
" Suamiku, kita sudah memiliki tiga anak." cicit Zila pelan.
"dia jujur padaku ?" Batin Rafa.
" Benarkah pasti mereka cantik dan tampan." ucap Rafa.
" Tentu saja. Mereka berasal dari bibit yang unggul." kata Zila sedikit tertawa.
Rafa juga ikut tertawa sambil menciumi tangan kanan Zila.
" Besok bawa mereka kemari, ya." pinta Rafa yang tidak mampu ditolak sama Zila.
" Ya."
" Akhhh.." Rafa memegangi kepalannya pura-pura kesakitan.
Zila yang tanggap langsung mengelusnya. Rafa kemudian bersandar dibau Zila yang kurus.
" Apa sudah lebih baik?" tanya Zila.
" Hmm..."
" Suamiku, selama ini kita terpisahkan oleh takdir. Jadi besok adalah pertemuan pertama mu dengan ketiga putra putri mu." jujur Zila, sama sekali tidak ada kebohongan.
" Hei, maksudnya." Rafa pura-pura tidak mengerti.
" Kau ingat-ingat saja sendiri. Aku malas menceritakan." Zila terdiam menatap lekat manik mata Rafa.
Salah satu tangannya mengelus pipi Rafa dengan lembut.
" Saat ingatan mu kembali, tolong pertimbangkan aku, ya." pinta Zila dengan raut yang sedih.
Rafa seketika langsung menciumi seluruh wajah Zila saking senangnya mendengar kata itu. Apa Zila mulai tidak mau kehilangannya ? begitu pikir Rafa.
Malam itu mereka habiskan layaknya suami istri sungguhan. Saling berbagi kasih dan kehangatan.
๐ท๐ท๐ท๐ท
Hari Minggu yang ceria, waktu nya bergembira.
Zila sekarang sedang berada ditengah ketiga anaknya.
" Mommy, kami sudah berkumpul disini. Kenapa mommy masih diam saja." tanya Leona yang mulai bosan.
Mereka berkumpul atas perintah Zila tapi tidak ada pengumuman apapun yang ibu mereka bicarakan.
" Ekm, begini sayang. Maafkan mommy, mommy belakang ini sering meninggalkan kalian." ucap Zila.
" Kami tidak apa mom. Ada mbak Mely sama mbak Yana yang menemani kami." kata Leon menenangkan hati ibunya.
Ia tau ibunya ini baperan orang nya.
" Apa ? mommy sudah bertemu daddy ? mana daddy, mom." mereka bersemangat mendengar kabar itu.
Anak mana yang tidak rindu orang tuanya ? apalagi sejak kecil mereka tidak mendapat kasih sayang dari daddy.
Berbeda dengan Leo dan Leona, Leon justru bingung.
"*A*pa yang terjadi? kenapa mommy menerima orang itu dengan mudah ?"
" Sayang, daddy kalian sedang sakit dan mengalami amnesia jadi nanti kalian jangan kecewa ya sama daddy." pinta Zila.
" Tenang saja mom. Aku akan merawat daddy sampai sembuh. Aku akan membantu membuat ramuan untuk mempercepat kesembuhan nya." ucap Leona menggebu.
Zila mengelus tangan Leona berharap anaknya ini tenang.
" Sayang." panggil nya lembut.
" Ya Mom." ucap Leo dan Leona.
Setelah memberi pengertian, mereka langsung bersiap untuk menemui ayah mereka.
Biasanya hari Minggu mereka habiskan untuk jalan-jalan. Tapi sepertinya hari ini harus mereka jalani di rumah sakit.
Namun mereka tidak menyesali ini, tapi justru bahagia karna bisa bertemu dengan ayah mereka.
" Daddy." teriak Leo dan Leona bersamaan saat bertemu dengan Rafa.
Air mata Rafa hampir terjatuh melihat mereka. Ya Tuhan, kejadian itu ternyata bisa membuat mereka hadir.
Tokcer juga kecambahnya Rafa yang langsung jadi Tiga sekaligus.
" Anak daddy." pekik Rafa tercekat.
Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia melewatkan masa kecil mereka dari saat bayi.
" Kemari nak." pinta Rafa.
Mereka melihat kearah ibu mereka berniat meminta izin. Zila pun mengangguk tiada alasan ia melarang mereka.
Mereka pun saling memeluk erat seakan tak mau di pisahkan lagi.
.
.
.
.
-to be continued-