
Setelah didandani dengan rupa yang begitu cantik, Zila saat ini dibawa ke hotel oleh Lula sendiri.
Mobil yang dikendarai Zila berhenti untuk mengisi bahan bakar.
" Oh.. tidak. Aku kebelet pipis." kata Zila sambil meremas roknya.
" Nanti saja." Kata Lula.
" Aku sudah tidak tahan. Nanti kamu rias aku lagi kalau aku ngompol. Memang kamu punya waktu?" Umpat Zila yang duduk dibelakang sendirian.
Lula kesal melihat wajah menjijikkan Zila.
" Cepatlah." Kata Lula kemudian.
Zila bergegas menuju toilet. Dia membuka semua pakaian yang ia kenakan dan membuangnya ke tempat sampah.
Ya, sebelum memakai gaun, Zila memakai pakaian yang sekiranya cukup untuk penyamaran saat melakukan aksinya.
Lula masih menunggunya di depan pintu.
Kamar mandi disana, dindingnya tidak terlalu tinggi dan atapnya jauh diatas sehingga memudahkan Zila kabur.
Zila memanjat dinding itu dengan cepat dan keluar melalui pintu kamar mandi di sebelah Lula.
Zila keluar dan pakaian lusuh seperti orang yang sudah tua. Lula melihatnya, namun tidak curiga sama sekali.
Zila kemudian menaiki taksi menuju kantor suaminya.
Malam itu kondisi kantor sudah sepi. Security yang melihat orang lusuh hendak memasuki perusahaan pun mencegahnya.
Zila kemudian memperlihatkan wajahnya.
" Maaf Nyonya, saya tidak tau kalau ini anda. Maafkan kelalaian saya." sesal sekurity itu.
" Tidak masalah." Ucap Zila.
Security itu memutuskan untuk mengantar Zila dengan selamat sampai ruangan CEO berada.
Roy yang berada di meja sekertaris sangat terkejut melihat istri majikan tiba-tiba datang.
" Nyonya.' Roy pun bergegas menyapanya.
" Ya, Roy." Zila menjawab sambil tersenyum kecil.
Zila kemudian memasuki ruangan Rafa tanpa mengetuk pintu dahulu.
Rafa sangat kesal saat mendengar suara pintu terbuka, itu mengganggu konsentrasinya yang saat itu masih sibuk menuntaskan berkas yang selama ini terbengkalai.
" Roy kau mau mati!" Kesal Rafa.
" Roy!" Rafa semakin kesal saat pertanyaannya tidak ditanggapi.
Namun mendadak dirinya membeku seketika saat melihat istrinya.
" Zila!" Teriaknya.
" Kau tidak merindukan ku ?" Tanya Zila yang sudah duduk disofa.
Tanpa menunggu, Rafa langsung menerjangnya. Rafa mencium seluruh wajahnya.
Dia mendekap istrinya erat seakan tidak mau terpisahkan lagi.
" Aku merindukan mu... Aku rindu..." Rafa menangis. Dia tidak mau dipisahkan lagi dengan Zila.
" Maafkan aku. Seharusnya aku bisa menemukan mu lebih cepat." Ucap Rafa dengan terisak.
Dia merasa gagal. Karena dirinya. Semua ini berawal dari kejeniusan ayahnya yang menurun padanya.
" Jangan menyalahkan diri mu sendiri. Tujuan mereka memang menghancurkan mental ku, dan membuat mu merasa tidak berguna." Kata Zila memberi pengertian.
Zila masih mengelus rambut Rafa yang bersandar dibahunya.
Rafa masih saja setia sesegukan disana. Bahkan ingusnya menempel dibaju lusuh Zila.
" Kau menjijikkan." gerutu Zila.
" Biarin." kata Rafa sambil mendengus.
Setelah memastikan kalau suaminya sudah lebih baik, Zila menyalakan televisi.
'*HOT NEWS'
Pemirsa, malam ini telah terjadi penangkapan masal pada sekelompok pencuri kelas kakap yang sudah lama beroperasi. Organisasi meresahkan masyarakat ini berinisial 'WW' yang diketuai oleh Mr K dan Miss L*.
Zila tersenyum puas melihat berita itu. Semuanya berjalan dengan lancar.
Rafa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Apakah itu semua ulah mu ?" tanya Rafa sambil membawa Zila kepangkuanya.
" Hm.... Mereka memang licik. Tapi aku lebih licik dari mereka." Ucap Zila penuh kemenangan.
" Bagaimana cara kau menangkap mereka?" Taya Rafa lagi.
-to be continued-