Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
37. Pura pura tidur



Walaupun Zila sudah menerapkan pada dirinya kalau tidak terjadi apa-apa. Tapi tetap saja ia malu dengan kelakuannya tadi malam dimana ia tertidur memeluk Rafa.


Saat ibu mertuanya datang Zila langsung pulang meninggalkan Ruangan itu.


" Mama." panggil Rafa pada Susi setelah kepergian Zila.


" Oh ya tuhan.. Kau sudah sadar, nak." Susi senang bukan main dan berniat menghubungi dokter.


" Dokter sudah mengecek kondisi ku, ma. Tapi mama jangan bilang Zila dulu, ya kalau aku sudah sadar." Pinta Rafa.


" Nanti saja kalau Zila pulang. Aku sudah menyuruh Roy untuk meringankan pekerjaan Zila hari ini. Nanti siang saat makan siang aku akan memberinya kejutan." kata Rafa meyakinkan.


" So sweet banget. Mama jadi inget masa muda mama sama papa dulu, nak." ucap Susi yang berlanjut menjadi curhat kisah asmaranya pada anaknya.


Rafa sangat ingat sekali bagaimana kisah kedua orangtuanya karna saking seringnya Susi bercerita pada Rafa.


Siangnya karna tidak ada pekerjaan, Zila menjemput ketiga anaknya sendiri sebelum kembali kerumah sakit.


" Mama." Zila menyalami ibu mertuanya setelah sampai dirumah sakit.


" Rafa belum sadar ya, ma." ucap Zila sambil mendesah pelan.


" Iya sayang. Kenapa ?" tanya ibu mertuanya.


" Bukan apa-apa ma. Dulu saat pertama kali Zila ke Jakarta Zila meyakinkan diri sendiri kalau Zila pasti bisa sukses dan merintis perusahaan sendiri walau harus diawali dari bekerja bersama orang lain dulu." Zila menjeda sejenak kalimatnya kemudian melanjutkan.


" Tapi setelah mengganti kan Suamiku dua setengah hari Zila berubah pikiran, ma." tutur Zila.


" Kenapa sayang." tanya ibu mertuanya.


Susi tertawa mendengarnya dan melirik Rafa yang pura-pura tidur.


" Tapi banyak uang yang diperoleh loh, sayang." kata Susi.


" Lebih seru lagi kegiatan Zila, ma. Pekerjaan Zila membuat Zila sering berinteraksi dengan banyak orang, tapi dikantor yang bisa Zila ajak interaksi hanya kertas yang tidak bernyawa. Itu tidak menyenangkan sama sekali." keluh Zila.


" Mau bagaimana lagi Zila, Suami mu belum mau bangun. Kamu harus melakukan cara apa saja agar dia sadar, kata dokter harus diberi motivasi terus biar cepat bangun." dusta Susi yang langsung dipercayai oleh Zila.


" Kau sudah makan siang, nak." Tanya Susi karena ia berniat mau membeli makanan di luar.


" Sudah tadi bareng sama ketiga a..." Zila menghentikan perkataanya saat menyadari ia hampir saja mengatakan keberadaan ketiga anaknya.


" Ketiga apa, nak ?" tanya Susi lagi.


" Ekm. Itu loh ma. Tadi aku mampir ke Cafe dan makan bareng karyawan ku." kata Zila jujur tapi tidak sepenuhnya.


Zila memang mampir di Cafe menemui karyawan kepercayaannya dan mengajaknya makan bersama ketiga anaknya sambil membahas stok bahan yang sudah habis diCafe.


Susi percaya saja dan meninggalkan Zila.


Sedangkan Rafa hanya mendengarkan percakapan mereka dalam diam. Ia masih pura pura tidur.


" Tuan enak sekali ya cuma diam saja. Tuan, saya lelah sekali tuan. Tuan tahu sendiri bukan kalau saya punya anak tiga. Tapi kenapa anda juga membebankan perkejaan anda pada saya. Besok hari Minggu Tuan. Tiap hari minggu anak-anak saya bakal minta bermain keluar rumah. Alasan apa yang tepat, yang harus saya katakan pada mereka ?" keluh Zila tanpa tau kalau perkataannya itu di dengar oleh Rafa.


-to be continued-