
Setelah kedatangan Roy, Rafa menjadi murka melihat fakta yang terpampang di depan mata kepalanya sediri kalau ia sudah memelihara penyusup.
" Tuan. Ternyata yang menyelamatkan anda dari kecelakaan itu adalah anak kecil." lapor Roy.
" Apa maksudmu?" tanya Rafa.
" Maaf tuan. Saat anda menghilang keuangan perusahaan menjadi anjlok. Awalnya saya pikir ini semua adalah ulah seorang hacker yang berhasil membuat anda rugi besar. Jadi saya terus mencari tau tentang orang itu tapi tak lama seorang anak kecil mendatangi markas saya dan mengacau disana." jelas Roy.
" Anak kecil ? hey bagaimana bisa anak kecil menerobos masuk kesana ?" Rafa berniat memukul tangan kanannya itu tapi terhenti setelah mendengar jawaban selanjutnya.
" Saya juga tidak percaya Tuan. Tapi yang membuat saya lebih tidak percaya adalah wajahnya yang mirip dengan anda Tuan." kata Roy.
" Jelaskan." Rafa sedikit faham, pasti mimpinya adalah pertanda.
" Anak itu mengakui kalau ia sengaja membuat anda rugi katanya. Ia kecewa sama anda karena tidak mencarinya sama sekali padahal uang anda banyak. Itu yang saya dengar darinya." ucap Roy.
" Setelah kejadian itu saya langsung menyelidiki tentang Nyonya Zila. Ternyata nyonya Zila punya tiga anak, Tuan kecil Leon, Tuan kecil Leo dan Nona kecil Leona." tambah Roy lagi.
Rafa tidak bisa berkata apa lagi. Mimpinya benar.
" Saya juga meretas apa saja yang terjadi pada anda dan ternyata yang melaporkan kepihak berwajib tentang kecelakaan anda adalah Tuan Muda Leon.
Yang menyebarkan berita kematian anda juga Tuan Leon. Mungkin Tuan Muda Leon takut kalau ada musuh yang tau anda masih hidup bakal menyerang anda lagi." jelas Rafa.
" Kenapa selama ini kita tidak menemukan fakta tentang para anak Zila." tanya Rafa merasa aneh.
" Tuan Leon yang mengamankannya. Anda saja sudah dikalahkan olehnya, apalagi saya. Tuan Leon menuruni kejeniusan anda. Tapi kayaknya Tuan Leon lebih jenius lagi." tutur Roy lagi.
" Ck benarkah ? aku ingin sekali menemuinya." jujur Rafa.
" Sebaiknya anda mempersiapkan mental juga memikirkan cara agar bisa merebut hati Nyonya Zila. Jika si ibu bisa ditahlukkan maka para anak pun mengikuti induknya." saran Roy.
Rafa tertawa mendengar ucapan Roy yang menurutnya lucu.
" Kau benar." kata Rafa sambil menepuk pundak tangan kanannya.
" Belum Tuan. Saya dan Tuan Muda Leon masih menyelidiki nya." Roy merasa menyesal melakukan tugasnya agak lambat.
" Kalian bekerja sama ?" tanya Rafa tidak senang karna kalah start dari Roy. Ternyata Roy duluan dekat dengan anaknya.
" Iya Tuan." jawab Roy tanpa sadar kalau Tuannya itu tengah cemburu.
Rafa langsung kembali ke kamar rawat inapnya dengan kesal. Rafa sama Roy sengaja bicara diluar takut mengganggu tidurnya Zila.
Pagi telah tiba. Kali ini matahari sudah terlihat. Sinar surya agak masuk dalam kamar Rafa karna kordennya sengaja Rafa buka.
Saat sinar itu mengenai wajah Zila yang mengganggu tidurnya, Zila jadi terbangun.
Zila membuka matanya sedikit dan kembali ia tutup lagi, tangannya memeluk Rafa tambah erat lagi.
Beberapa saat kemudian Zila membuka matanya lebar saat menyadari kalau ia sekarang sedang berbaring diRanjang.
Zila menutup mulutnya yang hendak menjerit.
" *O*h tidak. Bagaimana bisa aku tidur diatas sini."
Zila mengingat lagi kejadian semalam tapi nihil ia tidak mengingat apapun.
.
.
.
.
.
-to be continued-