Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
38. Pura Pura Lupa



Malam harinya setelah menyeka tubuh Rafa, Zila dikagetkan dengan pergerakan tangan Rafa.


Zila pun memanggil dokter, awalnya dokter heran saat melihat antusiasnya Zila mengetahui kesadaran Rafa.


Rafa menerjabkan matanya dan sang dokter yang disuruh Zila mengecek keadaan Rafa pun juga mengeceknya walau ia sudah tau kalau hasilnya bakal sama. Baik-baik Saja.


" Bagaimana keadaanya, dok." tanya Zila khawatir.


" Tenang saja Nyonya. Tuan Rafa baik-baik saja." kata dokter itu.


" Syukurlah." Ucap Zila lega.


" Kau... siapa ?" tanya Rafa, matanya melihat ke arah Zila.


" Aku.." lidah Zila kelu tak mampu melanjutkan perkataannya.


" Dokter, apa yang terjadi ?" tanya Zila takut. Kepala Rafa juga diperban soalnya.


Dokter itu juga kebingungan. Namun setelah mendapatkan kode dari Rafa, dokter itu berkata.


" Benturan di kepalanya sepertinya parah Nyonya. Tuan Rafa kelihatannya mengalami amnesia." dusta dokter itu.


" Bagaimana bisa dok." Zila tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


" Tentu saja bisa." kata dokter.


" Apa bisa disembuhkan, dok ?" tanya Zila.


Dokter itu terdiam sejenak, dan melihat ke arah Rafa yang memberi kode agar memberi tau kalau amnesianya sangat parah.


Dokter itu mendesah pasrah, kali ini sepertinya ia harus berbohong lagi.


" Nyonya, jangan paksakan Tuan Rafa mengingat apapun. Nanti keadaannya tambah parah." kata dokter itu lagi.


" Hei, kalian ini kenapa ?" tanya Rafa pura-pura kebingungan.


" Tuan. Nyonya ini adalah istri anda." dokter itu ingin sekali mengakhiri kebohongannya dan meninggalkan mereka.


" Benarkah, kau.. istri ku ?" tanya Rafa dengan ekspresi yang tidak terbaca.


" *C*k kenapa tidak sekalian acting jadi bintang film saja, pasti laku keras di pasaran." gerutu dokter itu mulai jengah dengan drama Tuan kaya itu.


" Kemarilah." Rafa memberi kode pada dokter itu agar segera pergi.


Zila pun mendekati Rafa dengan perlahan.Saat jarak Zila hampir dekat Rafa langsung memeluk tubuhnya.


" Em.. Tu.. Tuan." Zila merasa risih diperlakukan seperti itu.


Selama ini Rafa selalu bersikap dingin padanya, Zila juga bersikap seperti itu karna mengikuti Rafa. Zila tidak suka mengemis cinta.


" Hei bukankah aku suami mu ? lalu mengapa kau memanggil ku seperti majikanmu." kata Rafa tidak senang.


Zila terdiam. Apa yang harus ia lakukan dalam situasi ini.


" Su.. Suamiku." kata Zila pelan dengan wajah memerah karna malu.


Hati Rafa berdebar mendengarnya. Refleks ia menciumi seluruh wajah Zila yang berada di pelukannya.


Zila tertawa geli mendapatkan serangan dadakan itu. Selama ini Rafa sudah menempati hatinya, dan Zila benar benar tidak menyangka akan mendapatkan perhatian Rafa secepat ini.


Rafa masih memeluk Zila dengan sayang.


" Kau pasti kesulitan selama aku tidak sadarkan diri."


Mendengar itu air mata Zila mengalir sendiri. Entah mengapa mengingat Rafa terbaring tak berdaya membuat Zila kapok dan tidak ingin ditinggal lagi sama pria ini.


" Jangan tinggalkan aku." ucap Zila masih terisak.


Rafa mengelus kepala Zila dengan lembut.


" Tidak akan." ucap Rafa.


Amnesia yang di alaminya memang pura-pura tapi rasa sayang yang ia berikan untuk Zila saat ini adalah bentuk dari cintanya.


Setelah kejadian malam itu Rafa selalu kepikiran dengan sosok yang langsung menempati hatinya malam itu juga.


Apa karna efek dari mendapatkan seorang perawan ?


" Rafa sedang amnesia bukan ? kalau aku memberi taunya tentang ketiga anaknya apakah hal ini akan menjadi masalah di kemudian harinya ? tapi kalau aku tidak memberi taunya, bagaimana bisa aku membagi waktu antara dia juga anakku? dia pasti juga lupa dengan perjanjian waktu itu." pikir Zila berkecamuk.


-to be continued-