
Saat Rafa sedang sibuk mengurus berkas perusahaannya...
Tok tok tok...
" Masuk." ucap Rafa dari dalam.
" Tuan." ucap Lucas ketika sudah sampai di dalam Ruangan.
Lucas memberikan sebuah surat tersegel namun terdapat sebuah noda darah di sebelah kirinya.
" Apa ini ?" tanya Rafa.
" Tidak tau Tuan. Tadi saya mendapatkannya dari satpam saat menuju kemari." jujur Lucas.
Rafa membuka surat itu dengan cepat karna ia punya firasat tentang Zila.
Datang lah ke sekolah lama Ayah mu dan tangkap aku di sana.
Melihat isi surat itu Rafa menjadi geram. Siapa yang berani menantang nya. Awas saja nanti. Kalau tertangkap tidak akan ia biarkan mati dengan mudah.
" Lucas." ucap Rafa.
" Ya Tuan." jawab Lucas sigap.
" Segera persiapkan pasukan. Kita akan berangkat nanti malam. Seluruh pekerjaan mu biar aku yang menyelesaikannya." ucap Rafa dengan tangan terkepal.
Lucas pun segera keluar dan melaksanakan apa yang telah Tuan nya perintahkan. Lucas juga menghubungi Roy tentang surat itu.
" Kali ini aku tidak akan bersantai lagi. Kau tidak akan aku ampuni." geram Rafa.
Di rumah, Triplets di jaga oleh nenek mereka, Susi dan nenek buyut mereka yang sudah tidak sanggup berjalan.
Leon merasa aneh saat mansion mereka tiba-tiba di datangi lebih banyak pengawal. Lucas juga membuat beberapa jebakan agar tidak ada yang bisa menerobos masuk.
Kali ini Rafa benar-benar tidak mau kecolongan lagi.
" Lucas, apa yang terjadi?" tanya Leon pada Lucas.
" Tuan kecil, rencananya Tuan Rafa akan menyerang mereka malam ini. Sekolah lama Tuan Besar Arief yang sudah tidak beroperasi lagi adalah tempat duel yang mereka janjikan malam ini." ucap Lucas.
Lucas tau Tuan kecilnya ini pasti bisa membantu keamanan mansion.
Leon kemudian memasuki mansion dan mulai melakukan tugasnya.
Leona penasaran melihat kakaknya begitu bersemangat jadi ia mendekatinya.
" Apa yang sedang kakak lakukan ?" tanya Leona.
" Kau harus berhati-hati. Kelihatannya musuh ayah sudah akan bertindak nanti malam. " ucap Leon masih dengan kesibukannya.
" Benarkah kak? aku boleh ikut bertarung ?" pinta Leona.
Ia ingin sekali membantu kakak nya.
" Boleh ya." desak Leona.
" Aku ikut." sebelum Leon menjawab, sebuah suara menghentikan percakapan mereka.
" Aku ikut dengan kalian. Kita datangi mereka bersama-sama tanpa ada yang tau, bagaimana." ucap Leo yang entah sudah sejak kapan ada di tempat itu.
Leon berfikir sejenak, kalau mereka bekerja sama mereka akan menjadi kuat. Tapi...
" Ku rasa harus ada salah satu dari kita yang harus menjada mansion. Bisa saja musuh mengelabuhi daddy dan berniat menyerang mansion dimana nenek juga nenek buyut berada." usul Leon kemudian.
" Kau benar kak. Kita harus melindungi seluruh keluarga kita." ucap Leona.
Mereka terdiam sejenak.
" Aku yang akan jaga mansion. Serahkan kemanan nenek dan nenek buyut padaku." ucap Leo.
" Aku punya ide." ucap Leo lagi sambil menyuruh para kembarannya mendekat.
Leon dan Leona merasa sangat puas mendengar itu. Mereka pun melakukan aktivitas seperti biasanya tanpa ada yang curiga.
Malam harinya Rafa langsung bersiap bersama Lucas, Roy langsung ikut pulang dari luar negeri mendengar kabar itu.
Mereka belum tau sekuat apa musuh mereka, jadi Roy memutuskan ikut membantu.
-to be continued-