
Sesuai kesepakatan, Zila sekarang bekerja di perusahaan Rafa tapi hanya saat pagi sampai siang. Enak ya๐
Zila sebenarnya hanya membantu menyelesaikan berkas yang harus diteliti oleh Rafa dan itu sangat membantunya, Kerjaan Rafa jadi berkurang dan Rafa bisa pulang lebih awal.
Sebenarnya Zila memikirkan banyak hal setelah mendengar pembicaraan orang asing yang ia temui di Cafenya Kemaren.
Benar memang kalau Rafa cuma cerdas otaknya saja hingga bisnisnya bisa berjaya seperti sekarang.
Tapi tak semua orang dalam bisnis bersaing melalui jalur yang baik, ternyata ada juga sekelompok orang licik yang bisa saja menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai.
Sekarang Zila dilanda gundah memikirkan gimana cara melindungi Rafa.
Zila merasa itu adalah kewajibannya juga walau pada kenyataannya Rafa sudah memilih orang lain, tapi Zila tidak terima kalau nanti perusahaan yang seharusnya menjadi milik Rafa direbut oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Sekarang Zila sedang berada didepan pintu ruang kerja Rafa.
Zila mengumpulkan semua nafasnya dan menghembuskan secara perlahan.
" *S*emangat Zila, demi ayah dari anak-anak mu!" Zila menyemangati diri nya sendiri dalam hati.
tok.. tok... tok...
" Masuk." terdengar suara Rafa dari dalam.
Zila pun membuka pintu dan menghadap Rafa dengan gugup.
" Ada apa ?" tanya Rafa seperti biasa, dengan tatapan mengintimidasi.
" Ekm begini Tuan. Mari kita buat kesepakatan bersama." pinta Zila.
" Kesepakatan? buat apa?" tanya Rafa.
" Tuan bisa bela diri?" Zila balik nanya.
" Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya ingin belajar bela diri." seru Zila dengan lantang.
" Ha ha ha ha ha.. kau ingin bisa bela diri?" ucap Rafa tidak percaya.
" Ya, Tuan. Saya ingin bisa bela diri Tuan. Tapi saya maunya belajarnya sama tuan." ungkap Zila.
" Hei. Buat apa kamu ingin bisa bela diri? siapa yang mau culik bocah culun kayak kamu. ngga bakalan ada yang doyan." sarkas Rafa.
" Oh ya ampun, Tuan galak sekali ternyata." ucap Zila dengan memelas.
" Tuan, saya ini kan istrinya tuan. Tuan anggap saja ini adalah permintaan seorang istri pada suaminya." pinta Zila kini wajahnya sudah kayak pengemis.
" Ck menyebalkan. Bela diri ku tidak terlalu bagus. Kamu belajar sama yang lain saja." bentak Rafa merasa kesal karena Zila telah mengganggu waktu kerjanya.
" Tuan. Saya bukan mau minta anda mengajari saya. Tapi saya ingin kita sama sama belajar. Begini saja, kan saya sudah membantu sebagian pekerjaan Tuan. Jadi Tuan pasti waktu nya bisa terbagi antara belajar bela diri juga kerja. Gimana Tuan ?" Saran Zila.
Entah mau dirayu kayak apa yang penting ia bisa menaklukkan pria ini agar mau mengasah kemampuan bela dirinya. Leo juga anaknya, dan Leo bisa menjadi sekuat itu berantem sama preman juga para perampok.
Zila yakin bakat Leo itu turunan dari ayahnya, Rafa. karna Zila sama sekali tidak bisa bela diri.
" Ck aku tidak mau. Membuang waktu ku saja." kekeuh Rafa.
" Ekm.. Tuan. Tuan sedang mencari seseorang bukan ? gimana kalau saya bantu Tuan. Saya kenal seorang hacker handal yang bisa membobol apa saja Tuan. Saya yakin orang yang saya kenal bisa dengan cepat menemukan gadis yang anda cari." tawar Zila.
Dalam hati ia berkata "semoga saja Leon bisa."
" Aku sudah mencari hacker handal mana saja. Tapi aku tidak menemukannya." ujar Rafa yang sudah pasrah.
-to be continued-