
" Siapa yang melakukan ini padamu, dad?" tanya Leon.
" Organisasi yang membuat ku masuk rumah sakit itu sama dengan orang yang menjebak ku malam itu juga Zila." kata Rafa.
" Kau belum menemukan markasnya sampai sekarang?" tanya Leon.
" Sulit sekali melacak keberadaan mereka." gerutu Rafa.
" Siapa mereka dad ?" tanya Leon.
" Wolf Wild. Anggota mereka adalah pencuri terlatih yang menyebar di beberapa kota. Dan aku kesulitan menemukan pusat berkumpul mereka." ucap Rafa.
" Dad, kau harus menaklukkan mereka dan menjadikan mereka anggota mu." pinta Leon.
" Kau ingin menjadikan mereka anak buah mu ?" tanya Rafa.
" Tidak dad. Hanya saja mereka pasti punya alasan mengapa mereka bisa bergabung dengan orang organisasi yang meresahkan masyarakat. Kalau di antara mereka ada yang terpaksa melakukannya daddy harus menolongnya." Leon meminta pada ayah nya.
" Kau memiliki jiwa sosial yang tinggi. Daddy bangga pada mu. Suatu saat nanti kau pasti akan menjadi pemimpin yang berjiwa besar. Semua orang akan menyayangi mu." ucap Rafa.
" No. Aku tidak mau menjadi pemimpin perusahaan." ucap Leon.
" Kenapa ?" tanya Rafa. Padahal ia berencana mengangkat Leon sebagai penggantinya.
Selain jenius, Leon juga anak pertama jadi ia pantas mendapatkannya.
" No dad. Aku tidak suka bekerja. Aku lebih suka bermain." jujur Leon.
" Bermain saham ?" tanya Rafa karna ia pernah di beri tau Leon.
" Ya. Ada empat macam orang di dunia ini.
orang yang banyak waktu dan tidak punya uang. Siapa mereka ? Pengangguran.
orang tidak punya waktu dan banyak uang. Siapa mereka ? pengusaha dan para eksekutif.
orang yang tidak punya waktu dan tidak punya uang. siapa mereka? mereka adalah para karyawan yang gajinya kecil. Setiap habis bulan uangnya habis. Begitu terus tiap hari. Orang Indonesia banyak yang kayak gitu.
orang yang punya banyak waktu dan punya banyak uang. Siapa mereka ? mereka adalah sleeping Investor. Mereka ngga ada kerjaan. Iya kan dad ?
Rafa tidak menyangka ia akan di ceramahi sama anaknya kayak gini.
Pasalnya Rafa jarang punya waktu sama keluarga karna kesibukannya berkencan dengan berkas perusahaan.
" Kau menyindir daddy." tanya Rafa.
Leon mengangkat bahunya ke atas dan berkata.
" Kalau daddy merasa sih. Waktu kami sudah terbuang banyak tanpa daddy."
" Maafkan daddy." sesal Rafa. Ia berniat memeluk Leon tapi langsung dicegah oleh si pemilik tubuh.
" Jangan dekati aku dad. Kau bau." galak Leon.
" Kau ini pilih kasih sekali. Jangan hanya manja pada mommy mu. Sesekali kau harus bermanja pada ku." kesal Rafa.
" Kau ini cemburuan sekali. Dasar orang dewasa." gerutu Leon.
" Hei. Kau fikir kau anak - anak huh?" sungut Rafa.
" Tentu saja. Seluruh dunia mengakui kalau aku masih kecil." kata Leon.
" Kau tidak mencerminkan sikap anak kecil sedikit pun." sarkas Rafa.
" Tapi aku masih kecil." ucap Leon dengan mode imutnya.
Rafa tergelak melihatnya.
" Maka bersikap lah seperti anak kecil." ucap Rafa.
" Aku bersikap dewasa karna keadaan, dan sulit sekali mengubah kepribadian ku yang sudah seperti ini." kesal Leon.
Dalam hati Rafa merasa bersalah tapi ia menepis nya, tidak mau membuat anak sulungnya ini tambah sedih.
Di bangku depan Roy menggerutu dalam hati.
" *N*ormal nya orang kalau kehilangan ibu atau istri mereka, mereka pasti akan kalang kabut dan panik. Namun keluarga Sarfaraz berbeda. Mereka masih bisa mengobrol seakan tidak terjadi apa-apa."
.
.
.
.
-to be continued-