Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
24. Wajah Yang Mirip



Zila telah sampai di halaman sekolah dan menjemput Triplets. Mereka memasang wajah biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa, tak mau membuat ibunya khawatir.


" Oh, anak-anak Mommy. Ayo sayang kita semua masuk." Zila menggiring mereka semua masuk mobil.


" Siang ini Mommy tidak masak sayang. Kalian mau makan siang dimana, sekalian kita nanti langsung pulang." kata Zila lembut pada mereka.


" Emm Mom, aku mau makan di Cafe saja mom. Kangen sama mbak mbak disana." ucap Leona yang kelihatannya sudah melupakan masalah tadi dan Leo menghela nafas lega melihatnya.


" Kangen ngerjain ?" canda Zila tapi memang itu kenyataan nya kalau mereka berkunjung ke Cafe.


Leona yang mendengarnya cuma cengengesan, karna ia memang paling jahil kalau sudah disana.


" Oke tidak masalah. Bagaimana dengan kalian berdua." tanya Zila pada kedua putranya.


" Mommy kayak tidak tau saja. Leona ratunya dan kami bodyguard nya. Tentu saja kami tidak bisa menolak." canda Leo dan Zila tertawa setelah itu.


Sedangkan Leon hanya diam saja sambil memperhatikan Leona yang kelihatan gusar. Apa terjadi sesuatu?


๐ŸŒท L's Cafe ๐ŸŒท


Pasukan Zila disambut dengan baik oleh para karyawan disana. Sendari kecil mereka sudah gemas dengan para anak Zila.


Kedatangan mereka selalu dinanti oleh para karyawan, terutama para karyawan jomblo yang mengidolakan Leon. Sosok pendiam misterius tapi penuh kasih sayang.


" Kalian mau makan apa?" tanya Zila setelah mereka duduk di bangku paling ujung, tempat favorit mereka karena tidak terlalu terlihat banyak orang. Ditambah pemandangan dari tempat itu terlihat paling keren.


" Mom, tidak ada menu baru ?" tanya Leo.


" Ada sayang tapi Minggu depan baru dipromosikan. Koki yang bisa memasak menu baru libur soalnya. Gimana mau yang lain ?" tanya Zila.


Kemudian Leona menyebut beberapa makanan kesukaan nya.


Leo yang kehilangan selera makan juga menyebutkan sama dengan pilihan Leona.


Sedangkan Leon memilih sendiri apa yang disukainya.


" Selamat menikmati ya mbak." ucap salah satu karyawan yang kebetulan mendapat kesempatan melayani mereka.


" Iya. Makasih loh ya." ucap Zila.


" Oh ya, Tuan Muda Leon mau saya suapi." pinta karyawan itu penuh harap.


" Aku bukan bayi." jawab Leon dengan cueknya dan kemudian memakan makanannya dengan lahap.


Yang lainnya hanya cekikikan melihat reaksi Leon yang tampak kesal, Leon sendiri bingung kenapa banyak sekali yang suka menggodanya. Padahal ia orang yang cuek pada sekitar.


Zila dan para kurcacinya makan dengan lahap. Setelah selesai mereka pun bergegas menuju mobil.


" Mommy, mommy duluan saja ya. Leo pengen ke kamar mandi." Leo meminta izin.


" Biar Mommy temani, ya."


" Ck. Aku bukan anak kecil lagi Mom." Leo berusaha menolak karna ia bisa malu.


" Biar aku temani." tawar Leon.


Dan Zila mengangguk, akhirnya Leo diantar kekamar mandi oleh Leon.


" Aku tunggu disini saja." kata Leon setelah sampai di depan kamar mandi pria.


" Oke." Leo segera masuk dan menyelesaikan hajatnya.


Tanpa Leon sadari ada seorang wanita paruh baya yang lewat didepan nya karena mau kekamar mandi wanita.


Wanita itu hanya melihatnya sekilas tanpa curiga.


Leo pun sudah selesai dan mereka berniat kembali ke mobil.


Wanita paruh baya itu menyadari sesuatu kemudian kembali melihat kearah anak kecil yang dilihatnya tadi.


Sudah Tidak Ada!


Kenapa ia merasa familiar sekali dengan wajah itu.


-to be continued-