
Lula, setelah dioperasi, wajahnya semakin tambah cantik. Dan kini ia datang bersama tunangannya, Kenan.
Zila diam saja melihat kedatangan mereka, karna Zila sudah tau apa yang akan terjadi.
" Senang bertemu kau kembali, Zila. Kali ini aku akan menghancurkan mental mu." gertak Lula.
Zila hanya tersenyum remeh kepadanya.
" Aku baik-baik saja. Ingat perkataan ku hari ini. Kau, dan para orang dibelakang mu akan dimusnahkan oleh suamiku." Kata Zila dengan tenang.
" hahahaha.... Rafa bukanlah lawan kita." Ucap Lula sambil terbahak.
Zila melihat mereka dengan tatapan misterius. Masih ada trik licik yang sudah Zila susun rapi agar bisa melarikan diri dari sana.
" Terserah padamu. Memang aku yang akan menghabisi kalian berdua, tapi aku pastikan orang dibelakang kalian akan mati. Entah mati ditangan suamiku, atau anakku. Yang pasti itu akan terjadi." Zila berkata jujur.
Memang itu yang ada di dalam mimpinya. Dan mimpinya tidak pernah salah. Oleh karena itu, Zila tidak takut sama sekali.
Lula marah setelah mendengar kata Zila.
" Brengsek!" Lula berkata sambil menampar pipi Zila.
Zila meringis merasakan perih yang ada diujung bibirnya. Sepertinya berdarah.
Pipi Zila juga berwarna merah, terdapat cap tangan Lula.
" Hahahaha...." Kini Zila yang tertawa.
Zila menertawakan dirinya yang kualahan menerima kelebihannya, melihat masa depan.
Zila kadang dianggap orang gila saat mendapat firasat buruk, apalagi tentang kematian. Dia dilanda cemas karena sudah mengetahui apa yang akan terjadi pada seseorang. Tapi dia tidak bisa merubah takdir orang itu.
" Kurang ajar. Kau masih bisa tertawa ?" Lula murka dan menendang perut Zila dengan keras.
Zila muntah darah. Tangannya memegang perutnya yang seakan diaduk-aduk.
Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas dikepalanya.
Bayangan anak kecil perempuan sedang tersenyum kearahnya dan meninggalkan dia sendiri.
Zila tidak tau siapa anak itu. Tapi entah mengapa ia tidak mau ditinggalkan.
" Tidak... Jangan... Jangan tinggalkan mommy... Kembalilah, nak... Kembalilah." Zila meraung kemudian pingsan di tempat.
" Sudahlah... Hentikan.."
Lula kesal melihat tunangannya itu menghentikan aksinya.
Kenan lalu mendekati Zila dan memastikan apa yang terjadi padanya.
" Apa dia sedang hamil ?" Tanya Kenan saat melihat darah meluncur dari paha Zila yang sudah tergeletak tidak berdaya itu.
Lula pun mendekatinya dan memastikan juga. Mendadak ia khawatir, bagaimana kalau pria bertopeng tau, wanita ini tidak boleh mati dulu sebelum dijadikan pelacur.
Mereka berinisiatif membawa Zila kerumah sakit tapi dengan identitas palsu.
Karna bisa saja Rafa melacak keberadaan mereka, mengingat Rafa seorang hacker yang hebat walau sudah diungguli oleh Leon sekarang.
.
.
.
.
Tempat itu semua berwarna putih. Seorang wanita cantik sedang berbaring tidak sadarkan diri diranjang rumah sakit.
Tak lama kemudian, jari tangan wanita itu bergerak pelan.
Perlahan matanya juga terbuka. Zila menerjabkan matanya mencoba menyesuaikan silau yang ada di sekitarnya.
Setelah sadar sepenuhnya, Zila menangis. Tetes demi tetes air matanya membasahi bantal.
Zila ingat... Di mimpinya ia telah ditinggal oleh calon buah hatinya.
Ya, Zila sedang mengandung. Karna tendangan pas diperutnya ia menjadi keguguran.
Lula dan Kenan masih berdiri di depan kamar rawat Zila.
Mereka berdebat, memikirkan bagaimana cara menunda rencana pria bertopeng. Agar pria itu tidak curiga kalau mereka sudah menganiaya sanderanya.
-to be continued-