
Maaf ya kemarin tidak update karna memperbaiki kata yang salah agar lulus kontrakš
_
" Kak, bagaimana caranya agar kita bisa membuka rantai ini ?" tanya Leona.
Hatinya terasa sangat sakit melihat pria tua tidak sadarkan diri itu.
" Tunggu sebentar, kakak akan cari sesuatu untuk membukanya."
Leona menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian Leon datang sambil membawa gergaji.
" Kakak dapat dari mana ?" tanya Leona.
" Dari gudang perlengkapan. Sepertinya tempat ini di jadikan tempat berlatih oleh musuh. Kita harus cepat. Kita tidak tau kapan mereka akan kembali." ucap Leon.
Pria lusuh itu terbangun mendengar suara berisik dari gergaji Leon.
" Kalian siapa ?" tanyanya dengan suara yang lemah.
Belakangan ini ia jarang sekali di kasih makan.
" Jangan takut kami orang baik." ucap Leona polos.
Pria itu tertawa kecil melihat kedua anak yang berusaha menyelamatkan nya itu.
" Kalian mengapa bisa berada di tempat ini, ini tempat yang berbahaya." ucap pria itu terbata menahan rasa lapar.
Leon tidak menjawab dan masih fokus bagaimana memutuskan rantai itu.
" Kami mencari mommy kami." ucap Leona sedih.
Pria itu terdiam dan memperhatikan wajah gadis kecil itu yang mirip sekali dengan wanita yang di sandera bersamanya kemarin.
" Nama ibu mu siapa, nak ?" tanya pria itu.
" Mommy Zila." jawab gadis kecil itu dengan sedih.
" Oh ya tuhan..." pria itu mendesah.
Ia tidak habis fikir hanya karna harta dan tahta Kenan melakukan semua ini.
Arief merasa bersalah karna tidak bisa menyelamatkan ibu mereka yang di tarik paksa pergi entah kemana bersama Kenan dan tunangannya.
" Ck. Kenapa susah sekali." ucap Leon sambil berlari mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka pasung itu.
" Nak, kalian pergilah dari sini. Tempat ini tidak aman. Kenan akan kembali dan menangkap kalian." ucap pria itu.
" Siapa Kenan ?"
Tanya Leon setelah masuk kembali membawa sebuah kunci yang ia dapatkan dari penjaga di dekat pintu masuk ruang rahasia.
" Orang yang sudah menyandera ibu kalian juga aku." ucap pria itu.
" Kau tau dimana mereka membawa ibu ku ?" tanya Leon sambil membantu pria itu berdiri.
" Iya. Kau tau dimana mommy?" tanya Leona juga.
Mereka menanti jawaban dari pria itu dengan cemas.
" Mereka sempat menyekapnya bersama ku, tapi ia di bawa pergi entah kemana oleh mereka." ucap pria itu.
Leon juga Leona kemudian membawa pria itu ke dalam mobil yang di dalam nya ada Thomas.
Ya, Thomas yang membantu mereka.
Arief di bawa ke rumah sakit keluarga Sarfaraz. Kenapa Leon tidak mengenali wajah Arief padahal ia sudah melihat foto nya melalui pelacakannya.
Semua itu karna wajah Arief yang mulai keriput, tidak terawat.
Arief yang Leon lihat di foto sangatlah gagah dan tampan.
Tapi Arief yang ia lihat sekarang di penuhi jenggot, rambut nya memanjang, mirip wanita karena tidak pernah di potong.
Baju yang kumal dan tubuh yang begitu kurus.
Itulah mengapa Leon tidak mengenalinya sama sekali.
Di tambah dirinya yang masih panik memikirkan ibunya. Jadi Leon tidak mengenalinya. Akhirnya Tuan Arief selamat.
" Thomas, kau bisa membawa pria ini sendirian." pinta Leon.
" Aku mau mencari lebih dalam lagi. Mungkin Mommy masih didalam sana. Aku akan mencarinya sekali lagi." ucap Leon.
" Leona, kau ikut Thomas, ya." pinta Leon.
" Tidak mau, aku ikut kakak." rengek Leona. Ia juga ingin membantu misi penyelamatan ibunya.
" Ikutlah sama Thomas." Paksa Leon.
" Tidak mau." kata Leona.
" Kalian ikutlah bersamaku, tempat ini berbahaya. Siapa tau bos mereka nanti akan kembali." Thomas menengahi mereka berdua.
" Tidak mau." ucap mereka berdua bareng.
Kompak sekali. Pikir Thomas.
.
.
.
-to be continued-