
Leon dan Leona masih anak-anak. Dan penjahat tetaplah penjahat. Mereka tidak perduli siapa yang mereka jadikan korban selama itu menguntungkan mereka.
" Tuan, harus saya apakan kedua anjing anda ? Mereka telah membuat kita kehilangan kartu As." Tanya Olaf. Asisten pribadinya yang cantik jelita.
" Biarkan. Walau kita kehilangan kartu As tapi kita sudah punya penggantinya untuk kita manfaatkan." Kata pria bertopeng itu dengan senyum smirk khas miliknya.
" Apa rencana anda selanjutnya?" tanya asistennya itu dengan suara mendayu.
" Kau tunggu saja. Aku akan merajai dunia bisnis dengan membawa anak itu bersama ku." Kata pria bertopeng itu.
" Kau! Pastikan kau membawa serum untuk menghilangkan ingatannya." Kata pria bertopeng itu dengan suara penuh ancaman.
" Ya Tuan, saya pastikan hasilnya akan sangat sempurna." Kata asistennya pasti dan meninggalkan tuannya.
Tak lama setelah itu, datanglah Kenan juga Lula.
" Tuan." sapa mereka berdua sambil membungkuk patuh.
Pria bertopeng itu menatap tidak suka pada mereka yang baru saja datang.
" Kalian pasti tau apa kesalahan kalian, bukan ?" Sarkas pria bertopeng itu, tidak menunjukkan belas kasihan sama sekali.
" Maafkan kelalaian kami, Tuan. Hal itu tidak akan pernah terjadi lagi." Sesal Kenan.
" Sudahlah.. Dandani Zila yang cantik dan jual kenona Feng." Perintah pria bertopeng itu pada kedua anjingnya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
" Baik Tuan." Kedua anjing itu menunduk patuh dan segera melakukan tugasnya.
Nona Feng adalah pemilik Club Malam terbesar di kota itu.
Dan mereka berencana untuk menjualnya kesana agar bisa menghancurkan hati Rafa. Rafa akan merasa tidak berguna sebagai manusia, dan memang seperti itulah yang terjadi.
Pria bertopeng itu menuju ketempat dimana para kembar disekap. Tahanan mereka diletakkan ditempat yang berbeda.
Si kembar menjadi terbangun saat mendengar suara pintu terbuka.
" Lepaskan kami.. Lepaskan kami...!" Teriak Leona sambil menangis.
Leona meronta sampai pergelangan tangannya yang diikat itu menjadi lecet karna goresan.
Leon hanya diam saja. Dia melihat kearah pria bertopeng itu dengan tatapan tidak bisa diartikan.
Leona menangis mendengarnya. Ia takut pada pria bertopeng ini. Leona menggeser tubuhnya mendekati kakaknya.
" Kakak, Leona takut." Kata Leona sambil bergetar.
Leon sebenarnya juga takut, tapi ia hanya bereaksi biasa saja saat melihat pria bertopeng dihadapannya.
" Kau memang beda, Leon." Kata pria itu setelah melihat betapa kuatnya Leon.
Leon tidak bereaksi. Ia hanya menatap datar pada pria yang telah menyekapnya.
" Mau taruhan dengan ku?" Tawar pria bertopeng itu.
" Apa mau mu?" Kata Leon kemudian.
" Aku suka sekali dengan anak penuh perhitungan seperti kamu." Pria itu berkata sambil tertawa menggelegar.
Leon hanya terdiam menunggu apa yang akan pria ini katakan padanya.
" Aku akan melepaskan ibu kalian. Tapi dengan kalian sebagai imbalannya." Kata pria itu.
Leon terdiam. Ia masih menatap dingin pada pria yang tengah duduk dengan angkuhnya di sebuah kursi kebanggaannya.
" Apa yang kau inginkan dari kami semua ?" Tanya Leon to the poin. Leon tidak mau basa basi.
" Hanya sebuah kekayaan, dan kekuasaan. Kau adalah pion paling penting bagi ku untuk menuju pintu kesuksesan." Kata pria itu.
Leon terdiam sejenak dan berkata.
" Aku ikut padamu. Aku akan memenuhi semua perintah mu tapi dengan syarat, Lepaskan mommy juga adikku." Kata Leon.
Pria bertopeng itu tertawa mendengarnya.
" Kau memilih pilihan yang benar." Kata pria bertopeng itu dan menyuruh mereka membawa Leona.
Leon mengira mereka akan membawa adiknya pulang kembali kepada ayahnya tapi, apakah begitu?
Kemana mereka membawa Leona pergi ?
-to be continued-