
Zila kembali kamarnya dengan hati yang hancur. Apa wanita itu adalah orang yang selama ini Rafa cari ? wanita yang ia cintai?
Tak ada yang bisa Zila lakukan kecuali menangis dipojok kamar.
" Ayah.. ibu.. apakah ini semua adalah karma karna aku telah melarikan diri dari kalian ? hiks.. maafkan Zila.... Zila bersalah... Ya tuhan.. Rasanya sakit sekali. Disaat aku punya banyak masalah tidak ada bahu untuk bersandar... Ayah... maafkan Zila... Andai saja Zila tidak kabur dari rumah.. Pasti ayah akan menjadi orang pertama yang akan melindungi Zila... Ayah pasti akan murka kalau tau aku menangis... Ayahh...." Zila hanya bisa menangis meratapi keputusannya sendiri.
Tok.. Tok.. Tok..
Zila melarikan diri ke kamar mandi dan mencuci wajahnya.
ceklek
Zila kaget saat melihat Krystal di depan pintu.
" Mau apa?" sarkas Zila.
" Galak sekali sih kamu, tenang saja aku datang dengan niat yang baik." ucap Krystal dengan tenang.
" Ck. Kau fikir aku tidak tau kamu siapa. Kau, selingkuhan Rafa bukan?" tanya Zila.
" Ternyata kau sudah tau. Well. Jadi aku tidak akan menyembunyikannya lagi pada mu." kata Krystal sambil melipat tangannya di depan dada.
" Beraninya kau menginjakkan kaki kotor mu ke rumahku." geram Zila, ia tidak akan memberi ampun pada wanita ini.
" Hei kau wanita kesepian bukan ? ayolah, aku juga bosan karna di tinggalkan Rafa yang lagi sibuk." kata Krystal.
" Hei aku bukan wanita kesepian." ucap Zila tidak terima.
" Keras kepala sekali. ayo ikut aku." Krystal menyeret Zila.
Mereka pun sampai di sebuah mall terbesar di Jakarta.
Entah mengapa mereka terlihat begitu akrab saat memilih baju.
" Aku harus mencari dress indah warna biru laut." ucap Krystal sambil muter mencari apa yang ia butuhkan.
" Kau tidak perlu menyeret ku seperti ini kalau ingin berbelanja. Kenapa kau tidak pergi sendiri saja. Membuat ku pegel saja." gerutu Zila karena ia masih di tarik kesana kemari.
" Buat apa juga aku mencoba nya." Zila agak tidak suka dipaksa kayak gini.
" Kau ini bisa diam ngga sih ? mulut mu kenapa tidak di lem saja. Heran aku sama Rafa betah sekali tinggal sama kamu." kata Krystal.
" Tentu saja dia betah. Aku istrinya, dan aku selalu memberinya kenikmatan setiap malam. Mana bisa dia berpaling dengan pesona ku." dusta Zila.
Yang terjadi hanyalah kegiatan suami istri seperti biasanya tanpa ***. Paling intim hanya sebatas ciuman dan pelukan.
" Benarkah?" tanya Krystal tidak percaya dan kemudian tertawa.
" Mana mungkin ia doyan sama kamu. Lihatlah penampilan mu tidak menarik sama sekali dan lihat wajah culun mu. Pasti ia mual melihat mu." ucap Krystal dengan kasar.
" Terserah. Aku mau pulang saja."
" Eits tunggu, ini sudah siang bagaimana kalau kita makan dulu." tawar Krystal.
" Buat apa juga aku harus makan siang bareng kamu." ucap Zila sinis.
" Oh ya ?"
Krystal kemudian menunjukkan kunci mobil juga dompet beserta ponsel milik Zila yang entah bagaimana bisa dipegang sama Krystal.
" Kau ?" pekik Zila kesal.
" Ayo. Pokoknya seharian ini kamu milikku dan kita harus menghabiskan hari ini berdua."
Zila menghentakkan kedua kakinya kesal. Apa maunya wanita ini.
Setelah makan bersama mereka melanjutkan lagi mencari dress.
Zila hampir gila karna ia tidak bisa berbuat apapun apalagi pulang, karna wanita ini sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.
- to be continued-