
Pasangan suami istri yang baru saja di mabuk cinta itu menyelesaikan mandi berduanya saat menjelang siang.
Semua itu karna Rafa meminta lagi jatahnya di sana.
Zila tidak habis fikir kenapa suaminya ini mesum sekali.
" Biar aku yang keringin sayang."
Rafa mengambil hair dryer dari tangan istrinya dan menyuruh istrinya duduk lagi di ranjang.
"*P*okoknya jangan sampai ia melihat cermin." batin Rafa dalam hati.
" Sudah kering. Tunggu saja disini. Jangan kemana-mana biar aku yang menguncir kuda kamu." pinta Rafa mencegah Zila beranjak.
" Aku bisa sendiri." ucap Zila.
" Jangan membantah ku, atau kau mau main kuda-kudaan lagi sama aku." ucap Rafa yang langsung dituruti oleh Zila.
Yang tadi saja sudah membuat nya remuk, kalau di tambah lagi Zila tidak yakin bakal bisa berjalan atau tidak.
" Hari ini di rumah saja jadi tidak perlu memakai riasan. Okey." pinta Rafa lagi.
Karna biasanya Zila akan merias wajahnya menjadi buruk rupa.
" Baiklah, suami ku." ucap Zila.
Mereka bergegas turun kebawah tapi Zila menghentikan langkahnya ketika dirinya mengingat sesuatu.
" Kenapa ?" tanya Rafa.
" Bukan kah kau sedang lupa ingatan?" tanya Zila.
" Aku sudah mengingatnya, karena itu aku langsung mencari keberadaan ayah sama ibu mertua dan membawa mereka kemari. Kau tau, aku mendapatkan amukan ayah mu." adu Rafa yang disambut gelak tawa Zila.
" Jadi luka lebam kemarin dari ayah." tanya Zila.
" Ya."
" Aku fikir luka itu kamu dapatkan ketika latihan. Kasihan sekali." ucap Zila.
Zila menc*um wajah lebam suaminya yang sedikit menghilang.
" Apapun untuk mu." ucap Rafa.
Mereka menuju meja makan dimana ada keluarga mereka berkumpul dan disana juga ada Krystal ternyata.
" Kalian berdua ini. Udah datang telat pamer juga ternyata." sarkas Krystal ketika melihat banyak tanda merah di leher Zila.
" Bisa tidak kamu jangan menyulut kan emosi ku terus." ucap Zila. Ia masih kesal di permainkan kemarin.
" Kau pasti kualahan menghadapi serigala lapar ini, kan." goda Krystal.
Zila masih terdiam mencerna apa maksud dari ucapannya.
" Pantas saja dia seganas ini. Sudah tujuh tahun lebih ia baru buka puasa." goda Krystal lagi sambil tertawa.
" Semua berkat do'a mama." ucap Zila tanpa tau kalau mamanya menyinggung tentang kejadian yang pasti terjadi tadi malam.
Rafa hanya tersenyum tengil melihat mereka, sedangkan orang tua Zila hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan menantunya yang jahil.
Karena kelihatan sekali kalau Zila tidak tau tanda merah dilehernya itu terpampang nyata.
" Mommy." teriak si kembar yang baru datang bareng pengasuh mereka.
Zila langsung memeluk mereka erat.
" Kangen mommy." ucap Leona manja.
" Mommy juga kangen sama kamu, sayang." ucap Zila sambil tersenyum melihat pipi anaknya yang tambah gembul.
" Mom, itu leher mommy kenapa ?" tanya Leo penasaran.
Leona juga memastikan dan kaget melihat leher mommynya yang merah semua.
" Mom, mommy sakit ?" tanya Leona sambil mengecek suhu tubuh ibunya.
" Tidak panas." ucap Leona.
" Hei kalian kenapa ?" tanya Zila bingung.
" Itu loh kenapa leher mommy merah semua." tanya Leona.
" Di gigit kucing, Leona." kata Krystal.
" Apa ? di kamar mommy ada kucing nya?" tanya Leona langsung menarik tangan Zila untuk melihat.
Zila menyimak obrolan mereka dan mendadak malu saat menyadari sesuatu.
Sial, dia tidak bercermin sama sekali tadi karena ulah Rafa.
" Ayo mom, kita lihat kamar mommy. Akan ku racuni kucing mana yang menggigit mommy." kata Leona murka.
Leona paling tidak suka ibunya terluka.
" Tidak bisa Leona. Kucing yang gigit mommy mu besar sekali." kata Krystal.
" Mana ada." Leona tidak mau kalah.
" Tentu saja ada."
" Mana coba buktiin. Ayo mom, ke kamar nyari kucingnya. Nanti akan aku cincang tak rebus tak kasih bumbu biar kapok." Leona ngotot.
Zila yang sudah malu langsung mengikuti Leona agar bisa melarikan diri dari sana.
-to be continued-
#sudah direvisi