
" Lalu bagaimana dengan wanita yang kau cari." tanya Zila.
" Kau tau, semenjak malam yang kita lalui berdua, aku tidak pernah bisa melupakannya. Aku masih mengingat rasanya. Masih mengingat semua kejadiannya kecuali wajah mu." tutur Rafa.
" Selama ini aku mencari mu. Aku sendiri tidak tau, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada wanita yang sama sekali tidak ku ketahui." tambahnya.
" Apa ? jadi selama ini kau mencari ku ?" Zila tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Ya, andai saja aku tau lebih awal kalau gadis yang aku nodai adalah kamu. Aku akan memperlakukan mu dengan baik."
" Tapi bukan berarti kamu juga harus memaksa aku menikahi mu, apalagi kau tidak tau siapa aku dan bagaimana aku. Kau akan menyesal kalau seandainya yang kau nikahi ini wanita matre "
" Aku tidak keberatan dengan itu, mau sematre apapun harta ku tidak akan habis. Bahkan walau sudah di buat Leon rugi triliunan pun uang ku masih banyak." ucap Rafa tanpa sadar.
" Apa ? Leon membuat mu rugi sebanyak itu ?" tanya Zila kaget dengan ucapan Rafa.
" Ya." ucap Rafa tanpa sadar.
Sejenak Rafa terdiam dan gelagapan. Ia tidak sadar kalau telah melaporkan kejadian yang bisa saja membuat murka Zila.
" Sayang, bukan seperti itu." Rafa berkata sambil memeluk Zila lebih erat.
" Lepaskan Rafa aku harus memberi Leon pelajaran. Siapa yang mengajarinya melakukan hal curang seperti itu." geram Zila. Ia tidak habis pikir.
Zila merasa sudah mengajarkan pada Leon mana yang baik dan yang bukan tapi tetap saja anak itu melanggar.
" Dengarkan aku dulu, Leon hanya merasa kecewa pada ku karna ia fikir aku tidak mencari kalian. Jadi dia melakukannya. Maafkan dia, ya." jelas Rafa mencegah Zila menemui Leon.
" Kau jangan membelanya." geram Zila.
" Please.. Aku adalah orang baru bagi Leon. Leon lebih menyayangi mu dari pada aku yang baru datang. Leon pasti akan sangat membenci ku kalau aku memberi tau mu."
Zila mengalah dan memilih diam.
" Kejadian itu sudah lama bahkan sebelum aku mengenal mu, tolong lah, aku tidak ingin ada jarak antara aku juga Leon."
Rayu Rafa langsung mencium seluruh wajah Zila.
" Nyebelin." gerutu Zila sambil memukul dada suami nya pelan.
Rafa menggigit gemas hidung istrinya.
" Tapi suka, kan."
" Mesum." ucap Zila.
Zila langsung mencium bibir suaminya dan ******* nya. Tangannya ia kalungkan ke leher suaminya.
Rafa membulatkan matanya kaget mendapatkan serangan mendadak itu. Namun ia membalas ciuman itu dengan kasar sampai tanpa sadar telah melukai bibir Zila.
Zila memberontak karna ia sudah kehabisan nafas.
" Kau ini. Kenapa menggigit ku." ucap Zila pelan.
" Kamu yang menggemaskan." Rafa tidak tahan dengan bibir yang sudah bengkak akibat perbuatannya itu.
Rafa Kemudian menyerangnya lagi, kali ini Zila bisa mengimbangi permainan kasar suaminya.
Zila melenguh pelan ketika merasakan tangan Rafa sudah memasuki piyama tidurnya.
" Ra.. " Zila baru saja mau protes tapi langsung dibungkam oleh Rafa dengan ciuman yang lebih menuntut lagi.
Tangan nakal itu sudah melepas bra yang menutupi gunung kembar yang dari tadi diincarnya.
" Akhhh..." Zila mendesah panjang ketika merasakan sensasi yang tidak pernah ia dapatkan.
Mungkin mereka pernah melakukannya. Tapi Zila saat itu dalam keadaan pingsan.
" Maukah kau menjadi milikku?" tanya Rafa dengan nafsu yang sudah di ubun-ubun.
-to be continued-