Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
73. Bonus Part 2



Malam itu, Zila sudah selesai dengan pekerjaannya di Cafe.


Karna ramai, Zila menambah 2 karyawan agar tidak kualahan. Dan Zila baru saja menyeleksi mereka, oleh karena itu ia yang biasanya bersantai dirumah, hari ini jadi sibuk.


Setelah sampai dirumah, Zila melihat Leo yang masih berada dimeja belajarnya.


" Kau tidak istirahat, sayang?" Tanya Zila khawatir. Soalnya Leo sudah belajar sejak ia pulang sekolah. Padahal ini sudah hampir malam.


" Belum mom." Jawab Leo masih sibuk dengan dunianya.


" Sudah makan belum?" Tanya Zila sambil mencubit pipi gembul anaknya.


" Sudah mom. Dibuatin sama mbak Mely." Kata Leo lagi tanpa menoleh kearah ibunya.


Zila sangat sedih melihat sifat Leo yang berubah acuh. Mendadak ia merasa sangat kesepian.


" Belajarnya udahan dulu, besok lanjut lagi, ya." Pinta Zila.


" Ya mom." Leo kemudian membereskan alat belajarnya.


Setelah kepergian Zila, Leo jadi murung. Ia menangis dalam diam. Bukan tanpa alasan ia jadi giat belajar.


Dulu ia santai saja karena masih ada Leon, kakaknya.


Perusahaan daddynya akan baik-baik saja karena Leon yang akan meneruskannya.


Itulah mengapa Leo memilih belajar secukupnya dan banyak bermain.


Sekarang, ia takut mengecewakan ayahnya. Dia tidak lah sepintar Leon yang mampu mengingat dalam sekali baca.


" Kau belum tidur, boy." Suara bariton ayahnya mampu mengagetkannya.


Leo segera menghapus air matanya dan menatap ayahnya sambil tersenyum.


" Belum ngantuk dad." Kata Leo.


Rafa duduk disisi ranjang dan membawa Leo kepangkuanya.


" Euh.... Kenapa kau terlihat sangat tertekan?" Tanya Rafa sambil mengelus pelan rambut anaknya.


Leo memeluk erat ayahnya dan menangis saat itu juga.


" Hei boy, kau menangis ?" Tanya Rafa yang mampu membuat Leo mengencangkan tangisannya.


" Maafkan Aku dad..." kata Leo agak bergumam.


" Kenapa, apa yang terjadi. Apakah ada yang mengganggumu disekolah ?" Rafa bertanya.


Leo menggelengkan kepalanya.


" Maafkan aku... Aku tidak sepintar kakak ku, Leon. Ku rasa aku akan kesulitan membawa perusahaan daddy lebih jaya lagi dari sekarang." Ucap Leo sambil menunduk, ia malu pada ayahnya.


" Hei.. Kau juga pintar. Jangan berkecil hati, okay. Daddy tidak suka. Lakukan sesuka mu. Daddy tidak akan mengekang mu selama yang kau lakukan tidak merugikan orang lain." Tutur Rafa lembut.


Ia ingin anaknya tumbuh seperti anak lainya, tanpa merasa ada beban yang dipikulnya.


Leo tidak menjawab, tapi ia masih terisak dipelukan ayahnya.


" Berjanjilah sama daddy. Kau akan menjalani hidup dengan bahagia, walau tanpa saudara mu." Rafa menatap lekat manik mata anaknya.


" Ya dad." Kata Leo.


Rafa tau kalau anaknya ini sedih kehilangan saudaranya, tapi mau bagaimana lagi. Mereka hanya lah manusia biasa yang tidak bisa melawan takdir.


.


.


.


" Ya, kau sedang menggoda ku ?" Tanya Rafa saat melihat baju transparan seperti jaring penangkap ikan.


Bahkan Kedua aset berharga istrinya kelihatan karna tidak tertutup sempurna.


" Tentu saja." Kata Zila sambil beranjak kekasur dan berpose disana.


" Kau ini... Kalau begitu ayo kita mulai." Kata Rafa sudah tidak tahan lagi melihat istrinya yang menganggur disana.


" Kau bau. Mandi dulu sana.." Perintah Zila.


Rafa kesal setengah mati tapi tidak menolak titah sang ratu.


.


.


.


.


Mereka sekarang tengah berpelukan dibalkon kamar. Mereka menggunakan selimut saja, menutupi tubuh mereka yang tidak memakai apapun.


Mereka baru saja memadu kasih, dan memutuskan untuk bersantai sejenak disana sebelum tidur untuk menjemput mimpi.


" Apa kau menyesal bertemu dengan ku ? Selama hidup bersama ku, kau mendapatkan banyak sekali masalah." Kata Rafa.


" Aku tidak menyesali nya. Kau tau kalau ini semua memang sudah digariskan Tuhan untuk ku." Kata Zila bijak.


" Rafa, aku ingin memberi tau kamu satu fakta. Tapi kau jangan kecewa, ya." Ucap Zila.


" Aku jadi penasaran." Ucap Rafa sedikit tertawa.


" Itu...." Zila berkata sambil mengelus perutnya.


" Aku sudah tidak bisa hamil lagi. Rahim ku diangkat. Karna kalau tidak, nyawa ku dalam bahaya. Mereka melakukannya tanpa seizin ku." Jujur Zila sambil menangis.


Rafa sangat terpukul mendengarnya, ia juga ingin menggendong bayi.


Tapi Rafa menyembunyikan rasa kecewanya dengan tersenyum simpul.


" Tak apa. Masih ada Leo yang butuh perhatian lebih dari kita." Kata Rafa berusaha tegar.


" Rafa, aku selalu merasa kesepian karena hanya tinggal berdua sama Leo, kalau kamu lagi kerja. Bolehkah aku mengajak Mama Susi menginap disini. Aku bosan." Zila meminta izin dan di iyakan sama Rafa.


Kenapa hanya Susi ? Karna ibunya Susi sudah meninggal karna usia.


Itulah kenapa si kembar sekarang sudah tidak punya nenek buyut lagi.


.


.


.


.


-Selesai-