Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
31. Berita Kematian



Di dalam sebuah kamar VVIP rumah sakit milik keluarga Sarfaraz terdapat seorang wanita sedang menangis sambil menggenggam tangan seorang pria yang terbaring lemah tidak berdaya.


Wanita itu adalah Zila. Saat dirinya sedang terlelap, ia terganggu dengan suara dering ponselnya yang tidak mau berhenti.


Dengan mata yang masih terpejam Zila mengangkat panggilan itu. Kedua matanya langsung terbuka lebar mendengar kalau suaminya kecelakaan.


Zila bahkan tidak menyadari kalau sepeda milik Leon tidak terparkir di dekat mobilnya.


Dengan perasaan campur aduk Zila menuju rumah sakit dan disinilah Zila sekarang. Menangis sendirian menemani Rafa.


Ia mengingat perkataan dokter beberapa jam yang lalu.


" K**ondisinya cukup parah. Untung saja darahnya terkuras tidak terlalu banyak karna sudah di tutup kain. Kita tunggu beberapa jam lagi, kalau belum sadar berarti pasien mengalami koma."


Zila masih menangis sampai ketiduran.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Zila menerjabkan mata nya saat merasa terganggu dengan goyangan yang seakan membangunkannya dari tidurnya.


Tubuhnya terasa remuk semua karna tidur di posisi yang salah.


" Kau sudah bangun, nak." terdengar suara wanita di belakang Zila dan itu adalah ibu mertuanya.


" Mama. Maaf tidak memberi tau mama." sesal Zila, tangan Zila kemudian meraih tangan ibu mertuanya, berniat menyalaminya.


" Pulanglah sebentar dan Rafa biar mama yang jaga." pinta Susi.


" Tidak apa ma. Zila baik-baik saja." kata Zila namun Zila mendadak gelisah mengingat ia punya tiga anak yang ia tinggal sendirian di rumah.


" Pulanglah sebentar. Dan nanti kembali lagi kesini. Rafa biar mama yang jaga." pinta Susi kasihan melihat Zila yang masih memakai piyama tidurnya.


" Sekarang jam berapa, ma." tanya Zila.


" Masih subuh." jawab Susi.


Pagi itu Zila melakoni aktivitas di pagi hari seperti biasanya.


Leon sebenarnya sudah tau apa saja yang terjadi tapi ia memilih untuk diam. Leon bahkan sengaja menyebarkan kabar kematian Rafa, agar orang yang selama ini berusaha melenyapkan Rafa tidak mencari keberadaan nya.


Rumah sakit yang menangani Rafa juga di jaga khusus oleh Leon. Ya, tanpa sepengetahuan ibunya, Leon punya anak buah yang hanya beranggotakan sepuluh orang.


*Kenapa Leon sampai punya anak buah ? Tunggu saja nanti di kisah Leon yang ada kisah nya sendiri. Masih Segera ya !*


Setelah mengantar anaknya ke sekolah, Zila langsung meluncur ke perusahaan atas suruhan dari ibu mertua nya.


Susi mendapat laporan kalau saat ini di perusahaan mengalami kekacauan. Jadi ia meminta menantunya untuk membantu mengatasi masalah yang terjadi di perusahaan karna ia juga tau kalau Zila bisa menjalankan bisnis.


Zila belum mengetahui berita kematian suaminya karena disibukkan dengan pekerjaannya.


Sementara disekolah Leon juga membantu ibunya melalui laptop yang dibawanya.


Leon melaporkan penggelapan dana ke kepolisian dan memastikan semua bukti memberatkan tersangka.


Hari itu juga pria bernama Petra itu ditangkap polisi dan dipenjara agak lama karna ternyata pria itu juga mengkonsumsi narkoba.


Leon sangat puas dengan hasil kerjanya dan kembali ke kelasnya karna bel masuk sudah berkumandang.


" T**uan, seperti nya rencana kita akan berjalan sedikit lambat karna masih ada nona kaca mata yang menangani perusahaan." lapor penyusup yang selama ini memantau perkembangan bisnis Rafa dengan mudah.


"T**idak apa. Kamu lakukan saja. Wanita itu tidak akan mengganggu jalannya rencana kita." kata orang di seberang telvon.


"B**aik Tuan."


Penyusup itu melakukan aktivitas seperti biasanya dan membantu Zila dengan lambat agar perusahaan cepat kolaps.


-to be continued-