Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
42. Rumah Zila



Setelah dirawat beberapa hari, akhirnya Rafa bisa keluar lagi dari rumah sakit dan sudah bisa bekerja di perusahaan.


Zila berfikir untuk membawa Rafa ke rumahnya dari pada di apartemen. Zila juga sudah meminta Roy untuk mengambil barang yang di perlukan Rafa.


Leo menggandeng tangan kanan Rafa dan disebelah kiri ada Leona. Mereka tidak sabar menunjukkan apa saja yang ada di rumah mereka.


" Ayo dad." seru mereka serempak.


Leon menatap malas ke arah mereka dan memilih mendampingi sang ibu yang masih dibelakang.


" Mom." panggil Leon pelan pada ibunya.


" Ya sayang." ucap Zila sambil merangkul pundak Leon.


" Mommy bahagia?" tanyanya. Ia menatap lekat ke arah mata ibunya, mencari kejujuran di mata indah itu.


" Tentu saja sayang, mommy seneng. Akhirnya kita bisa bersama lagi." ucap sang mommy dengan suara halusnya.


Zila tau kalau Leon pasti mengerti mengenai masalah yang terjadi diantara mereka.


" Nak, daddy kamu tidak salah. Mommy juga tidak tau apa yang terjadi, tapi mommy percaya sama daddy kalau semua yang menimpa kita bukan keinginan daddy." tutur Zila ia ingin anaknya ini tidak dendam dengan ayahnya.


Leon tidak menjawab, hanya menatap mommynya yang masih saja cantik walau jarang merawat diri.


" Aku sayang mommy." ucap Leon sambil mengambil tangan Zila yang berada di bahunya dan menciumnya.


Zila tertawa.


" Kalau besar nanti kamu pasti akan menjadi orang yang romantis, mommy jadi iri sama pujaan hati mu nanti."


" No. Wanita yang paling aku cintai nomor 1 tetaplah mommy. Ngga ada yang lain. Kalau ada yang aku cintai lagi nanti pasti akan aku jadiin nomor dua." rayu Leon sambil memeluk perut mommynya dengan manja.


" Kamu ini pinter banget gombal, mau belajar jadi play boy, ya." gemas Zila mencubit pipi gembulnya.


" Mom, sakit." Leon mengerutkan bibirnya.


Zila tertawa melihatnya, ia gemas sekali dengan anaknya.


Malam harinya, Zila terpaksa satu kamar dengan Rafa. Awalnya Zila sudah mengatur dua kamar berbeda untuk ditempati tapi Rafa selalu saja punya alasan agar bisa satu kamar dengan Zila.


" Dimana, ya hp ku." tanya Rafa yang memang belum menemukan dimana hpnya.


" Tadi ada di dekat nakas, kamu ngga mindahin?" jawab Zila.


" Seingat ku tidak."


" Mau dipakai apa ?" tanya Zila.


" Mau kabarin mama kalau aku udah pulang." kata Rafa.


" Oke pakai punya ku saja." ucap Zila.


" Tapi jangan kasih tau mama, ya. Kalau kau sudah punya anak." pinta Zila.


" Kenapa tidak boleh?" Rafa bingung.


" Kamu boleh kasih tau mama, tapi nanti kalau ingatan kamu sudah kembali."


Sejenak Rafa merasa bodoh karna ia lupa kalau sedang pura-pura lupa.


" Jadi mama tidak tau kalau aku punya anak." Rafa pura-pura bertanya.


" Ya. Dan jangan minta penjelasan padaku karna aku pun tidak tau kenapa. Malam itu terjadi begitu saja." kata Zila pasrah.


" Jadi kita tidak saling mencintai." ucap Rafa mencoba mencari tahu perasaan Zila.


" Tanya pada dirimu sendiri apakah kau mencintai ku ?" tanya Zila.


" Lalu bagaimana dengan mu, apa kau mencintai ku?" Rafa balik nanya.


Kemudian mereka tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan, tapi saling berdebat merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi mereka berdua.


-to be continued-