Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
68. Rencana Licik Zila



Pagi itu Lula sedang berbicara dengan pria bertopeng agar memundurkan jadwal penyerahan Zila pada nona Feng.


Dengan berbagai alasan akhirnya pria bertopeng itu menyetujuinya karna ia juga sibuk mengurus Leon.


Sedangkan Kenan menjaga Zila dirumah sakit. Zila saat itu menggeledah dompet milik Kenan, yang ditinggal diruangan kamarnya.


Zila sangat senang menemukan berlian berkilau yang tersimpan disana. Saat suster datang mengecek keadaanya, Zila meminta tolong.


" Ayolah, belikan aku ponsel dengan berlian itu. Itu sangat mahal dan pasti lebih. Nanti lebihnya buat kamu." desak Zila karna suster itu masih kekeuh tidak mau.


" Tapi ini terlihat sangat mahal. Bagaimana kalau nanti hilang atau..." Ucapan suster itu terhenti saat disela oleh Zila.


" Ayolah. Aku sedang dalam bahaya. Dan hanya ponsel yang bisa menolong ku." Pinta Zila dengan wajah memelas.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, dan terlihat Kenan sedang masuk sambil membawa ponselnya.


Zila menyembunyikan berlian yang didapatkannya ke dalam saku si suster.


Suster itu gemetar melihat aksi pasiennya.


Zila kemudian memberi kode agar suster itu melakukan tugasnya.


Suster itu mencoba bersikap netral, walau ia nyatanya sangat gugup.


" Kau sedang diperiksa?" Kenan bertanya sambil mendekati dimana dompet miliknya dan memasukannya dalam saku.


Suster itu pamit meninggalkan ruangan itu dengan sopan.


" Ya." Jawab Zila pelan kemudian beranjak tidur.


Kenan biasa saja saat diabaikan. Karna memang itu tidak penting baginya.


Keesokan harinya, suster itu datang lagi sambil membawa sebuah ponsel.


Zila kegirangan melihatnya.


" Nona, ini kembaliannya." ucap suster itu sambil menyondorkan banyak uang berwarna merah.


" Buat suster aja." Kata Zila, uang segitu sudah biasa dia pegang.


" Tapi, Nona. Ini banyak sekali." Suster itu masih kekeuh untuk mengembalikan uangnya.


" Kalau suster tidak mau kasihkan pada orang yang membutuhkan saja, atau mau disumbangkan kesekolah atau masjid." Kata Zila dan suster itu pun menyetujuinya.


Zila kondisinya kala itu sudah agak membaik. Kenan juga Lula, mereka bersamaan menjemput Zila dan membawanya pulang kemarkas untuk didandani.


Saat itu Lula sedang menyelesaikan administrasi rumah sakit, dan Kenan menunggunya dikamar rawat Zila.


Saat itu dimanfaatkan oleh Zila.


Zila menekan tombol merekam pada ponsel barunya, dan memulai aksinya.


" Tuan Kenan, kenapa anda disini?" Tanya Zila.


" Kemana lagi kalau bukan disini." Jawab Kenan.


" Tuan, duduk disofa sana." Kata Zila lagi.


" Kau mau aku keranjang?" Kata Kenan sedikit menggoda.


" Tidak Tuan, jangan." Kata Zila dengan nada takut.


" Hei, menurutmu seorang pria dewasa dengan wanita dewasa jika sudah berdua didalam satu kamar, apa yang akan mereka lakukan." Kata Kenan.


" Tidak Tuan. Ampun... Tuan jangan disana." Kata Zila sedikit berteriak, bahkan tak jarang Zila juga mengeluarkan suara terisak.


" Jangan munafik.. Kau pasti akan ketagihan jika sudah mencobanya bersamaku. Bahkan daun muda seperti Lula saja bertekuk lutut padaku." Kata Kenan dengan percaya diri.


" Ampun Tuan." Kini nada Zila dibuat menangis keras.


Kenan bingung dibuatnya. Kenan tidak menyentuhnya sama sekali. Bahkan masih duduk manis.


Mereka hanya berbicara tapi mengapa Zila malah histeris beneran.


" Apa dia sudah gila ?" pikir Kenan.


Zila tersenyum sinis melihat kebingungan Kenan. Yang ia rencanakan berjalan mulus.


Lula membuka pintu dengan tergesa saat mendengar teriakan Zila yang menggelegar sampai keluar ruangan.


" Apa yang terjadi?" tanya Lula bingung.


-to be continued-