
Hari itu mereka habiskan dengan bercanda tawa bersama.
" Mom. Aku lapar." kata Leona.
" Oh. Maaf sayang, mommy sampai lupa kalau sudah waktunya makan siang." sesal Zila.
" Ya sudah kalian makan saja dulu." kata Rafa.
" Aku pengen ke restoran cina ma." pinta Leo.
" Ya sudah. Ayo kesana." ajak Zila.
" Kau tidak ikut, Leon." tanya Zila melihat Leon hanya diam saja tidak berniat beranjak dari duduknya.
" Tidak. Aku bungkusin saja mom. Biar daddy aku yang jaga." kata Leon.
" Ya sudah, tolong jagain daddy, ya." ucap Rafa senang bukan main langsung di terima mereka semua.
" Hmmm..." jawab Leon.
Setelah kepergian Zila, Leo dan Leona. Suasana di dalam kamar itu menjadi mencekam.
Pasalnya wajah Leon berubah drastis menjadi sangat dingin.
Leon.
Rafa
.
.
Leon menatap Rafa mengintimidasi.
" Kau sangat pandai berbohong. Belajar dari mana ?" tanya Leon yang mampu mengagetkan Rafa.
" Apa maksudmu, boy." tanya Rafa.
" Ck. Kau bisa mengelabuhi mereka, tapi tidak dengan ku. Aku tau Roy sudah menyelidiki semua tentang ku, dan aku yang menyelamatkan mu. Kau fikir aku tidak tau kalau benturan di kepala mu tidak akan membuat mu amnesia." kata Leon tegas.
Ia masih menatap bengis ke arah orang yang memang benar daddynya.
" Menyebalkan sekali kamu, boy. Kenapa kau tidak bisa bersikap seperti anak kecil saja." gerutu Rafa tidak bisa menyembunyikan kebohongannya lagi.
" Hei bukan begitu maksud daddy." Rafa menjadi tidak enak.
Leon hanya mengabaikannya dan memilih membuka laptopnya.
" Apa yang kau lakukan boy ?" tanya Rafa pada Leon yang terlihat asik sendiri dengan dunianya.
" Memasak." jawab Leon asal.
" Jangan begitu." kata Rafa sedikit jengkel.
" Kau tidak bekerja bukan ? aku hanya membantu Roy agar tidak terlalu kerepotan. Roy harus mengurus pekerjaan mu dan Mark sekaligus." jelas Leon bijak.
Rafa menatap kagum pada anak jenius di hadapannya.
" Aku ragu, apakah benar kalau umur mu hanya tujuh tahun?" tanya Rafa tidak percaya.
" Ini bukanlah apa-apa. Aku memang masih kecil tapi sudah kaya." sombongnya.
" Apa maksudmu?" tanya Rafa tidak percaya.
" Jangan kepo. Kau ingatlah kataku ini. Jangan banyak mencari tau, kalau masih ingin kepalamu tetap di tempatnya." kata Leon dengan senyum smirk nya.
" Kau ini sudah pandai sekali mengancam orang dewasa. Mau jadi apa kamu besar nanti. Daddy bukannya mau mengekang mu, hanya saja kamu tidak boleh menggunakan bakat mu untuk hal yang salah." kata Rafa.
" Kau tenang saja pria tua. Aku mendapatkan uang bukan hasil membobol bank atau apapun itu, tapi dari hasil uang jajan ku sendiri yang ku simpan lalu bermain saham. Keren bukan, masih kecil tapi sudah kaya raya." kata Leon lagi menyombongkan diri nya.
" Ya, ya. Kau memang Tuan Kecil kaya raya." ucap Rafa mulai faham pribadi anak sulung nya.
Yang pasti tidak tersentuh, dingin, arogan, pendiam, dan yang paling ketara adalah sombongnya yang ngga ketulungan kalau sudah berbicara.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka karna Leon sudah sibuk sendiri dengan laptop nya.
Kebosanan Rafa tergantikan dengan wajah bahagia saat kedatangan Zila, Leo dan Leona.
Leon langsung memakan makanan favorit kesukaannya yang di belikan sang ibu.
Sedangkan Rafa minta disuapi sama Zila.
Tanpa ada yang tau, Rafa sama Leon saling melempar tatapan tajam seakan menunjukkan permusuhan di antara mereka berdua.
" *M*anja." gerutu Leon dalam hati sambil menggigit kuat makanan di tangannya.
-to be continued-