin kekuatan gue, pegangan cepet pegangan."


"Will, jangan macem-macem lo, Will... Aaaaaaaa Williiiiiii....."


Teriak Ajeng sambil mengeratkan tangannya dileher William yang berlari sambil menggendong Ajeng menuju kamarnya.


Di rebahkannya Ajeng di ranjang dengan hati-hati.


"Sekarang, lo istirahat, jangan begadang, jangan mikirin macem-macem, good night."


Cupppp....


William mengecup mesra kening Ajeng dan menyelimutinya, William mematikan lampu tidur Ajeng, dan pergi dari kamar Ajeng.


Sungguh hatinya kini merasa sedikit lega, karena melihat kondisi Ajeng yang sudah membaik.


William menyuruh orang suruhannya agar selalu siaga menjaga sekeliling rumahnya agar Ferland tidak dapat menemui Ajeng.


William merebahkan dirinya di sofa panjang depan kamar Ajeng. Selama ini William memilih tidur di sofa depan kamar Ajeng agar ia bisa dengan mudah menjaga Ajeng.


Tidak berlebihan mengingat Ferland bukan orang sembarangan yang kapan saja ia mau dia bisa membawa Ajeng dengan seenaknya.


*****


Ferland tak bisa tidur, hatinya gundah, diam-diam Ferland keluar dari kamar, ia menuju balkon, Ferland teringat Ajeng, betapa kini hatinya mengakui kebodohannya telah menyiksa Ajeng.


Namun dia begitu mencintai Stevy, baginya perlakuan Ajeng kepada Stevy sudah sangat keterlaluan, dan tindakan kriminal.


Ia merasa bersalah, bagaimanapun Ferland telah melukai Ajeng sampai Ajeng menggugatnya sepihak.


Pikirannya kalut, hatinya gundah selalu teringat Ajeng.


Ferland sudah menghubungi orang-orangnya untuk mencari Ajeng, yang tadinya ia berfikir Ajeng pulang ke rumahnya ternyata tidak, Ferland sangat yakin jika saat ini Ajeng tinggal bersama kekasihnya, William.


Stevy memeluk mesra Ferland dari belakang, ia membenamkan wajahnya di punggung Ferland.


"Apa yang kau fikirkan?" Bisik Stevy.


"Tidak, tidurlah."


"Temani aku," Ucap Stevy menggoda.


Ferland melepaskan pelukan Stevy.


"Aku sedang tidak berselera, pergilah jangan ganggu aku."


Stevy memicingkan matanya, baru kali ini Ferland berani menolaknya.


Bagaimanapun caranya ia harus tetap bisa memperdaya Ferland agar mudah mengubah semua aset milik Ferland.


Stevy kembali ke kamarnya dengan jengkel, ia kembali memikirkan cara agar Ferland kembali menuruti semua keinginannya.


******


"Morning," Cuppp... Ajeng mengecup bibir William yang masih tertidur.


William terbangun, mengerjapkan matanya, melihat Ajeng yang hendak membuka kaca balkon apartemennya.


"Jangan Jeng,"


"Hah? Kenapa? Gue pengen menghirup udara segar."


"Biar gue aja, gue cuma takut ada kata-kata Ferland, Jeng, dia bukan orang sembarangan."


Ajeng mengangguk, perkataan William ada benarnya.


"Will, gimana soal pisau Stevy waktu itu?"


"Tenang honey, semua sudah ku urus, polisi sudah memberikan berkasnya, disana memang sidik jari Stevy, dan Stevy sengaja melakukan itu sendiri, kita bisa kasuskan kalau lo mau."


"Jangan sekarang Wil, gue masih penasaran, sebenarnya apa yang Stevy incar."


"Harta?" Singkat William.


"Enggak Wil, gue brasa dia gak cuma ngincer harta Ferland, ada sesuatu yang dia tutup rapat-rapat, gue rasa dia..... "


"Ssssttttt udah-udah, inget jangan mikirin macem-macem, okey anak papah sekarang mau sarapan apa?"


Ucap William mengelus perut Ajeng, Ajeng tersenyum ia mengelus pipi William dengan lembut.


"Jangan lupa minum obat dan vitaminnya, biar gak mual-mual terus." ucap William menatap wajah ayu Ajeng, Ajeng mengangguk sembari tersenyum.