
Setelah menghubungi bos yang membayarnya Mark kembali melakukan aktivitas nya untuk mencuri virus yang disimpan dikomputer milik Rafa.
Roy karna sudah mendapatkan apa saja yang di inginkan si penyusup, dari data yang Leon berikan.
Roy langsung melindungi komputer pribadi Rafa dengan sandi yang sangat rumit menurutnya dan meletakkan komputer itu ditempat yang tidak akan bisa di cerna oleh akal sehat.
Ditaruh mana, kah ?
Malam harinya Zila meminta izin pada ibu mertuanya untuk pulang kerumah dulu sebelum kerumah sakit dan Susi menyetujuinya.
Zila langsung menidurkan para anaknya lebih awal dan menitipkan mereka pada pengasuhnya. Mely dan Yana.
" Mama, maaf ya Zila baru bisa kemari." sesal Zila yang terlalu sibuk mengurus perusahaan sampai lupa sama anaknya.
Untung saja ada pengasuh di samping mereka jadi Zila bisa bernafas lega dibalik rasa lelahnya.
" Tidak apa sayang. Justru mama yang minta maaf karna ngga bisa bantuin kamu di perusahaan pasti kamu repot sekali." kata Susi sedih.
" Tidak apa ma. Zila baru belajar jadi agak susah menjalankannya untung saja ada Roy yang membantu ku, Ma." kata Zila.
Bu Susi mengelus Zila dengan sayang dan segera pulang. Awalnya Susi menolaknya tapi Zila memaksa karna kasihan pasti lelah sekali menjaga Rafa seharian.
Zila sudah sendirian diruangan itu. Sorot matanya agak kesal melihat Rafa yang terbaring dengan wajah tenangnya.
" Kau ini menyebalkan sekali. Kau enak tidur. Kau itu harus tanggung jawab. Mengganti kan mu seharian sudah membuat tulang ku terasa patah semua. Kau mau aku menggantikan mu berapa hari lagi ? kamu pengen aku cepat mati ya." kesal Zila sambil menangis tersedu-sedu mengingat nasibnya yang tidak pernah baik.
Menjadi wanita mandiri ternyata butuh mental besi dan baja. Wanita mandiri harus siap menghadapi kenyataan hidup sendirian. Kalau ada masalah apapun harus dihadapi sendiri.
Walau Zila terlihat tegar, tapi ia juga wanita yang butuh pelukan dan perhatian.
Rafa tidak mendengar sama sekali karna ia masih damai dengan mimpinya dan ditemani ketiga buah hatinya.
" Hei, Rafa bangun! Rafa !" Zila menggoyang kan sedikit tangan Rafa tapi si pasien masih saja betah dalam mimpinya.
" Rafa bangun. Aku... Aku mencintaimu, Rafa. Tidak bisakah kau bangun." pinta Zila masih menangis.
Semenjak mengenal Rafa, Zila sudah terpesona dengan sifatnya yang selalu mengutamakan ibunya.
Surganya seorang istri memang dari ridho Suaminya. Tapi surganya seorang pria walau sudah beristri surganya tetap pada ibunya.
Itulah mengapa Zila bisa jatuh cinta pada Rafa yang lebih mengutamakan ibunya dari kepentingannya sendiri.
Lelaki seperti Rafa jika sudah menyayangi seseorang akan melakukan apa saja untuk melindungi orang yang disayangi nya.
\=Warning\=
•dalam cerita ini ambil baiknya saja, ya. Yang tidak patut dicontoh abaikan saja. cuma bersifat menghibur oke•
🌷🌷🌷🌷
AS Corporation.
Malam harinya Mark mencoba menerobos masuk keperusahaan. Mark sudah mempelajari luar dalam perusahaan ini jadi memasukinya seperti ini sangatlah mudah menurutnya.
Setelah meretas cctv yang akan dilalui nya, Mark langsung menerobos masuk kedalam ruang kerja Rafa dan mencari tau dimana komputer yang biasa dipakai Rafa.
Mark kemudian mencoba mencari virus yang selama ini disembunyikan oleh Rafa. Tapi Mark tidak menemukan sama sekali dimana Rafa menyimpan file itu.
Tanpa Mark sadari ternyata dari tadi ada yang mengikutinya dan membiusnya dari belakang.
Mark langsung ambruk tidak sadarkan diri. Roy yang sendari tadi mengawasinya. Ia terjun sendiri karna tidak mau terjadi kesalahan saat penangkapan Mark.
Roy kemudian mengurungnya dimarkasnya dan menunggu Rafa sadar dari komanya untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Ya, Roy diberi tau Zila kalau saat ini Rafa lagi koma makannya Roy merasa lega ternyata Tuannya masih hidup walau dalam kondisi yang memprihatinkan.
-to be continued-