Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
53. Pencarian



Rafa maupun Leon tidak putus asa, walaupun mereka belum mendapatkan petunjuk tapi mereka tidak akan pernah menyerah.


" Kau punya musuh dad ?" tanya Leon masih santai walaupun dalam hati ia sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya.


" Banyak boy." ucap Rafa.


" Ck kau ini. Kau tidak sedang menjalankan bisnis ilegal bukan." tanya Leon penuh selidik.


" Kau bisa tau boy kalau aku melakukan bisnis curang. Ingat ini, kau itu masih kecil jadi bersikaplah seperti anak kecil." kata Rafa.


" Aku anak laki-laki paling tua sebelum bertemu daddy. Entah kenapa aku selalu merasa bahwa mereka adalah tanggung jawab ku termasuk mommy." ucap Leon, matanya berkaca.


Ia ingin masa kecil seperti anak yang lain tapi sepertinya ia tidak bisa.


Rafa mengelus rambut hitam anaknya yang terlihat kuat tapi memiliki sorot mata yang rapuh.


" Kau hebat boy. Bahkan daddy kesulitan mencari keberadaannya karna kelakuan mu. Kalau saja kau tidak mendatangi Roy mungkin daddy akan lama menemukan kalian." ucap Rafa.


" udahlah jangan banyak bicara. Kau mengganggu ku saja. Aku sedang fokus." protes Leon.


Leon melihat ada salah satu cctv yang terlihat mencurigakan.


" Dapat."


Rafa kaget mendengar ucapan Leon.


" Kau menemukannya boy?." tanya Rafa.


" Sepertinya ada yang menghapus sebagian cctv di dekat toilet wanita." kata Leon masih sibuk dengan laptopnya.


" Kau bisa memperbaikinya boy.?" tanya Rafa.


" Aku akan memulihkannya kembali." ucap Leon.


Rafa menepuk pundak Leon pelan berharap mendapatkan hasil.


" Kau belum menemukan orang yang mencelakai mu.?" tanya Leon di sela kegiatannya.


" Belum." sesal Rafa.


" Bukan kah kau sudah menangkap anak buahnya?." tanya Leon.


" Dia Licik dan kau bodoh." hina Leon.


" Aku jenius." Rafa tidak mau kalah.


" Tapi lambat. Aku sudah sebesar ini tapi kau belum menemukan orang yang menjebak mu juga mommy." hina Leon lagi.


" Aku ini daddy mu." Rafa tidak terima, anaknya ini bagaimana bisa ia tidak sopan sama sekali.


Mereka saling melempar tatapan sengit tidak ada yang mau mengalah.


Kemudian terdengar Roy yang sedang tergesa.


" Kau mau kemana ?" tanya Rafa melihat Roy yang berlarian keluar.


" Saya sudah menemukan dimana Nyonya." ucap Roy.


" Kenapa kau tidak memberi tau ku." kesal Rafa.


" Maaf tuan. Saya kira tuan masih ingin berdebat dengan Tuan kecil Leon." ucap Roy sengaja.


" Kau sudah Bosan hidup rupanya." kata Rafa tidak suka.


" Maaf tuan." ucap Roy tapi ia tidak menyesal mengatakannya.


Mereka pun bergegas menuju tempat yang ditemukan Roy.


" *M*ereka sudah sangat mirip dengan ayah dan anak yang kompak, padahal yang terjadi adalah pertengkaran terus menerus di antara mereka." batin Roy dalam hati saat melihat para tuannya berjalan di depan nya.


Mereka menempuh perjalanan yang sangat terjal juga hutan yang rimbun mengelilingi sepanjang jalan.


" Kau yakin ini jalannya?" tanya Rafa merasa agak kurang percaya kalau ada kehidupan ditengah hutan ini.


" Kau ini terlalu menikmati dunia bisnis mu tanpa tau apa saja yang musuh persiapkan untuk mu." sarkas Leon memulai perdebatan.


" kau ini suka sekali menghina ku." Rafa merasa jengkel dengan anaknya satu ini.


Sedangkan Roy sudah membawa headset bluetooth untuk menutupi telinganya yang sudah kelelahan mendengarkan ocehan tidak bermanfaat itu.


-to be continued-