
Rafa merasa bersalah melihat istrinya yang menangis sesegukan sampai kesulitan bernafas.
" Maaf kan aku.. semua berawal dari aku." ucap Rafa sambil memeluk menenangkan istrinya.
Kejadian itu terjadi hanya karena orang yang iri kepadanya. Bahkan sampai sekarang Rafa belum bisa mendapatkan dimana orang itu.
" Anak ibu." ucap ibunya Zila.
Mendengar suara ibunya Zila langsung memeluknya.
" Buk.. Maafin Zila." sesal Zila.
Ayah juga memeluk Zila dengan sayang. Orang tua mana yang tega anaknya hidup menderita sendirian.
Tentu saja mereka merasa bersalah telah membiarkan anak mereka hidup sendiri didunia yang keras ini.
" Sudahlah, semua sudah berlalu." tutur sang ayah.
" Ya ayah. Zila minta maaf ya yah. Seharusnya Zila nurut sama ayah." sesal Zila.
" Wes gak popo nduk. ( udah ngga apa apa, nak) ayo kita mulai dari awal lagi. Semua ini pasti ada hikmahnya." bijak ibu.
" Makasih bu." ucap Zila kemudian memeluk ibunya lebih kencang lagi.
" Orang dewasa memang suka sekali menangis." celutuk Leon sambil memakan ayam gorengnya.
Semua tertawa melihat gaya Leon yang kayak orang kesurupan ngga pernah makan.
Leon biasa saja ditertawakan karna memang itu maunya, ia ingin para orang tua menyudahi drama nangis mereka dan memulai pestanya.
" Mom, kemari." Leo dan Leona memanggil dari tempat dimana kue besar berada.
Kemudian semua berkumpul dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Zila.
Zila terharu mendengarnya, terakhir kali ia merayakan ulang tahun adalah bersama kedua orang tuanya.
Semenjak merantau ia tidak pernah merayakan nya lagi.
" Happy birthday to you...."
Di saat nyanyian terakhir, Zila langsung meniup lilinnya dan mencium gembul pipi Leona yang berada di dekatnya.
Ia bahagia sekali berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya.
Zila sedang berdua saja dengan Rafa. Rafa memeluk perut Zila dari belakang dengan kepala berada dibahu Zila.
" Terima kasih." ucap Zila tulus, tangannya mengelus tangan Rafa yang berada di perutnya.
Rafa mencium pipi kanan Zila.
" Aku yang berterima kasih karna kamu tidak marah padaku atas semua yang terjadi dimasa lalu."
" Apa kau sengaja melakukannya ?" tanya Zila.
" Aku juga korban." jujur Rafa.
" Lalu untuk apa aku marah. Toh memang semua bukan keinginan kita." Zila terdiam sejenak lalu berkata.
" Oh ya, mengenai wanita yang kau cari apakah wanita tadi pagi adalah orang nya ?" tanya Zila.
" Bukan."
Dahi Zila mengkerut, kalau bukan wanita itu lalu wanita yang mana ?
" Kau tidak cemburu sama sekali dengan perkataan ku tadi pagi?" tanya Rafa.
" Cemburu?" Zila bingung, apa maksudnya dengan cemburu?
" Kau ini menyebalkan sekali. Aku sengaja menelfon saudara ku, Krystal buat bikin kamu cemburu sama aku tapi ternyata sia-sia saja. Ternyata kau belum menyukai ku." tutur Rafa.
" Kau sengaja ?" Zila kaget.
" Tentu saja. Kau seperti nya belum menyukai ku, ya. Tapi tenang saja, aku akan membuat mu terpesona padaku." ucap Rafa kemudian langsung mencium bibir merah Zila yang menggoda.
Ciuman mereka makin panas saat Zila membuka mulutnya, Rafa mengapsen setiap deretan gigi dan apa saja yang ada di dalamnya. Terasa sangat Manis.
Mereka terengah-engah setelah menyelesaikan kegiatan memabukkan itu.
" Aku mencintaimu, ibu dari anak anak ku." ucap Rafa, ia mencium pelipis Zila sejenak.
Mereka saling pandang dan berbagi kehangatan.
-to be continued-