
Leon saat ini sedang berada didalam pesawat pribadi milik pria itu. Leon sendiri tidak tau dia akan dibawa kemana.
" Kau pasti pria yang sangat jelek." Celutuk Leon yang mampu membuat pria itu tersedak air liurnya sendiri.
" Beraninya kau." Geram pria itu.
" Aku menuduh mu seperti itu bukan tanpa alasan. Kau menutupi wajahmu. Pasti karna wajahmu buruk rupa bukan." sarkas Leon. Dia sengaja melakukannya agar pria ini terpancing untuk membuka wajahnya.
" Kau. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku. Nyawamu ada padaku, jadi bersikap baiklah kepadaku." Kata pria itu. Pria itu geram.
" Aku tidak akan berbaik hati padamu. Aku memang akan mengikuti perintah mu selama kau tidak melanggar kesepakatan." Kata Leon.
" Tentu saja." Kata pria itu dengan senyum smirknya.
๐๐๐๐
Sedangkan Leona dibawa ketempat eksekusi seorang wanita. Wanita itu adalah simpanan Kenan. Lula, sang tunangan yang mengetahuinya pun memberinya pelajaran.
Lula mengambil sebuah belati kecil tapi tajam itu untuk memotong daging wanita yang berani merayu tunangannya.
Leona yang disana menangis meraung, takut pada belati yang dibawa Lula.
Lula pertama kali memotong tangan kanan wanita itu. Kemudian dilanjutkan memotong tangan kirinya.
Wanita itu histeris, menangis meminta ampun. Seharusnya wanita itu tidak melakukannya.
" Kau. Wanita j***. Kau gunakan tubuh mu untuk merayu tunangan ku." kata Lula galak. Ia benci dengan perempuan ini.
" Kau juga bukan. Kau juga merayunya. Jangan munafik! Kau hanya menginginkan uangnya." Wanita itu histeris.
Lula yang mendengarnya langsung murka.
" Beraninya kau!"
Dengan amarah yang memuncak Lula mencoret wajah wanita itu dengan kejam. Lula menggambar abstrak sampai wajah wanita itu sudah tidak berbentuk lagi.
" Aaahhhh..." Leona berteriak histeris melihat kegilaan Lula.
" Mommy.. Mommy.... Daddy...." Leona meneriakkan apa saja yang ada dipikirannya
Leona sudah hampir gila melihat adegan dihadapannya.
Mental seorang anak kecil seperti dirinya sedang diuji. Semoga saja Leona tidak sakit jiwa setelah ini.
" Hahahaha...." Lula tertawa bahagia melihat betapa tersiksanya wajah wanita itu.
Tidak mau berhenti sampai disitu. Lula kemudian memotong kedua kaki wanita itu sampai wanita itu pingsan.
Lula menyuruh anak buahnya untuk menyiram air garam biar sadar.
" Ampun.. Ampun.." wanita itu berkata dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.
" Tidak ada ampun bagimu wanita sialan." Kata Lula.
Lula kemudian mencincang kecil tubuh yang tersisa sampai wanita itu meninggal.
Lula sudah seperti psikopat sekarang. Lula seperti wanita gila dalam membunuh saingan cintanya.
Leona sudah tidak histeris lagi. Tapi diam. Entah apa yang terjadi padanya. Satu hal yang pasti. Jiwanya sedang tidak baik-baik saja.
Lula mengumpulkan daging tercecer akibat perbuatannya dan membawa Leona menaiki kapal.
Leona tidak memberontak lagi, Leona hanya patuh. Seakan raganya saja yang merespon.
Kapal berlayar menyelusuri laut. Dinginnya malam menerobos tubuh Leona namun anak kecil itu tidak memperdulikannya sama sekali.
Ada apa dengan Leona ?
Setelah kapal sampai ditengah laut, Lula menghentikan kapal itu.
Siapa yang menjadi nahkoda kapal itu ? Tentu saja Lula sendiri. Ia mau melenyapkan musuhnya sendiri tanpa ada yang tau.
" Anak kecil, kau tau apa yang harus kau lakukan, bukan ?" Tanya Lula pada Leona.
Leona hanya diam tidak menjawab karna jujur saja dia tidak tau.
" Ck.. Hanya melihat seperti itu saja sudah membuatmu menjadi orang yang dungu!" Lula kesal dibuatnya.
" Ambil ember berisi daging itu dan buang ke laut. Biar dimakan sama hiu."
Leona yang mendengar suara yang begitu keras kaget.
Karna takut ia yang dijadikan korban selanjutnya, Leona bergegas melakukan tugas yang diberikan padanya.
Leona gemetar membawa ember itu. Setiap kejadian yang baru saja dilihatnya berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
" Cepat." gertak Lula.
Leona menangis. Dengan mata terpejam Leona melempar daging itu beserta embernya.
" Ahhhhhhh!" Leona berteriak seperti orang gila setelahnya.
Dan Lula menjadi terhibur melihat kekejamannya yang mampu menghancurkan mental seseorang.
-to be continued-