Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
47. Kejutan 2



" Sudah sampai nyonya." kata pak supir.


" Makasih ya pak." ucap Zila langsung keluar.


Namun Zila berhenti melangkah ketika sadar kalau ia sedang tidak ada di rumahnya. Yang ia lihat adalah sebuah mansion yang sangat besar juga mewah dengan banyak sekali penjaga.


" Selamat datang nyonya." para pria itu membungkuk kepada nya.


" Hei, aku bukan nyonya kalian." ucap Zila.


Salah satu mereka maju ke depan dan memberi sebuah surat untuk Zila.


Zila semakin bingung dan membuka surat itu dan membacanya.


" *S*elamat malam, bidadari ku. Melangkah lah lurus ke depan dan ambillah seikat mawar merah disana." isi surat itu.


Karna penasaran Zila mengikuti perintahnya. Ia mengambil bunga mawar itu dan menciumnya, dalam hati ia berdecak kagum.


" Romantis sekali." pikirnya.


" Apa ini?" gumamnya saat melihat surat lagi.


" *K*au ikutilah jalan didepan mu dan buka pintunya. Kau akan menemukan kebahagiaan mu didalam sana." isi surat itu.


Zila melangkah kan kaki mengikuti jalan kecil yang membawanya kesebuah halaman yang luas.


" Wow." ia berdecak kagum dengan interior yang memanjakan mata nya.


" Mereka tidak salah mengenali ku sebagai majikannya, kan? setau ku Rafa hanyalah pengusaha biasa. Mana mungkin ini dari Rafa." pikir Zila.


Namun ia kembali berbinar melihat sebuah pintu menjulang tinggi yang katanya dengan membukanya ia akan mendapatkan kebahagiaannya.


Saat sampai di depan pintu, pintu itu terbuka dengan sendirinya.


Namun apa yang Zila lihat ? hanya gelap yang ada di dalam sana.


Zila pun memasuki rumah itu dan mencari saklar lampu. Dan...


Klik


Saat lampu menyala, mata Zila berkaca - kaca melihat apa yang dilihatnya.


" Mommy." si kembar menyambut ibu mereka dengan antusias.


Zila memeluk mereka erat seakan sudah berpisah bertahun-tahun padahal baru dari tadi pagi.


Zila menangis melihat mereka. Ia rindu. Ia merindukan orang tuanya. Selama merantau ia selalu menangis di malam hari karna merindukan pelukan kedua orang tuanya.


" Ayah.. ibu..." ucap Zila dengan suara bergetar.


" Kenapa ? kau ini anak perempuan ayah, Zila. Seharusnya kalau kamu tidak mau, kan bisa di bicarakan dengan baik-baik sama ayah. Bukan main kabur." kata ayahnya merasa kecewa.


Ia telah melewatkan banyak hal dari pernikahan putrinya juga perkembangan para cucunya yang lucu.


" Ayah.. maafkan Zila."


Ia menyesal. Andai saja ia menerima perjodohan orang tuanya, mau ada masalah apapun nanti dengan suaminya setidaknya ada orang yang bisa ia jadikan sandaran, ayahnya.


" Maafin Zila.." Zila menangis lebih kencang lagi.


Kenapa orang tua Zila ada di sini ? semua itu karna Rafa. Rafa menjemput mereka dan mengatakan semua yang terjadi pada mereka. Tidak ada satupun kebohongan yang disembunyikan Rafa dari orang tua Zila.


Walau Rafa harus mendapatkan bogem dari ayah mertuanya, tapi Rafa ikhlas mendapatkannya.


" Setidaknya kamu pulang di saat terpuruk mu. Kami memang kecewa dengan kelakuan mi tapi orang tua mana yang tega menelantarkan anaknya seorang diri." tutur sang ayah.


Zila menangis mendengarnya. Ia malu sama keduanya.


" Lihatlah ibumu." kata ayah sambil memperlihatkan ibu yang masih menangis di pelukan besannya, Susi.


" Kau memang sering dimarahi olehnya ketika bertemu. Tapi percayalah, tiada satu malam pun ia lewati untuk menangis. Ayah sampai hampir frustasi melihat ibu mu menangis terus. Bahkan ayah sudah menggodanya untuk memberi mu adik lagi tapi ibumu tetap saja menangis." canda ayahnya.


Namun setetes air bening meluncur dipipinya. Pria paruh baya itu segera menghapus air mata itu karna ia malu menangis sebagai pria.


" Maafkan Zila.."


-to be continued-


Aku juga pernah merantau, rasanya kalau rindu banget sama bapak atau ibu. Sukanya aku sering nangis semalaman.


Apalagi kalau lagi rame terus pekerjaan jadi banyak.


Lagi capek banget rasanya pengen pulang ketemu ibu biar rasa capeknya hilang.


Tapi kalau sudah di rumah ketemu ibu pengennya debat mulu😂


Ada yang kayak aku gak ?


*curhat🙏