Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
35. Sadar



.


.


Tepat setelah Zila menyelesaikan kalimatnya, salah satu tangan Rafa yang tidak di infus sedikit bergerak.


Rupanya Rafa sudah sadar tapi ia kesulitan membuka matanya.


Zila masih setia dengan program menangis nya jadi ia tidak menyadarinya sama sekali.


" Aku lelah. Aku ingin pulang ketemu sama orang tuaku. Aku kangen banget sama mereka. Tapi aku juga malu jika pulang bersama ketiga anakku tanpa membawa suami ku. Tapi..."


Zila menangis lebih menyayat hati mengingat keputusannya kabur dari rumah malahan mendapatkan banyak masalah.


Sudah bertahun-tahun lamanya Zila merantau dan tidak kembali ke rumah. 2 tahun yang lalu Zila tidak sengaja melihat kedua orangtuanya yang ternyata mencarinya sampai ke Jakarta.


Tapi Zila malu, ia tidak mau mengecewakan mereka. Anak gadis yang mereka besarkan dengan penuh kasih sayang ternyata punya anak tanpa suami. Mereka pasti akan sangat sedih.


Rafa langsung membuka matanya setelah berusaha keras untuk bangun.


Zila tidak melihatnya karna wajahnya menghadap ranjang dan menangis disana.


Cukup lama Rafa membuka matanya dan melihat ke arah Zila yang masih saja menangis.


Semakin lama tangisan Zila jadi tidak terdengar. Rafa tertawa melihatnya tertidur dengan posisi duduk.


" *P*asti sangat sulit untuk bernafas karna hidungnya tertutup sepenuhnya diRanjang." batin Rafa.


Rafa Kemudian melirik kearah lukanya di bahu bagian agak atas yang masih diperban.


Dengan penuh perjuangan Rafa memindahkan Zila keatas ranjang.


Kepala nya sesekali pusing karna belum pulih sepenuhnya.


Rafa berhasil menidurkan Zila diatas ranjang yang seharusnya ia pakai. Namun entah mengapa dapat dorongan dari mana Rafa ingin sekali ikut naik keatas ranjang juga.


Rafa melihat Zila yang kelihatan lelah sekali. Apakah terjadi sesuatu hari ini ?


Rafa teringat mimpinya tentang tiga anak yang mengaku sebagai anaknya di dalam mimpi. Besok saja Rafa menyelidikinya. Akhirnya Rafa ikut Zila tidur lagi.


🌷🌷🌷🌷


Rafa segera menelepon Mark namun yang menjawab selalu saja operator.


Karna kesal tidak diangkat sama sekali, Rafa menelpon Roy yang langsung dijawab.


" *I*ya, Nyonya." Jawab Roy dari seberang. Suaranya agak serak karna ia tidur kemalaman setelah mengintai Mark.


" Sejak kapan kamu memanggilku nyonya." Rafa sedikit kesal mendengar jawaban Roy.


Sejenak Roy terdiam masih mengumpulkan nyawanya.


" Roy." geram Rafa tapi suaranya masih pelan takut Zila terbangun.


Roy langsung bangun dari tidurnya dan berteriak.


" Tuan Rafa!!!!!!"


Tanpa sadar Roy mematikan telponnya dan bersiap untuk memastikan dan pergi kerumah sakit pagi itu juga, padahal masih gelap karna matahari belum menampakkan sinarnya.


Rafa menjadi tambah kesal karena panggilan dimatikan begitu saja oleh tangan kanannya.


" Tidak sopan sekali dia sama atasannya. Liat saja nanti kalau ketemu tak uleg jadiin sambel baru tau rasa." gerutu Rafa sambil memencet tombol untuk memanggil dokter karna kepalanya menjadi tambah sakit.


Tak lupa juga Rafa mengirimkan pesan pada Roy untuk membawa laptop nya.


Roy yang mendapat pesan itu langsung menyiapkan beberapa berkas kejadian yang terjadi belakangan ini.


Juga beberapa bukti yang berhasil Roy kumpulkan setelah didatangi Leon.


Roy mencari banyak data tersembunyi Zila dan hasilnya benar-benar membuatnya kaget. Roy merasa tuannya harus tau tentang hal ini.


-to be continued-


Tidak adakah yang mau meninggalkan jejak?


Aku upload banyak loh hari ini 😭


Sedih sekaliπŸ˜… atau memang tidak ada yang baca ya ? huaaa gpp. Mau aku kontrak in tapi ngga ada rekening 😭


Tapi tidak apa, tetap semangat πŸ‘πŸ‘