
Pukul 00.45 Ajeng terbangun, ia teringat terkahir kali William menemaninya bercerita sampai Ajeng tidur di kamar.
"Apa gue cuma mimpi William dateng, ta-tapiii itu kayak nyata banget," Gumam Ajeng.
Ajeng melihat meja kecil disamping tempat tidur, dia mengambil cincin yang sangat dia kenal, cincin couple, pasangan cincin yang Ajeng kenakan.
"Ini kan cincin William, berarti gue gak mimpi, tapi dimana William, apa dia udah pergi." Gumam Ajeng
Ajeng turun dari ranjang, ia berlari menyusuri rumahnya, sambil berteriak memanggil-manggil nama William.
"Will... Will.... Lo dimana?! Will..... "
Ibunya yang mendengar teriakan Ajeng segera menghampiri Ajeng, dan langsung memeluk Ajeng yang berteriak sambil menangis.
"Nduk, nduk tenang nduk...."
"Bu, William mana, i-ini cincin William bu, ibu ngusir William?"
"Enggak sayang, William lagi tidur nduk dikamar tamu."
Ajeng segera berlari ke kamar tamu, menggenggam cincin William.
Diketuknya pintu kamar tamu namun tak ada jawaban. Ajeng mencoba membuka gagang pintu.
"Ah gak dikunci." Gumam Ajeng, Ajeng melongokkan kepalanya, ia masuk perlahan, dilihatnya William sedang tertidur, nafasnya yang teratur mebuat Ajeng tersenyum. Dipandangi nya wajah William, ia sungguh mencintai dan merindukan wajah itu.
Ajeng duduk dipinggir ranjang, menggenggam dan mencium tangan William.
William mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Eh beib, kenapa nangis."
Ucap William langsung terduduk memeluk Ajeng.
"Gue pikir lo pergi,"
"Gue cuma ngantuk sayang,"
"Maaf gue ganggu tidur lo, yaudah lo tidur lagi aja, gue tungguin disini."
"Eh gak boleh gitu dong, lo harus tidur, biar besok fit dan gak ada mata panda, lo harus cantik besok."
Dada William bergetar, seakan dia ingin membunuh dirinya sendiri agar esok tidak melihat kekasihnya bersanding dengan pria lain.
Ajeng melepaskan pelukan William, dipandanginya lekat-lekat wajah kekasihnya itu.
"Wil, hubungan kita,"
"Sayang, denger ya, gue William akan terus cinta sama lo, akan terus sayang sama lo, gue bakal tetap menanti lo, sampai kapanpun."
"Kalo misalkan gue jatuh cinta sama dia, gimana?"
"Gue tau Jeng, kalo cinta itu gak harus memiliki, asal lo bahagia, gue juga bahagia, sekarang lo tidur ya, ini udah larut."
William mencerna kata-kata Ajeng, bagaimanapun dia harus siap jika nanti Ajeng berpaling darinya, setiap hari bersama pasti akan menumbuhkan rasa cinta diantara keduanya. Jika saat itu tiba William harus siap melangkah pergi dari hidup Ajeng.
"Gue mau tidur sini Wil,"
"Yaudah sini naik,"
Ajeng naik ke atas ranjang, di dekapnya Ajeng sampai Ajeng tertidur di dekapan William.
William menidurkan Ajeng perlahan agar dia tak bangun, menyelimutinya. William turun dari ranjang,
William berjalan ke luar kamar, ia menatap lukisan besar keluarga Ajeng, terlihat Ajeng masih berumur belasan tahun dan terlihat sangat manis.
"belom tidur Wil?"
"eh..mas Dimas, anu mas Ajeng tidur dikamar,"
Dimas menatap William heran.
"Tiba-tiba tadi dia masuk kamar saya, yasudah saya temenin sampe dia tidur, saya gak ngapa-ngapain kok."
"Gue percaya kok, tenang aja Wil,"
William membalas senyuman Dimas.
"Wil, maaf kalau Ajeng ngerepotin,"
"Ah, enggak mas, sama sekali, saya maklum kalau Ajeng begini,"
"Kita senasib Wil, gue juga dijodohkan, gue ninggalin Karina orang yang gue cintai. Jadi gue tau diposisi lo Wil,"
"Harusnya lo, sanggup gak lo liat Ajeng besok."
William dan Dimas tertawa bersama, entah menertawakan apa, nasibnya yang sama atau apa.
-----
Ajeng menatap pantulan dirinya di cermin, ia menghembuskan nafas panjang, pikirannya melayang, seandainya hari ini yang bersanding dengannya adalah William, pasti hari ini akan menjadi hari bahagia dalam hidupnya.
William berdiri di belakang Ajeng, memeluk Ajeng dari belakang, menatap pantulan diri Ajeng, sungguh cantik, anggun, mewah dan elegan. Gaun yang Ajeng kenakan sungguh membuat Ajeng nampak begitu mempesona.
"Wil..."
"Diam," Bisik William,
William memejamkan matanya, menikmati pelukannya, Ajeng bisa merasakan hembusan nafas William di lehernya, terasa begitu nyaman pelukan William. Ajeng mengelus pipi William, betapa tak ingin dirinya berpisah dengan William.
William melepaskan pelukannya. Ia menatap Ajeng sendu.
"Orang-orang udah nunggu di bawah Jeng," Ucap William tersenyum, mengulurkan tangannya. Ajeng menerima uluran tangan William.
"Wil,"
"Diam, Jeng, gue yang bakal nganter lo ke pelaminan, ini janji gue, kalau gue akan selalu ngejagain elo, ayo."
Ajeng menatap William yang menggunakan jas silver dengan hiasan lencana didadanya, rambutnya yang rapi membuat William semakin gagah.
Ajeng berjalan beriringan, sungguh siapapun yang melihatnya pasti akan mengira jika William adalah pengantin prianya.
-
Pernikahanpun berlangsung, Ajeng tak bisa mengalihkan pandangannya dari William yang juga sedang menatapnya.
Betapa hancur hati William, ingin rasanya ia berteriak dan menghancurkan acara ini. Namun ia tak kuasa saat teringat kisah kelam orang tua Ajeng.
William menatap Ferland, nampak Ferland tidak menikmati pernikahannya, wajah Ferland datar tanpa ekspresi, hanya sesekali tersenyum saat ada yang minta foto atau menyapanya.
"Gue akan terus mencintai lo Jeng, sampe lo sendiri yang pergi ninggalin cinta ini, dan mencintai Ferland." Gumam William dalam hati.
-
"Apakah dia pecundang itu." Bisik Ferland masih fokus menatap ke depan tanpa sedikitpun menoleh kepada Ajeng.
"Jika dia pecundang, saat ini dia tidak akan berada disini."
"Kasihan sekali, mengantar kekasih untuk menikah dengan pria lain, dasar tak punya harga diri."
Ajeng geram, seketika Ajeng melayangkan tangannya di udara, para tamu terkejut dengan aksi Ajeng seketika Ajeng menggantung tangannya di udara.
Ajeng menyadari semua mata kini tertuju padanya termasuk William dan kedua orang tuanya.
Ajeng memegang lembut pipi Ferland, dan tersenyum manis kepada Ferland, para tamu yang tadinya terkejut kini menjadi tersenyum ada juga yang melihatnya dengan baper.
"Diam, atau ku patahkan lehermu." Bisik Ajeng sambil tersenyum masih dengan memegang mesra pipi Ferland.
Lalu Ajeng melepaskan sentuhannya pada Ferland dan kembali dalam sesi foto.
William tersentak melihat pemandangan yang membuat hatinya sangat hancur.
Jika bukan karena kedua orang tua Ajeng, mungkin saat ini dia telah menghabisi Ferland dan bersanding dengan Ajeng.
William mengikuti acara sampai selesai, William pun pamit pulang kepada keluarga Ajeng.
"Wil, cincin lo." Ucap Ajeng menghampiri William yang sudah akan masuk ke dalam mobil.
William tersenyum menerimanya.
"Pakai." Ucap Ajeng, Ajeng memakai cincin di jari William.
"Gue juga masih pakai cincin dari lo, jangan pergi jauh dari gue, Wil, gue tetep milik lo, dan lo tetep milik gue, jangan coba-coba lo berpaling dari gue, gue...." Ajeng tak mampu membendung air matanya, William memeluk Ajeng, ia menatap Ferland yang tengah membuang muka.
"Gue janji, gue tetap milik lo tengil."
Ucap William sambil melepaskan pelukannya.
"Gue balik ya,"
Ajeng hanya mengangguk, menatap mobil William yang kian menjauh dari istananya.
Ajeng menghapus air matanya, memendam semua keluh kesah dalam hatinya