
Pagi itu tidak seperti biasanya, entah mengapa Zila merasa bahwa ada yang aneh dengan suaminya.
" Aku sudah menyiapkan baju mu, aku tinggal kebawah sebentar, ya. Mau manggil anak - anak untuk bersiap sarapan bersama." ucap Zila.
" Hmmm.." gumam Rafa dingin, ia malas meladeni Zila.
Zila pun menuju kamar para anaknya yang berada di lantai bawah.
Di perjalanan ia melamun kan sesuatu, apa yang terjadi dengan suaminya ? selama ini hubungan mereka baik-baik saja bahkan lebih dekat dari sebelumnya.
Tapi kenapa suaminya itu terlihat begitu berbeda hari ini ?
Setelah memastikan para anaknya selesai bersiap, Zila kembali lagi ke kamarnya.
" Iya sayang aku akan datang."
Zila berhenti di depan pintu ketika mendengar suara suaminya dari dalam kamar.
" Kau tunggulah sebentar lagi."
"....."
" Hey bagaimana bisa ? Zila sudah menyiapkan sarapan untuk ku."
"....."
" Apa ? jangan nekat nanti Zila bisa mengetahui semua tentang kita." geram Rafa sedikit marah.
"...."
" Aku tahu. Tapi siapa tahu kalau aku sudah punya anak sama dia. Aku tidak bisa meninggalkan nya begitu saja!"
"...."
" Oke kau boleh kemari tapi jangan bilang pada Zila kalau kita punya hubungan. Jangan sampai dia mencurigai mu." ucap Rafa.
"...."
Zila sudah tidak mendengar apapun lagi setelah itu. Ia masih mematung didepan kamar.
Ternyata ini adalah jawaban dari kecurigaannya tentang suaminya.
Apakah wanita itu adalah wanita yang selama ini di carinya.
ceklek
Rafa sangat kaget melihat sosok istrinya di depan pintu.
" Ekm.. sejak kapan kau di sana ?" tanya Rafa dengan gugup.
" Baru saja." ucap Zila dengan senyum yang dipaksakan.
" Oh ya, ayo kita sarapan bersama." kata Zila lagi.
" Em.. ya." ucap Rafa kemudian mengikuti langkah Zila.
Tok... Tok... Tok....
" Ada tamu, ya." kata Leona di sela makannya.
" Biar Mommy yang buka." ucap Zila. Entah mengapa firasat nya merasa tidak enak.
Zila pun membukakan pintu.
" Halo."
Seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya.
" Ya, siapa ?" tanya Zila was-was. Apa yang berbicara dengan suaminya tadi pagi adalah wanita ini.
" Perkenalkan, namaku Krystal." ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
" Zila." kata Zila tanpa menyambut uluran tangannya.
" Kau ini sombong sekali rupanya. Aku tidak percaya dengan orang yang berkata kau adalah orang yang penuh sopan santun dan hangat." kesal Krystal.
" Ck siapa juga yang berkata seperti itu." ucap Zila tidak kalah kesal.
" Tentu saja orang yang sangat berharga buat aku. Oh ya, boleh aku masuk." Krystal meminta izin.
" Rumah ku bukan penampungan." sarkas Zila.
" Kau ini kasar sekali. Aku hanya ingin menemui saudara ku, Rafa."
" Rafa tidak punya saudara. Dia anak tunggal jadi jangan membohongi ku. Sana pergi." usir Zila. Ia tidak mau ada yang mengganggu ketenangan keluarganya apalagi di meja makan.
" Kau ini pelit sekali. Ayolah panggilkan Rafa dulu. Aku ada urusan penting dengannya." Wanita itu mengiba.
" Tidak bisa." Zila kekeuh tak ingin perempuan ini menemui Rafa.
" Rafa !!!!" Teriak Krystal dengan kencang.
" Rafa !" Teriak nya lagi.
Rafa dan Triplets pun melihat kearah suara dan menghampiri Zila.
" Kau ?" Rafa tidak percaya orang ini benar benar mendatangi nya.
" Bagaimana bisa kau sampai sini ?" tanya Rafa heran.
" Kau akhirnya datang juga." kata Krystal.
" Aku sibuk, harus ke perusahaan." Rafa berkata lembut pada Krystal.
Zila jengah melihat mereka berdua, jadi Zila pun meninggalkan mereka.
-to be continued-