Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
23. Kemenangan Zila



" Tuan, Tuan Rafa." ucap Zila sambil menggoyangkan tangan kanannya di depan wajah Rafa.


" Ya." Ucap Rafa setelah sadar dari lamunannya tentang saudara kembarnya.


" Gimana Tuan, mau kan belajar bela diri lagi." pinta Zila.


" Tidak mau. Aku masih punya Mark yang bisa diandalkan. Kau ini menyebalkan sekali. Tenang saja, kau tidak akan terlibat apapun dengan urusan ku."


" Bagaimana bisa aku tidak terlibat ? bagaimana jika mereka tau kalau aku adalah istri mu. Walaupun hanyalah istri di atas kertas, mereka pasti akan mengira kalau aku adalah kelemahan mu." tegas Zila. Ia ingin memberi motivasi pada pria ini agar bisa lebih licik dari mereka.


" Itu tidak akan pernah terjadi." jelas Rafa.


" Ayolah. Segala kemungkinan bisa terjadi bukan ? aku tak apa jika aku jadi korban perseteruan kalian. Tapi yang aku khawatirkan adalah ketiga anakku. Mereka masih kecil dan butuh bimbingan ku untuk menjalani setiap masalah yang mungkin akan mereka terjadi suatu saat nanti. Aku masih ingin bisa menuntun mereka kejalan yang benar." seru Zila menggebu.


" Kau tenang saja. Selama aku masih hidup, kalian akan baik-baik saja." ucap Rafa meyakinkan.


" Terserah padamu dasar Tuan Keras Kepala." ucap Zila pasrah.


" Ingat ya. Cepat kau temukan gadis yang selama ini kau cari atau aku akan jujur pada ibumu tentang pernikahan konyol kita." ancam Zila.


" Hei, kau jangan macam-macam." gertak Rafa, entah mengapa ia selalu kalah sama wanita culun ini.


" Lalu aku harus bagaimana? aku tidak mau di posisi dalam bahaya. Aku ingin selalu sehat dan bisa menjamin masa depan ketiga anak ku." Zila tidak mau kalah.


" Ck baiklah. Baiklah. Aku akan mengasah kemampuan bela diri ku. Kau puas?" Ucap Rafa dengan tajam.


" Benar kah Tuan ? tuan tidak bercanda, kan ?" tanya Zila.


" Ck menyebalkan. Iyaa... Keluar dari ruangan ku sekarang juga." Usir Rafa.


" Baiklah Tuan." Zila pun bergegas meninggalkan perusahaan itu karna ini sudah waktunya untuk menjemput ketiga anaknya.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


" Kamu pasti yang mengambilnya, dasar pencuri. Kamu pasti tidak bisa membeli nya makannya kamu mengambil pulpen antik kesayanganku." tuduh Fani pada Leona.


" Fani, mommy ku tidak semiskin itu. Aku tidak pernah mengambil pulpen mu. Itu berada di atas meja ku dengan sendirinya. Aku juga tidak tau mengapa ada disana." bantah Leona karna memang ia tidak mengambilnya sama sekali.


" Sudah ku bilang aku tidak tau." Leona hampir menangis karena dimarahi seperti itu.


" Akan ku adukan kau dengan mama ku." ancam Fani.


" Tidak. Jangan aku tidak pernah melakukannya." Kini Leona benar benar menangis karna pasti ibunya akan di panggil.


Ia menangis bukan karna takut, tapi ia menangisi ibunya yang pasti akan malu kalau sampai dipanggil ke sekolah walau Leona tidak sepenuhnya salah.


" Ada apa ini ?" seru Leo setelah sampai kelasnya. Ia kaget melihat adiknya menangis.


" Kakak." Leona langsung berhamburan memeluk Leo setelah kedatangan nya.


" Leo, aku....." Fani ketakutan dan tidak berani melanjutkan perkataannya setelah melihat manik mata Leo yang tajam melotot padanya seakan mau mengulitinya hidup-hidup.


" Apa yang terjadi ?" tanya Leo masih dengan wajah garangnya.


" Leo, aku kira Leona telah mencuri pulpen antik milikku karna entah kenapa pulpen itu bisa berada di atas mejanya." Fani membela diri.


" Ck. Leona bisa membeli apa saja dengan uang mommy-ku. Mommy punya uang banyak asal kau tau." geram Leo masih mengelus kepala Leona yang masih menangis.


" Karna kamu sudah membuat adikku menangis, jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang. Camkan itu." ancam Leo yang kemudian melangkah pergi meninggalkan kelas sambil membawa tasnya juga milik Leona.


Leo kemudian membawa Leona ke kamar mandi untuk cuci muka agar ibu mereka tidak khawatir.


" Kamu harus bisa melawan mereka, Leona." ucap Leo yang masih saja marah.


" Maaf kak." ucap Leona.


" Ck. Sudahlah. Masalah ini jangan sampai ke telinga Mommy, nanti mommy jadi tambah sedih." ucap Leo.


Leona hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Leo menemui Leon, menuju tempat biasa ibunya menjemput mereka.


-to be continued-